Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Suroan; Berebut Air Suci, Selamatan, hingga Cukur Gundul

Ali Sodiqin • Senin, 2 September 2019 | 23:59 WIB
tradisi-suroan-berebut-air-suci-selamatan-hingga-cukur-gundul
tradisi-suroan-berebut-air-suci-selamatan-hingga-cukur-gundul

JawaPos.com - Tradisi menyambut Tahun Baru Hijriyah menggema sampai ke pelosok desa. Beragam kegiatan digelar. Ada yang menggelar pawai obor keliling kampung, selamatan, hingga jamasan pusaka.

Tempat-tempat yang dianggap sakral jadi jujugan warga untuk ngalap berkah. Seperti di Gua Istana Alaspurwo dan sumber air tawar di Pantai Watudodol. Tepat pukul 00.00, warga mendatangi tempat tersebut untuk melakukan ritual suci. Mereka meyakini, ritual tersebut bisa melepaskan dari segala kesulitan hidup dan diberi kelancaran rezeki.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Minggu (1/9) pukul 00.00, puluhan orang dari berbagai daerah ngalap berkah Bulan Suro di Pantai Watudodol, tepatnya di sebelah utara Patung Gandrung. Ada yang mandi kembang, sekadar membasuh muka, dan minum air tawar tersebut.

Sekadar tahu, ada dua sumber air tawar di tempat tersebut. Pancaran airnya cukup deras. Air tersebut mengalir ke laut. Tahun lalu, setiap awal Bulan Suro, warga berbondong-bondong datang ke sana untuk ritual masal. Sayang, tahun ini ritual dengan mandi masal yang dipimpin tokoh masyarakat setempat tidak ada lagi.

Yang terlihat hanya beberapa orang yang  datang. Begitu sampai sumber air, mereka langsung mandi. Ada yang berendam lama, ada pula yang sekadar mengambil air dimasukkan botol lalu dibawa pulang. ”Kami rombongan dari Srono. Tiap tahun, kami mandi di sumber air tersebut. Airnya bening dan segar,’’ ujar seorang pria asal Srono yang tidak mau disebut namanya.

Pondok Pesantren Tsamaroturroudloh di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari juga memiliki tradisi unik.  Setiap malam Suro atau 1 Muharram, santri ramai-ramai menggunduli rambutnya. Tradisi ini tidak hanya diikuiti santri setempat, namun dari pesantren lain.

Warga yang ikut cukur gundul juga diperkenankan. Kemarin malam (1/9), tradisi ini kembali dilakukan dan diikuti sekitar 200 orang. Sebelum proses penggundulan dimulai, mereka menjalani serangkaian kegiatan doa bersama. Ada  doa akhir dan awal tahun. Kemudian prosesi pencukuran dilakukan seperti pada umumnya.  Yang membedakan, setelah ritual cukur gundul tuntas, mereka makan bersama di nampan ala santri.

Terkait ritual ini, Mudzakir Salim, kerabat ndalem yang juga keponakan pendiri pesantren, alm. KH. Nuruddin Qosim inimenjelaskan, penekanan saat ini berbeda dengan saat era pendiri masih hidup. Saat ini penerapan gundulan dan puasa ini lebih pada kebersihan hati dan pikiran.     Mengingat saat ini ancaman justru banyak berupa fitnah dan kabar burung yang bersifat mengadu domba. Hal ini berbeda jika gundulan zaman dulu memang juga mengarah pada kemampuan kanuragan. “Kalau dulu ya dicoba (dites kanuragan), sekarang mantapkan hati dan ketauhidan,” ucap pria yang akrab disapa Gus Dzakir ini.

Dia menambahkan, usai gundul masal, santri  menjalani puasa. Jadwal pelaksanaan puasa boleh  dibilang unik. Pada minggu pertama, kedua, dan ketiga mereka berpuasa pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Selanjutnya pada Minggu keempat mereka mulai  menjalani puasa pada Ahad, Senin, Selasa dan Rabu. “Puasanya biasa, tidak mutih,” ungkapnya.

Apa makna penggundulan ini? Dzakir menjelaskan, tradisi ini untuk menekan ego diri. Zaman dulu orang yang rambutnya panjang mengarah pada perangai sok-sokan. Padahal, kalangan santri sehari-hari dibiasakan untuk rendah hati kepada semua orang, terlebih mereka merupakan para penuntut ilmu. “Santri kan tidak boleh sombong, jadi digundul,” tegasnya. 

Zainuri, 20, santri asal Sumatera mengungkapkan, tradisi ini menjadi salah satu pengalaman mereka di pesantren. Hal ini tidak lain karena tradisi suroan di masing-masing tempat berbeda. Dia berharap kegiatan ini bisa menjadi awal yang baik untuk kehidupan dan kegiatan belajarnya selama setahun ke depan. ”Ini kan tahun baru, Kita senang mengikuti adat dan tradisi di  pesantren,” ucapnya.

Editor : Ali Sodiqin
#suroan #banyuwangi