Sejak tahun 1970-an, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru dikenal sebagai sentra kerajinan peralatan dapur. Mulanya, mayoritas penduduk setempat merupakan petani dan buruh di perkebunan. Baru sekitar tahun 1965, sebagian buruh beralih profesi dengan membuat peralatan rumah tangga.
Suara keras bahan seng yang dipukul oleh para perajin saling bersaut-sautan saat tiba di wilayah sentra peralatan dapur. Para pedagang sekaligus perajin peralatan dapur berjajar rapi di bahu jalan tepat di Jalan Raya Jember, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan.
Mereka memamerkan berbagai bentuk kerajinan peralatan dapur untuk dijual kepada wisatawan maupun pengendara yang sedang melewati perbatasan jalan antara Kabupaten Banyuwangi dan Jember itu.
Usaha rumahan yang memproduksi perkakas dapur skala kecil memang menjadi andalan mengais rezeki bagi warga desa tersebut. Mereka membuat berbagai alat rumah tangga seperti panci, wajan, oven, teko, serta berbagai alat perkakas kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bahan dasar yang digunakan macam-macam. Berbagai alat perabotan rumah tangga itu terbuat dari aluminium, stainless steel, serta kuningan. Proses produksi perkakas tersebut tanpa menggunakan mesin dan murni dikerjakan dengan tenaga manusia.
Nursalim, 49, generasi kedua perajin perlengkapan dapur mengatakan, saat pertama membuat kerajinan pada tahun 1978, dia masih menggunakan bahan dari tong atau drum bekas.
Kemudian pada 1980-an, para perajin mulai beralih menggunakan bahan seng dan aluminium. “Bahannya memborong dari pabrik, kalau jualnya dulu masih dipikul keliling,” ujar Nursalim.
Dulu jumlah perajin alat dapur di Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan, mencapai 60 orang lebih. Karena semakin lama, persaingan antar perajin semakin ketat, membuat satu per satu dari perajin memilih untuk bermigrasi ke luar kota dan provinsi. “Tahun 1996 sampai era krisis, banyak yang memilih merantau. Mungkin tinggal 10 orang perajin yang bisa membuat. Saya sendiri pernah merasakan susahnya jualan kerajinan dapur keliling dengan dipikul. Tapi untung usaha turun temurun ini berkembang hingga menjadi home industri milik sendiri,” ungkapnya.
Sejak tahun 2000-an, para perajin sudah mulai menerima orderan dari luar kota, tanpa harus jualan keliling lagi. Lama kelamaan perajin di desa tersebut juga semakin bertambah karena banyaknya pesanan dari luar daerah. “Sekarang sudah ada 34 perajin alat dapur rumahan di Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan. Kini, sistemnya sudah pesanan. Jualnya sudah ke Ternate, Kupang, Sumbawa, Flores, Sumatera, Kalimantan,” kata Nursalim.
Saat ini, perajin sudah membuat kerajinan alat dapur dari bahan alumunium, stainless dan monel. Untuk peralatan dapur para perajin menjual mulai harga Rp 75 ribu untuk dandang berbahan alumunium. Sedangkan untuk dandang berbahan stainless dibandrol dengan harga Rp 125 ribu.
Tidak hanya dandang dan wajan, saat ini para perajin juga membuat beragam perlengkapan mulai dari alat oven kue, panci, gelas, cetakan kue sampai sutil. “Sehari kalau wajan kadang buat lima. Pas Lebaran ramai, per hari bisa sampai Rp 8 juta. Kalau hari biasa tergantung rezeki,” jelasnya sembari mengerjakan oven.
Tidak hanya itu, para wisatawan juga sudah mulai banyak yang mampir untuk membeli langsung. Sepanjang jalan Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan, memang terlihat beragam perlengkapan dapur digantung di halaman masing-masing rumah perajin. “Kalau wisatawan, banyak yang mampir untuk beli. Banyak juga yang penasaran sambil tanya-tanya kok bisa sebanyak ini yang jualan,” tandasnya. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono