Rezeki tak bakal ke mana. Meski berjualan di dalam gang di tengah perkampungan, Endri Susiani, 52, pedagang martabak telur mini di Desa/Kecamatan Rogojampi ini tetap eksis. Banyak keunikan dari layanan jajanan tersebut.
DEDY JUMHARDIYANTO, Rogojampi
SEORANG ibu duduk di kursi kayu setinggi 30 sentimeter. Persis di hadapannya terdapat dua kompor lengkap dengan dua wajan penggorengan berukuran sedang.
Tangan kirinya memegang wadah plastik berisi adonan yang sudah dicampur dengan telur kemudian dituang ke atas wajan. Disusul tangan kanannya mengambil irus berukuran kecil dan meratakan permukaan adonan di atas wajan. Setelah rata, kembali diambil sutil dan dilumerkan minyak goreng keliling wajan dan membalikkan adonan yang sudah mulai mengering.
Jika adonan martabak sudah mulai mengering barulah diangkat menggunakan sutil ke atas piring dan siap disajikan bersama dengan bumbu sambal. Tak lupa mie bihun juga disajikan untuk menambah cita rasa lebih nikmat.
Aktivitas itulah yang dilakoni Endri Susiani sejak 22 tahun silam sebagai pedagang martabak telur. Tempat dagangannya berada persis di depan kediamannya di Gang Sawo, Dusun Maduran Desa/Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
Martabak telur dagangan Endri tak sama seperti martabak telur pada umumnya, meskipun sama-sama berbahan dasar telur. Martabak yang dibuat Endri mirip seperti kerak telur. Hanya saja dalam pembuatannya menggunakan adonan cair dicampur mi bihun dan sambal yang cita rasanya khas dibanding bumbu sambal lainnya.
Endri mengaku jika awalnya dia hanya iseng berjualan martabak tersebut untuk melayani anak-anak kecil di sekitar lingkungannya. ”Dulu saya jual harga telur masih Rp 250 per kilogram,” ungkapnya.
Keisengan itu justru berbuah rezeki yang tak pernah disangka-sangka. Martabak dagangannya yang awalnya dikonsumsi anak-anak justru mulai banyak dikonsumsi para remaja, terutama remaja putri. Sejak itulah, dia mulai berpikir ulang dengan menyajikan sambal yang beda. ”Awalnya tidak terlalu pedas, karena memang awalnya untuk anak-anak,” ujar Endri.
Martabak buatannya itu awalnya juga hanya dua jenis saja, yakni adonan tepung beras yang dicampur dengan telur ayam ras yang kemudian didadar atau diceplok. Namun, atas permintaan para pembeli, dia diminta membuat martabak dengan kreasi yang berbeda. Atas permintaan pelanggan itulah, dia kemudian mencoba dan berkreasi.
Di luar dugaan, dengan adonan yang sama. Dia berhasil membuat kreasi martabak menjadi 20 varian yang diberi nama berbeda-beda seperti dadar ceplok (darplok), dadar jembar (darjem,) dadar lepit atau lipat (darpit), madu garing, darplok teles, cemul, bidar, cering, plokringpur, daringpur, cepur, dan bipur.
Masing-masing kreasi martabak telur buatannya ada yang menggunakan satu buah telur ada juga yang dua telur sekaligus. Jika sudah matang, martabak dilumuri dengan bumbu sambal khas yang bikin ketagihan. Meski pedas, tapi rasanya tetap saja ingin tambah terus.
Karena para penikmat dan pembeli dagangannya adalah sebagian besar para remaja, Endri juga menyesuaikan penampilannya agar tampak lebih muda. Setiap kali berjualan, dia tak lupa merias wajahnya. Bahkan, agar tampak lebih muda, penampilannya juga disesuaikan ala-ala remaja anak baru gede (ABG). Misalnya rambutnya di-rebonding dan dicat (semir).
Yang lebih menarik, setiap kali baru datang dan hendak pulang. Seolah seperti dikomando, para pelanggannya selalu mencium pipi kanan dan pipi kirinya. Pantas saja, jika dia harus berpenampilan rapi dan bersih. ”Kalau kita bersih dan melayani dengan baik, pasti pembeli akan datang lagi,” ujar ibu dua anak ini.
Endri menambahkan, dalam sehari, dia bisa menghabiskan 10 kg telur ayam. Jumlah itu sudah cukup menurun dibanding sepuluh tahun silam. Hal itu diduga lantaran pedagang martabak yang sama sudah banyak menjamur di Rogojampi.
Dia sangat bersyukur, meskipun tempat dagangannya berada di gang tengah perkampungan, tapi masih banyak didatangi pembeli. Apalagi seiring adanya kecanggihan teknologi. Martabak dagangannya makin ramai. Bahkan dia juga tidak pernah menyangka, jika pelanggannya datang dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Mereka datang dari wilayah Pesanggaran, Kalibaru, Genteng, Glenmore, hingga Muncar dan Wongsorejo yang jaraknya puluhan kilometer.
Bahkan, ada juga pembeli dari Kabupaten Jember, Bondowoso, Lumajang, yang rela datang jauh-jauh hanya untuk menikmati martabak buatannya. Apalagi, kini juga bisa dipesan dan diantar langsung. ”Ndak tahu mereka ini tahu dari mana, saya juga tidak pasang papan nama dan tidak pernah upload di medsos,” ujarnya keheranan.
Shifa, salah seorang pembeli dari Kecamatan Genteng mengaku, dia baru kali pertama datang ke martabak Mami Endri tersebut. Dia mengetahui lokasi tersebut diajak salah seorang teman yang pernah datang ke tempat tersebut. ”Martabaknya enak, di Genteng ada, sama seperti ini, tapi rasanya tidak seenak ini,” ungkap siswi SMAN 1 Genteng ini.
Selain cita rasa masakannya, yang khas dan yang cukup membuat ketagihan adalah bumbu saus lomboknya yang tidak sama dengan di wilayah lain. ”Mami Endri ini orangnya ramah kepada siapa pun, baik pelanggan lama maupun pelanggan baru. Jadi kita ini enak ngobrolnya, tidak canggung,” tandasnya.