Kenangan 25 tahun lalu lepas dari bangku sekolah tampak di wajah puluhan peserta reuni SMAN 2 Banyuwangi (Smada). Bertempat di Rumah Budaya Oseng (RBO) Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, mereka menumpahkan seluruh kerinduan dengan bertatap muka langsung. Lebih dari dua jam, alumni angkatan 1993 ini pun larut dalam romantisme cerita klasik masa lalu.
GERDA SUKARNO PRAYUDHA, Glagah
TARI jejer gandrung menjadi satu dari sekian banyak rangkaian acara temu kangen yang dilaksanakan di rumah Oseng milik warga setempat. Dua penari kemudian memperagakan tari selamat datang yang diiringi dengan musik dari penabuh gamelan. Tari itu spontanitas menarik perhatian puluhan peserta reuni.
Menggunakan handphone, mereka seolah berebut mengabadikan momen tersebut. Beberapa di antaranya juga turut berburu momen foto penari gandrung dengan kamera DSLR. Selepas mempertontonkan tari ikon Banyuwangi, penari pun mengajak sejumlah peserta untuk ikut menarik bersama.
Di sinilah, keriuhan kembali pecah. Ada yang malu-malu untuk menerima ajakan menari lewat sampur yang dilemparkan oleh penari. Bahkan aksi saling dorongan untuk menari pun harus dilakukan untuk menerima tantangan menari penari gandrung. Sebagian lagi bahkan tidak sungkan lagi menari bersama iringan musik.
Meski hampir seluruhnya asli Banyuwangi, menari gandrung rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Gerakan tubuh kaki dan tangan yang mirip tapi break dance hingga memodifikasi gerakan asal joget menjadi pemandangan yang cukup menghibur. Buktinya, tepuk tangan membahana selepas mereka menari.
Keberanian peserta reuni untuk tampil menari dengan kemampuan seadanya menjadi nilai lebih. Boleh jadi ini menjadi salah satu keseruan dalam reuni alumni Smada angkatan 1993 kali ini. Dengan mengusung konsep masyarakat Oseng sebagai ikon identitas kegiatan. Melalui kegiatan ini mereka berharap tetap bisa mengusung dan memperkenalkan budaya asli Banyuwangi lebih luas lagi.
Bagi pria semua wajib mengenakan udeng. Sedangkan, kaum hawanya berbusana bebas. Urusan makanan, semua merupakan kuliner Suku Oseng mulai kucur, serabi, pecel pitik, sego tempong, rujak soto, hingga rujak kecut. Ini menjadi penawar kerinduan bagi peserta yang ikut ambil bagian dalam reuni kali ini.
Terlebih lagi, sebagian besar peserta reuni bermukim di luar Banyuwangi. Mereka merantau ke sejumlah kota mulai Jakarta, Bekasi, Surabaya, hingga Makasar. Mereka kini memiliki latar belakang profesi dan runtinitas mulai ibu rumah tangga, pegawai negeri sipil, tim sukses calon gubernur, politikus, jurnalis,hingga pengusaha. “Dimana pun aktivitas dan bekerjanya. Identitas Oseng dan Banyuwanginya harus tetap harus ada dalam hati,” ujar Ketua panitia Pupung Hariyadi.
Selain tari gandrung yang menjadi obat kangen atas tanah kelahiran. Pertemuan dalam reuni perak alumni Smada 1993 ini juga menjadi ajang mengenang masa masa sekolah. Beberapa guru pun berkesempatan hadir bercengkrama langsung dengan mantan anak didiknya. “Banyuwangi ngangeni. Setiap tahun musti pulang,” beber Anas Djaunuri salah satu peserta reuni.
Anas yang kini merupakan Service Manager di Auto 2000 Jakarta ini cukup senang bertemu langsung dengan teman sekolahnya. Alumni Universitas Muhammadiyah Malang ini sangat kangen dengan ragam kuliner khas Bumi Blambangan. Rujak Soto, Pecel Pitik, hingga Jangan Kelor menjadi menu incarannya saat mudik.
“Rujak Soto, Pecel Pitik, Jangan Kelor itu jadi pembunuh rindu pas pulang ke Banyuwangi. Di Jakarta nggak ada,” kata bapak tiga putri ini.
Merantau sejak 1999 di ibu kota, Anas manyatakan kegagumannya atas kondisi Banyuwangi saat ini. Perwajahan tanah kelahirannya kini sudah banyak berubah terutama saat masih duduk di bangku sekolah dulu. “Kini ada pesawat dan banyak hotel. Jadi lebih mudah ke Banyuwangi,” serunya.
Berkumpul dengan teman semasa sekolah, dirasakan semakin pas dengan suguhan menu incarannya saat di Jakarta. Semua kenangan masa sekolah menjadi tergambar jelas lagi saat berkumpul seperti reuni ini. Kenangan yang tidak bisa terlupakan diantaranya seputar keseriusan melaksanakan kegiatan sekolah.
Efek kegiatan sekolah membuat jam belajar di kelas menjadi berkurang. Imbasnya persentase kehadiran bisa dibilang hanya sekitar 30 persen saja. Namun dorongan guru untuk mensukseskan kegiatan sangat besar. “Dulu, Pak Istu selalu memotivasi kami untuk fokus ke kegiatan. Kalau acara belum beres dilarang masuk kelas,” ujar penggemar Go-Kart dan adventure trail ini.