Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belajar Kesabaran dan Perjuangan di Raudah

AF Ichsan Rasyid • Kamis, 3 Mei 2018 | 22:43 WIB
belajar-kesabaran-dan-perjuangan-di-raudah
belajar-kesabaran-dan-perjuangan-di-raudah


Hari kedua berada di Kota Madinah, wartawan Jawa Pos Radar Situbondo Edy Supriyono bersama jamaah umrah PT Panji Mas lainnya menghabiskan waktu untuk beribadah di Masjib Nabawi. Salah satu tempat yang menjadi target jamaah adalah salat sunah di Raudah.


Raudah adalah salah satu tempat di masjid Nabawi yang menjadi dambaan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah umrah ada di Kota Madinah untuk bisa sampai di dalamnya. Raudah menjadi istimewa karena dawuh langsung dari Nabi Muhammad "bahwa antara mimbar dan rumahku adalah raudlatul jannah (taman taman surga)". Dua tempat itulah (jarak rumah nabi dan mimbar tempat nabi berkhutbah) yang menjadi kawasan 'Raudah' yang diberi tanda dengan karpet warna hijau. Sementara karpet Masjid Nabawi semuanya berwarna merah.


Di Raudah itu di sunnatkan memperbanyak ibadah. Melakukan salat wajib maupun sunnat dan berdoa dengan khusyuk. Hanya saja untuk bisa sampai ke tempat ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, butuh perjuangan.


Para jamaah umrah Panji Mas pun tidak mau ketinggalan untuk bisa sampai ke tempat yang langsung di sebut oleh Nabi Muhammad sebagai taman surga itu. KH Latif Harun, pimpinan umrah Panji Mas jauh-jauh hari memang sudah mewanti-wanti jamaah agar bisa sampai ke tempat itu. "Saya sangat kaget, ketika ada jamaah umrah dari PT tertentu, ketika ditanya Raudah, dia tidak tahu. Ini kan aneh. Tempat istimewa di Madinah, tapi melihatnya saja tidak tahu. Ini jangan sampai terjadi pada jamaah umrah Panji Mas" pesan KH Latif Harun.


Kami pun merencanakan untuk bersama-sama menuju Raudah. Janjian kumpul di lobi Hotel Al-salahiya usai salat isyak, khusus jamaah laki-laki. Sedang yang perempuan sudah berangkat sebelum isyak. "Kalau setelah isyak dan subuh pakai antrean per saf," jelas Ustad Ahmad Yanto, mutawwif kami yang asli Madura itu.


Kami pun berangkat dengan penuh semangat. Selama di perjalanan saya sudah membayangkan kesulitan untuk masuk ke Raudah. Membayangkan akan berdesak-desakan, berebutan dengan ratusan bahkan ribuan jamaah umrah yang lain untuk bisa mendapat tempat di Raudah. Sepanjang perjalanan saya pun berdoa agar diberi kemudahan masuk Raudah.


Rombongan kami berada di saf ketiga. Setiap saf diberi pembatas menggunakan kain setengah leher orang dewasa oleh petugas. Satu saf bisa berisi 250 orang lebih. Saya dan teman-teman bersyukur karena berada di barisan depan. "Kita menunggu giliran antara 15 sampai 20 menit. Kita berada di urutan ketiga setelah urutan pertama dan kedua masuk, giliran kita. Karena berada di barisan depan, nanti kita masuk di paling pojok depan Raudah sebelah kiri" kata ustad Ahmad Yanto memberikan pengarahan kepada para jamaah Panji Mas yang sabar menunggu giliran masuk. "Nanti kalau mau ke Raudah sendiri sudah enak, tanpa antrean begini bisa, yang penting datangnya selain ba'da subuh dan isyak," lanjut Yanto seraya meminta para jamaah Panji Mas untuk memperbanyak membaca salawat. Saat itu kami sudah maju di urutan kedua.


Saya sendiri merasakan kaki sudah pegal-pegal. Terutama kaki sebelah kiri. Semalam saat bangun untuk melaksanakan salat subuh tiba-tiba saja kram. Mungkin karena kecapekan duduk sepuluh jam di pesawat yang masih terasa hingga kini.


Selama menunggu benar-benar dibutuhkan kesabaran yang ekstra. Kalau tidak benar-benar karena ingin merasakan 'taman surga' yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, ngapain mau menunggu berdiri berlama-lama begitu? Tapi bagi yang benar-benar berharap apa yang dijanjikan Rasul, tentu melakukan semua itu tanpa merasa berat apalagi merasa tersiksa.


Yang menarik, Kalau mau dicerna lebih dalam lagi, menunggu di Raudah pada dasarnya mengajarkan kepada kita pentingnya kesabaran dalam menghadapi permasalahan aspek kehidupan. Jika Raudah itu merupakan puncak tujuan, maka menunggu, bergeser, berjalan dari saf ke saf yang begitu lama dan melelahkan adalah proses tahap yang harus dilalui sebelum berhasil sampai ke tujuan. Banyak saingan di sekitar kita. Yang lemah dan mudah menyerah akan tersingkir.


Namun bagi yang bersabar, ikhlas, dan terus istikamah bekerja keras, berjuang, maka akan sampai juga pada giliran menuai hasil= bersalat dan bermunajat di taman surga yang dijanjikan akan dikabulkan oleh Allah segala permohonannya. Begitulah pesan tersirat bagi saya selama menunggu giliran antre masuk ke Raudah.


Keesokan harinya, Pimpinan rombongan Panji mas, KH Latif Harun mengapreasisi karena jamaah laki-laki Panji Mas sudah bisa salat di Raudah. Namun, beliau mengajak kembali para jamaah laki-laki untuk ke Raudah. Kali ini pada tengah malam. Sekitar pukul 02.00 malam. Beliau mengaku memiliki strategi khusus agar bisa dengan leluasa bisa sampai ke Raudah.


Bagaimana caranya? Kiai Latif masih merahasiakan....... (bersambung)

Editor : AF Ichsan Rasyid