DUNIA perhotelan di Banyuwangi berkembang pesat dalam kurun tiga tahun terakhir. Hotel-hotel baru pun bermunculan. Peningkatan jumlah hotel itu berbanding lurus dengan tingkat hunian alias okupansi kamar hotel, termasuk hotel-hotel yang telah lama berdiri di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini.
Diakui atau tidak, perkembangan pariwisata yang begitu pesat sedikit banyak berimbas pada geliat bisnis perhotelan di Banyuwangi.
Apalagi, Pemkab Banyuwangi juga berusaha mengembangkan wisata berbasis MICE (meeting, incentives, convention, exhibition). Bukan itu saja, “status” Banyuwangi sebagai daerah jujugan studi banding atau benchmarking ikut mengangkat tingkat hunian kamar hotel di Banyuwangi.
Dampak positifnya, Banyuwangi kerap dipilih oleh lembaga pemerintahan maupun instansi tingkat pusat atau provinsi sebagai lokasi rapat maupun pertemuan. Tidak sedikit pula pejabat daerah asal berbagai penjuru tanah air datang ke Banyuwangi untuk belajar berbagai hal, mulai inovasi pelayanan publik, kinerja pemerintahan, dan lain-lain. Tentu, saat berada di Banyuwangi, mereka membutuhkan akomodasi, termasuk hotel.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi Zainal Muttaqin mengatakan, secara garis besar, perkembangan hotel di Banyuwangi sangat pesat beberapa tahun terakhir. “Banyak investor yang berinvestasi di Banyuwangi, terutama di wilayah Kota Banyuwangi,” ujarnya.
Selain banyak hotel baru yang berdiri di Banyuwangi, tingkat hunian hotel pun meningkat. Contoh terbaru, pada saat libur Natal 2017 pada 24 Desember dan 25 Desember, okupansi hotel berbintang sekelas Santika, el-Royale, Mirah, dan lain-lain mencapai 90 persen. “Sedangkan hotel dengan kelas di bawahnya, tingkat hunian di angka 50 persen sampai 60 persen. Tingkat hunian itu bertahan hingga menjelang tahun baru,” kata Zainal.
Menurut Zainal, tamu hotel pada saat libur Natal dan Tahun Baru mayoritas merupakan wisatawan yang berkunjung destinasi-destinasi wisata di Bumi Blambangan. “Ini merupakan imbas dari promosi dan pengembangan destinasi wisata yang dilakukan Pemkab Banyuwangi,” cetusnya.
Zainal menambahkan, perkembangan MICE di Banyuwangi juga cukup pesat beberapa tahun terakhir. Itu terbukti dari meeting, pelatihan, dan lain-lain banyak dilakukan di hotel, khususnya di wilayah Kota Banyuwangi,” ucapnya.
Masih menurut Zainal, saat ini jumlah hotel anggota PHRI sebanyak 66 unit dengan total kamar sebanyak 2.645 unit. Selain itu, dalam waktu dekat akan ada beberapa hotel baru yang siap beroperasi.
Yang menarik, Zainal mengaku tidak risau dengan keberadaan hotel-hotel baru yang segera beroperasi tersebut. “Kalau dari kacamata PHRI, pangsa pasar atau segmentasi mereka sudah jelas. Tidak akan terlalu berpengaruh pada hotel yang tidak berjaringan,” akunya.
Sementara itu, General Manager Hotel Ketapang Indah Iwan Suprajitno mengatakan, tren okupansi hotel yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, itu kita cenderung naik dua tahun terakhir. “Kenaikan bisa sampai delapan persen sampai 13 persen,” kata dia.
Iwan menuturkan, okupansi hotel Ketapang Indah rata-rata full saat weekend. Sedangkan pada weekday, tingkat okupansi rata-rata 70 persen. “Namun, tidak jarang saat weekday pun okupansi kita penuh,” ucapnya.
Bukan hanya okupansi kamar hotel, Iwan mengaku tingkat penggunaan hall Hotel Ketapang Indah juga mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding dua sampai tiga tahun lalu. “Saat ini rata-rata ada empat sampai lima eventt MICE yang digelar di aula Hotel Ketapang Indah,” cetusnya.
Asisten Sales Manager Hotel Santika Eko Saputra menambahkan, perkembangan bisnis hotel di Banyuwangi sedikit banyak merupakan impact dari dari banyaknya eventt yang digelar pemkab, terutama event besar seperti Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), dan lain-lain.
Selain itu, promosi destinasi wisata juga berimbas besar terhadap tingkat okupansi hotel di Banyuwangi. “Bukan hanya pasar Indonesia, bahkan pasar Eropa banyak yang menjangkau Banyuwangi,” ujarnya.
Lebih jauh Eko mengatakan, Banyuwangi jadi percontohan nasional, misalnya dari sisi perkembangan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan lain-lain. “Akibatnya, banyak sekali daerah lain yang datang ke Banyuwangi untuk belajar atau studi banding. Imbasnya ke hotel. Tamu-tamu tersebut menginap di hotel,” tuturnya.
Eko mengungkapkan, rata-rata okupansi Hotel Santika dalam setahun terakhir mencapai 80 persen lebih pada weekday. Sedangkan saat weekend, tingkat okupansi hotel yang satu ini “hanya” sekitar 70 persen. “Karena konsep kita business hotel. Jadi, okupansi yang lebih tinggi pada weekday, bukan weekend,” pungkasnya. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono