Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Panjat Pohon Tinggi, Tangan Kiri Pegang Gergaji Mesin

Ali Sodiqin • Senin, 19 Februari 2018 | 14:30 WIB
panjat-pohon-tinggi-tangan-kiri-pegang-gergaji-mesin
panjat-pohon-tinggi-tangan-kiri-pegang-gergaji-mesin

Musim hujan kerap ada kejadian mobil rusak tertimpa pohon atau jalan macet karena pohon tumbang. Untuk mengantisipasi hal itu, Banyuwangi punya tim pengepras pohon naungan jalan. Tanpa alat pengaman, mereka rela membahayakan diri demi keselamatan banyak orang.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

DERU chainsaw (gergaji mesin) membahana di kompleks kantor DPRD Banyuwangi siang itu (14/2). Setelah diamati, suara mesin yang populer disebut senso, itu berasal dari sebelah utara kantor wakil rakyat tersebut, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, Banyuwangi.

Benar saja, kala itu ada satu tim petugas pengepras pohon naungan jalan yang tengah bekerja. Empat orang memotong dahan pohon yang terserak di badan jalan. Sedangkan dua orang yang lain bertugas mengangkut dahan yang telah dipisahkan dengan ranting pohon itu ke atas bak mobil pikap.

Sementara itu, di atas pohon, dua laki-laki tampak memegang gergaji mesin. Tanpa alat pengaman khusus, keduanya sibuk memotong dahan pohon dengan gergaji mesin tersebut.

Maskur, 43, mengatakan dirinya dan teman-temannya bertugas mengepras pohon di wilayah Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Selain dia dan tujuh rekannya, ada satu tim lain yang juga menjalankan tugas serupa. ”Kami bekerja mengepras pohon naungan jalan sudah sejak sekitar 1,5 tahun terakhir,” ujar pria asal Kelurahan/Kecamatan Giri tersebut.

Pria yang kebagian tugas memanjat dan memotong dahan pohon tersebut mengaku, dirinya tidak mengalami kesulitan khusus dalam menjalankan tugas yang relatif berbahaya itu. Bayangkan saja, dia memanjat pohon yang tingginya bisa mencapai tujuh meter lebih dengan sebelah tangan memegang mesin senso dan tanpa pengamanan khusus. ”Yang penting kami bekerja dengan hati-hati,” kata dia.

Meski tidak harus memanjat, kerja anggota tim pengepras pohon yang lain juga tidak kalah berisiko. Termasuk risiko diserempet kendaraan. Sebab, saat mereka bekerja, ruas jalan tetap dibuka untuk kendaraan. Di saat-saat tertentu, dua anggota tim bertugas menyetop kendaraan dari dua arah berlawanan, tepatnya saat dahan pohon yang dipotong di atas pohon akan jatuh.

Muhlisin, 42, anggota tim yang lain menuturkan, setiap hari dirinya dan rekan-rekannya bekerja mengepras dari pukul 07.00 sampai 14.00. ”Pohon-pohon di pinggir jalan perlu dikepras agar daunnya tidak terlalu lebat sehingga memperkecil peluang pohon-pohon ini tumbang,” ujarnya.

Selain itu, dengan rutin dikepras, pohon-pohon naungan jalan tersebut terlihat lebih rapi. Daun yang jatuh juga tidak sebanyak jika pohon-pohon tersebut tidak dikepras. ”Seperti yang Anda saksikan. Pohon-pohon ini tampak lebih rapi, bukan? Daun yang jatuh juga tidak sebanyak sebelum dikepras,” kata dia.

Bukan itu saja, pengeprasan pohon tersebut juga berfungsi membuat lampu penerangan jalan umum (LPJU) berfungsi secara optimal. Betapa tidak, tidak jarang daun pohon yang tidak dikepras menghalangi cahaya LPJU.

Seperti diutarakan Sugiono, warga asal Tamanbaru. Menurut dia, setelah pohon-pohon naungan jalan rutin dikepras, kondisi jalanan di kawasan Kota Banyuwangi dan sekitarnya tampak lebih terang di malam hari. ”Karena daun pohon yang menghalangi cahaya LPJU tidak sebanyak dulu,” pungkasnya.

Editor : Ali Sodiqin