Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ada Tema Barong Oseng hingga Ubo Rampe

Rahman Bayu Saksono • Jumat, 29 Juni 2018 | 02:00 WIB
ada-tema-barong-oseng-hingga-ubo-rampe
ada-tema-barong-oseng-hingga-ubo-rampe


Berbagai macam cara dilakukan Panitia Pemungutan Suara (PPS) agar bisa membuat masyarakat bersemangat menggunakan hak pilihnya menuju TPS. Salah satunya dengan menghias dan menempatkan TPS di tempat yang berbeda dengan TPS umumnya.



Musik  bernuansa gamelan Banyuwangi terdengar cukup rancak di salah satu sudut gang di Kelurahan Singonegaran. Rupanya, TPS 9 Singonegaran tengah me­ngundang warga sekitar untuk datang menggunakan hak suaranya.



Tak hanya musik khas tradisi Oseng, hampir seluruh PPS yang ada juga menggunakan pakaian kesenian jaranan. Kemudian, hampir seluruh ornamen yang ada, mulai pintu masuk TPS hingga di dalam TPS semuanya bernuansa barong. Hal ini membuat orang yang masuk ke dalam TPS seolah berada di sebuah sanggar seni atau galeri seni.



Taufikurohman, Ketua TPS 9 Singonegaran mengaku, sengaja mengemas TPS-nya dengan tema barong meski untuk membuat nuansa tersebut dia bersama anggota PPS lainnya harus bergadang sampai tengah malam karena harus memasang beberapa kepala barong dan penutup untuk TPS. ”Kebetulan di sini ada tiga kesenian barong. Jadi ini sekaligus menunjukkan kepada masyarakat tentang eksistensi mereka. Selain itu, ini kita lakukan juga untuk membuat masyarakat bersemangat menggunakan hak pilihnya, karena ini juga untuk menentukan masa depan kita,” jelas Taufik.



Tak sia-sia, TPS yang dikemasnya dengan ornamen berupa kepala-kepala barong itu menarik perhatian para tokoh di Banyuwangi. Bahkan Bupati Anas, Kapolres, dan Camat Banyuwangi sampai datang untuk melihat keunikan TPS tersebut. ”Tahun kemarin kita juga gunakan tema Barong dan Jebeng Thulik, tapi belum selengkap ini. Tahun ini sudah lu­mayan lengkap. Alhamdulillah, hampir semua DPT menggunakan hak pilihnya,” kata Taufik



Nuansa TPS yang tampil beda juga terlihat di TPS 07, Kelurahan Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi. Warga mengemas TPS tersebut dengan cara unik. Bermacam buah-buahan dan hasil bumi lainnya tampak dipajang hampir di seluruh sudut TPS. Di depan pintu masuk TPS juga dipasangi sebuah patung selamat datang untuk menyambut para warga yang hendak memilih calon gubernur mereka.



Sedangkan di bagian dalam, berbagai jenis buah seperti jambu air, pisang, ubi, dan singkong digantungkan di atas TPS. Agus Salim, salah satu petugas TPS mengatakan jika tempat pemilihan yang dijaganya memang sengaja dibuat unik.



Hampir seluruh sudut diberi hiasan berupa buah-buahan dan sayur asli yang mirip ubo rampe yang dikumpulkan dari tanaman milik warga sekitar. Agus mengatakan konsep ini sengaja dibawa untuk mengingatkan masyarakat jika Banyuwangi adalah kabupaten yang memiliki banyak hasil bumi mulai dari buah-buahan seperti jeruk, pisang, jambu, manggis, dan lain sebagainya.



Selain itu, buah-buahan itu juga diharapkan bisa membuat siapa pun gubernur yang terpilih memperhatikan buah-buahan Banyuwangi. ”Selama ini meski buah kita melimpah, tapi masih ada saja buah impor yang datang ke sini. Jadi harapan kita siapa pun yang terpilih bisa memperhatikan buah-buahan kita,” jelasnya.



Selain TPS yang dihias berbeda, ada juga beberapa TPS yang diletakkan di lokasi yang tidak seperti biasanya. Seperti TPS 12 Karangrejo. Lokasi TPS yang berada tidak jauh dari Pantai Syariah itu ditempatkan di salah satu bengkel las bubut.



Setelah itu di dalamnya juga ditata beberapa jenis gamelan seperti gong dan angklung. ”Sengaja di taruh di sini, supaya nuansanya berbeda. Kalau di lapangan atau tempat terbuka kan sudah biasa,” ujar Ali Wafa, salah seorang PPS.



Hal yang sama juga terlihat di TPS 2 Jambesari. TPS dengan 437 DPT itu diletakkan di dalam ruang kelas sekolah dasar. ”Kalau di sini sudah bertahun-tahun. Jadi tidak pernah pindah. TPS ini juga paling besar DPT-nya. Daripada pindah lalu orang-orang tidak mau milih, kan repot. Kalau di sini kan sejuk. Pemilih jadi nyaman,” tandasnya.



Editor : Rahman Bayu Saksono
#banyuwangi