Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sehari Habiskan 200 Nasi Bungkus, Gratis Sayur dan Sambal

Ali Sodiqin • Rabu, 9 Mei 2018 | 02:41 WIB
sehari-habiskan-200-nasi-bungkus-gratis-sayur-dan-sambal
sehari-habiskan-200-nasi-bungkus-gratis-sayur-dan-sambal

Tren usaha nasi bungkus di Banyuwangi mulai menggeliat dalam lima tahun terakhir.  Namun, ada juga beberapa kedai yang rupanya telah eksis menjual nasi bungkus selama puluhan tahun. Salah satunya adalah milik Rojikin warga Kelurahan Giri.

FREDY RIZKI, Giri

WARUNG milik Rojikin, 50, warga Kelurahan Giri, Kecamatan Giri tampak tidak terlalu ramai siang itu. Hanya ada empat orang saja yang tengah menikmati nasi bungkus di dalam warung yang dikelilingi dinding bambu itu.

Setiap sepuluh menit sekali, ada saja satu dua orang yang datang untuk membeli barang satu dua bungkus nasi di warung tersebut. Bahkan ada juga orang yang datang menggunakan kendaraan roda empat langsung memborong sepuluh sampai lima belas bungkus nasi. Saya pun mencoba mencicipi satu bungkus nasi di warung tersebut.

Karena nasi bungkus di tempat itu memang cepat habis, nasi yang saya nikmati kondisinya masih hangat. Jadi perpaduan antara sambal, mie, sawur, dan telur dadar terasa lebih nikmat. ”Yang saya sediakan menu masakan lokal saja. Ada lauk daging, ayam, ikan laut, dan telur dadar. Alhamdulillah habis terus, biasanya sebelum tutup sudah habis,” ujar Rojikin.

Dia pun menceritakan jika sudah berjualan nasi bungkus sekitar 20 tahun sejak tahun 1998. Awalnya dia berjualan di kios sebelah barat Kelurahan Giri. Untuk bahan makanan semuanya disediakan sendiri. Istrinya, Mariyam, bertugas menyiapkan menu-menu yang dikemas di dalam nasi bungkus.

Awalnya, Rojikin yang juga bekerja sebagai pesapon di Kelurahan Giri itu hanya memiliki pelanggan dari orang-orang kelurahan saja. Atau beberapa petugas dari kecamatan yang kebetulan memiliki urusan di kelurahan. Tetapi lambat laun jumlah pelanggannya semakin banyak. Termasuk beberapa staf dari SKPD seperti Dinas Pertanian, Dinas Perpustakaan, hingga Kecamatan.

”Lama-lama karena semakin banyak saya akhirnya pindah ke sini. Awalnya tidak terlalu ramai yang duduk, paling hanya beli terus pulang. Tapi setelah ditambah ada koran Radar Banyuwangi, pelanggan yang duduk semakin lama. Kadang sambil pesan kopi,” imbuh bapak dua anak itu.

Dalam sehari, Rojikin mengaku rata-rata bisa menjual sampai 200 bungkus nasi. Jika ada kegiatan khusus seperti senam di Kecamatan atau Dinas, jumlah pesanan bisa sampai 300 bungkus. Dia pun selalu berusaha bisa menyiapkan menu sesuai dengan keinginan pelanggannya. Karena itu istrinya selalu stand by, jika ada pesanan nasi dalam waktu singkat dirinya langsung mempersiapkan bungkusan nasi untuk pelanggan.

”Yang rutin ini kecamatan, seminggu sekali kadang pesan 30-an bungkus. Kalau dinas, menunggu kegiatan. Kalau ada pesannya juga banyak, minimal 40 bungkus,” imbuh pria asli Rogojampi itu.

Untuk menarik pelanggan, selain dengan menyediakan nasi bungkus yang selalu hangat dengan lauk yang fresh, dia juga menyediakan sambal dan sayur cukulan (kecambah) gratis untuk pendamping nasi bungkus.

Dalam sehari biasanya dua panci sayur cukulan dilahap pelanggannya. Meski sederhana, hal itu menjadi ciri khas sendiri yang cukup diminati para pelanggan. ”Kalau sayurnya biasanya habis duhur sudah habis. Padahal saya mengisi penuh satu panci.” Terang Rojikin sambil menunjukkan isi panci sayur yang sudah kosong.

Dari hasil usahanya itu, Rojikin mengaku mampu menafkahi keluarganya. Termasuk menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. Selama dua puluh tahun berjualan, nasi bungkusnya hanya naik Rp 2.000, dari harga Rp 3.000  di tahun 1998 menjadi Rp 5 ribu di tahun 2018. ”Cuma nanti kalau saya sudah tua belum tahu siapa yang melanjutkan, anak-anak sudah kerja,” ungkapnya.

Editor : Ali Sodiqin