Banyuwangi International BMX 2018 memasuki tahun keempat. Para pedagang yang selalu berjualan di sekitar sirkuit BMX Muncar sudah semakin terbiasa dengan iklim balapan BMX yang kerap kali digelar di sirkuit tersebut. Bagaimana pendapat mereka tentang event berkelas internasional tersebut?
Tak ada warung di sekitar sirkuit BMX Muncar yang terlihat sepi ketika Banyuwangi International BMX digelar. Hampir semua warung penuh dengan pembeli. Baik warung nasi, warung bakso, warung rujak, warung es tebu, warung es dawet hingga kios-kios pakaian semua diisi pembeli.
Bahkan pembeli yang sedang bertransaksi di warung-warung makan terlihat sangat bersantai dan menikmati waktu berkuliner di warung-warung tersebut.
Pujiyatun, 50, salah seorang pemilik warung mengatakan, dirinya sudah berjualan selama empat edisi di event BMX. Selama itu juga sudah ada banyak orang yang menjadi pelanggannya. Karena itu tak heran jika kemudian orang-orang yang datang tidak canggung ketika akan makan atau sekedar ngopi di warungnya. Puji menjual menu-menu lokal. Seperti nasi pecel, rawon, soto, nasi goreng dan mie goreng.
Siapapun yang membeli makanan di warungnya juga selalu berusaha dilayaninya dengan ramah. Baik itu warga lokal Banyuwangi, warga luar kota sampai luar negeri Puji mengaku tidak membeda-bedakanya. “Saya jualan sudah dari BMX yang pertama.
Kalau hari-hari biasa saya jualan di depan Balai Desa Kedungrejo. Daganganya ya sama dengan ini,” ujar Ibu satu anak itu.
Hal lain yang selalu berusaha dipegang oleh Puji selain bersikap ramah yaitu menjual makanan dengan harga wajar. Dia mencontohkan nasi rawon yang hari biasa dijualnya Rp 10 ribu per porsi juga tetap dijualnya sama di event BMX. Puji mengaku tak mau menggunakan aji mumpung untuk menaikan harga makanan.
Sebab, dia melihat ada banyak orang yang kemudian menjadi langganannya. Jadi setiap ada even selalu kembali makan di warung miliknya. “Saya berjualan nasi seperti ini sudah lama, ada 30 tahunan warisan dari ibu. Harganya tidak pernah saya naikan. Sama saja, mau yang beli orang biasa atau orang yang ngomongnya Yes no, Yes no itu kalau beli rawon ya sepuluh ribu,” kata pemilik warung Katun itu.
Dia pun berharap, event semacam ini bisa digelar lebih sering di Muncar. Karena dalam seminggu ketika ada event BMX dirinya bisa memperoleh laba hingga Rp 2 juta. Apalagi jika even semacam ini sering digelar. Puji membayangkan dirinya bisa segera naik haji karena penghasilanya sudah jelas dan cukup banyak. “Ya kalau bisa sering-sering. Sekarang saya juga sudah bisa delivery order, yang pesan ya pembalap sama tim yang dari luar. Saya ditelpon terus makanan saya antar ke homestay. Ada kemajuan,” ungkapnya.
Pedagang lainya Rismi, 35, menambahkan mulai merasa terbiasa dengan adanya event BMX di Muncar. Selain warungnya selalu ramai, dia juga menilai para pembeli di even ini terkesan baik dan tidak pernah rewel. Meskipun dalam seminggu pendapatanya tidak sebesar pendapatan Pujiyatun, namun Rismi mengaku cukup senang dengan banyaknya pembeli yang datang kepadanya.
“Saya juga menjual makanan dengan harga biasanya. Rujak tetap enam ribuan, dawet juga tetap tiga ribuan, air mineral yang biasanya dijual orang waktu ada tontonan enam ribuan tetap saya jual tiga ribuan. Yang penting orang betah dan senang,” ungkap Rismi.
Sama seperti Pujiyatun, Rismi juga berharap acara semacam ini bisa sering digelar di wilayah Muncar. Tidak semata agar mendapatkan penghasilan lebih, wanita bertubuh subur itu mengaku ingin memperoleh banyak pelanggan dan banyak kenalan untuk menambah saudara.
Editor : Rahman Bayu Saksono