Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kulakan Bee’s Wax dari Tawonan, Ambil VCO dari Licin

Ali Sodiqin • Senin, 12 Februari 2018 | 01:40 WIB
kulakan-bees-wax-dari-tawonan-ambil-vco-dari-licin
kulakan-bees-wax-dari-tawonan-ambil-vco-dari-licin

Berbekal informasi dari dunia maya, Prestiyo Santoso, 30, sukses mengumpulkan rupiah dari hasil kreasinya membuat pomade. Warga Jalan Airlangga Banyuwangi ini mampu membiayai hidupnya sendiri dari hasil minyak pengklimis rambut itu.


DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi


RAMBUT adalah mahkota. Tidak hanya bagi kaum Hawa, pun demikian untuk kaum Adam. Setiap pria pasti mendambakan memiliki rambut yang sehat, rapi, bahkan juga hitam. Harapannya, tentu ingin menambah rasa percaya diri, terutama dalam berpenampilan agar terlihat lebih menarik.

Tak heran, untuk menunjang penampilan dan percaya diri,  kaum pria, khususnya remaja dewasa mulai marak tren penggunaan minyak rambut. Salah satu produk minyak rambut yang kini sedang populer dan digandrungi para pria remaja dewasa hingga anak-anak di Indonesia adalah pomade.

Pomade adalah minyak rambut berbentuk gel lembut yang bisa membuat rambut terlihat lebih mengilap, licin, klimis, dan mudah diatur sesuai keinginan.

Fenomena penggunaan pomade itu mulai ditangkap sejumlah pelaku usaha. Pembuatan pomade mulai dianggap sebagai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Salah satunya adalah Prestiyo Santoso. Pemuda berusia 30 tahun asal Jalan Airlangga, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi itu, sudah dua tahun terakhir membuat produk rumahan pomade.

Prestiyo mengaku, awal membuat pomade itu setelah mulai marak penggunaan pomade di kalangan pria dewasa hingga anak-anak di Indonesia. Lantas, dia langsung mencoba berselancar di internet. Hasilnya, ada panduan cara membuat pomade. ”Awalnya memang sering koleksi pomade, dengan berbagai jenis dan aroma,” ujar pria yang akrab disapa Pras itu.

Berawal dari itulah, Pras mulai ber-eksperimen dengan mencoba membuat pomade sendiri. Bahannya juga tidak terlalu sulit didapatkan di Banyuwangi. Bahan baku pembuatan pomade adalah beeswax (lilin lebah), virgin coconut oil (minyak kelapa), minyak almond, pewarna makanan, dan pewangi.

Bahan baku tersebut hampir semuanya sudah tersedia di Banyuwangi. Beeswax atau lilin lebah itu dibeli dari para pemilik sarang lebah di daerah Tawonan, Kecamatan Licin, yang ada di lereng Gunung Ijen. Sarang  lebah yang telah diperas untuk diambil madunya itu dimanfaatkan untuk bahan dasar.

Sarang lebah yang masih banyak mengandung lilin itu dicairkan dengan proses tertentu. Caranya juga tidak terlalu rumit. Beeswax hanya dipanaskan ke dalam panci yang berisi air mendidih. Takaran beeswax-nya juga harus diatur. Jika beeswax lebih banyak, maka kualitas hasil pomade akan lebih keras. Sehingga perlu diatur atau disesuaikan dengan keinginan, mau lengket atau tidak.

Setelah beeswax dalam panci sudah mulai mencair, baru tambahkan sedikit virgin coconut oil (VCO) atau sari minyak kelapa. Minyak kelapa itu juga didapat dengan pesan khusus kepada nenek-nenek yang memproduksi minyak kelapa di Kecamatan Licin. Kegunaan dan manfaat minyak kelapa murni itu dapat membuat rambut lebih klimis, dan lebih hitam legam. ”Biasanya jika saya membuat, beeswax satu kilogram, VCO-nya 10 literan,” ujar Pras.

Takaran VCO juga bisa disesuaikan. Jika semakin banyak maka akan berminyak, sehingga hanya tinggal mengatur kualitas takaran. Apalagi, jika terlalu banyak aroma yang muncul kuat adalah minyak kelapa. Sehingga sesudahnya juga bisa ditambahkan minyak almond dan pewangi. Khusus pemberian pewangi tersebut disesuaikan selera. ”Dengan diberi aroma parfum, biar aroma minyak kelapanya hilang. Karena aroma minyak kelapa tidak terlalu disuka. Sehingga, saya tambahkan aroma parfum seperti aroma bubble gum, blueberry, coffee, apel, jeruk, strawberry, anggur, melon, cokelat, dan jambu agar aroma lebih sedap,” terang alumni Fakultas Teknik Untag Surabaya ini.

Setelah seluruh bahan tercampur dengan rata, barulah pomade buatannya dimasukkan dalam wadah kemasan isi 50 gram, 100 gram dan 150 gram. Harga jual masing-masing ukuran juga berbeda. Yakni mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu.

Untuk pemasarannya, kata Pras, sementara hanya melayani pembelian melalui media sosial secara daring. Tidak tanggung-tanggung, pelanggannya hampir merambah seluruh kecamatan di Banyuwangi. ”Sementara ini areal penjualan kebanyakan masih lokal. Paling jauh ya ke Bali dan sekitar Jawa Timur. Ada juga pembeli langsung dan barbershop,” bebernya.

Sejak dua tahun terakhir, usahanya tersebut tidak pernah surut. Dalam sebulan, dia bisa mengantongi uang penghasilan bersih antara Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta. Tergantung ramainya permintaan dan pemesanan. ”Syukurlah bisa untuk ditabung bekal untuk rumah tangga,” tandas pria asal Surabaya ini.

Editor : Ali Sodiqin