Rumah singgah lansia “Dian Abadi” yang beralamat di Jalan Ikan Paus, Kelurahan Karangrejo selalu punya agenda untuk membuat para lansia terlihat aktif. Selama Ramadan, lebih dari dua puluh lansia beribadah di tempat tersebut.
Langkah tergopoh para lansia di sekitar Kelurahan Karangrejo terlihat lebih cepat dari biasanya pagi itu. Mereka berbondong-bondong menuju rumah singgah lansia “Dian Abadi” yang berada tidak jauh dari Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hoo Tong Bio.
Pagi itu ada pemeriksaan kesehatan rutin dari relawan kesehatan untuk para lansia. Tak hanya itu, setelah diperiksa kesehatanya para lansia juga mendapatkan bantuan berupa sembako. Karena kebetulan tidak lama lagi Hari Raya Idul Fitri akan tiba.
Begitu tiba, mereka langsung duduk melingkar menanti diperiksa oleh dua relawan yang sudah siap dengan peralatan medical check up ringan.
Pemilik rumah singgah lansia ”Dian Abadi”, Tatik Risbiyanti Waluyo menceritakan selama Ramadan ada banyak kegiatan ibadah yang dilakukan para lansia bersama-sama. Mulai salat tarawih yang diikuti semua lansia, baik yang masih sehat bugar maupun yang lumpuh.
Lalu pengajian bersama dan pemeriksaan kesehatan selama Ramadan. “Pagi ini Alhamdulillah banyak yang datang, meskipun mereka harus dibantu menggunakan kursi roda, ada yang dituntun tapi semuanya bersemangat datang ke sini,” ujar Tatik.
Dia menceritakan jika rumah lansia berdiri sekitar enam tahun lalu.
Saat itu Tatik mengaku memiliki keinginan untuk bisa menampung dan memberikan bantuan kepada para lansia yang tinggal di sekitar rumahnya. Sampai kemudian salah satu rumahnya difungsikan untuk menjadi rumah singgah. Dimana para lansia bisa beraktivitas bersama di sana. “Dua tahun sebelum memutuskan membuat rumah singgah saya memang sudah mempunyai niatan. Karena ketika naik haji saya melihat banyak lansia. Mereka menurut saya sangat membutuhkan perhatian,” terang istri dari Waluyo itu.
Setelah merubah salah satu rumah miliknya menjadi tempat singgah lansia, ada enam orang lansia yang dikumpulkan. Dia turun ke setiap lingkungan yang ada di Karangrejo untuk mencari para lansia yang sesuai dengan kriterianya.
Yaitu manula yang tidak memiliki penghasilan, berusia di atas 60 tahun dan kurang mampu secara ekonomi. Setelah terkumpul, Tatik mulai menjalankan program rumah singgahnya. Selain menjadi tempat berkumpul dan silaturahmi, para lansia itu juga sempat diberikan beberapa kegiatan pelatihan kreativitas.
Sayangnya, karena faktor usia para lansia tersebut tidak bisa melakukan dengan maksimal. Tatik kemudian merubah arah kegiatan menjadi pengajian dan cek kesehatan rutin setiap bulan. “Sekarang jumlahnya ada 20 orang lebih. Kalau dari angkatan awal sudah ada 9 orang yang meninggal dunia. Setelah ada yang meninggal kita selalu rekrut lagi. Mereka terlihat bersemangat,” imbuh wanita asli Madiun itu.
Setiap bulan para lansia itu juga memperoleh bantuan seperti beras dan uang tunai. Khusus uang diberikan secara bergilir. Karena menyesuaikan dengan jumlah lansia dan besarnya uang yang diberikan oleh para donatur. “Kalau untuk hari raya seperti ini semua dapat tambahan uang selain sembako. Alhamdulillah ada saja komunitas orang-orang yang bersimpati kepada para lansia ini. Jadi mereka semangat ketika berangkat tadi,” ucapnya.
Tatik menjelaskan, dirinya ingin membuat hidup para lansia tersebut tetap bersemangat. Seperti nama “Dian Abadi” yang berarti api abadi. Dia juga ingin para lansia terus bisa bersemangat. “Sebagian besar dari mereka ini sudah tidak produktif. Meskipun masih ada juga satu dua yang bekerja. Usianya juga sudah sangat tua, ada yang 87 tahun. Tapi dengan adanya rumah singgah, mereka ini seperti kembali bersemangat,” kata nenek enam cucu itu.
Tatik berharap rumah singgah lansia bisa terus hidup. Karena itu salah satu dari anaknya sering diajak untuk mengikuti kegiatan dan mengelola rumah tersebut. Dengan harapan rumah singgah lansia akan terus ada meskipun dirinya nanti tidak ada lagi. “Saya ingin ada yang meneruskan. Mereka ini sangat memerlukan perhatian sebenarnya, kita semua akan menjadi tua. Saya juga punya keinginan suatu hari nanti bisa memiliki panti jompo sendiri,” ungkapnya.
Midi, 87, salah seorang lansia yang ikut dalam rumah singgah ”Dian Abadi” mengaku sudah tujuh tahun bergabung. Hampir semua kegiatan selalu diikuti. ”Rumah singgah ini membuat saya bersemangat hingga bisa tetap sehat sampai kepala delapan,’’ ujar Mbah Midi.
Editor : Rahman Bayu Saksono