Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejak Diresmikan hanya Beroperasi Kurang dari Sebulan

Rahman Bayu Saksono • Sabtu, 27 Januari 2018 | 02:00 WIB
sejak-diresmikan-hanya-beroperasi-kurang-dari-sebulan
sejak-diresmikan-hanya-beroperasi-kurang-dari-sebulan

TERMINAL Wiroguno yang berlokasi di tengah sawah Dusun Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, sejak awal pembangunan sudah mengundang kontraversial. Terminal itu dibangun pada 2004 hasil tukar guling dengan kantor Pembantu Bupati di Genteng dan rumah dinas Camat Genteng.


Salah satu tujuan pembangunan Ter­minal Wiroguno di Desa Setail, Kecamatan Gen­teng, atau berjarak sekitar dua kilometer ke arah barat dari pusat Kota Genteng, yang di­gagas oleh Bupati Banyuwangi yang saat itu dijabat oleh Samsul Hadi, itu untuk pe­ngembangan Kota Genteng. Selain itu, juga mengurangi kemacetan dan kepadatan yang ada di pusat Kota Genteng. Sebelumnya, Ter­minal Genteng ini menyatu dengan Pasar Genteng II, di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.  


Dalam perencanaanya, setelah dibangun Terminal Wiroguno itu arus lalu lintas akan dirubah. MPU dan bus nantinya tidak akan masuk Kota Genteng, tapi untuk kendaraan besar dan bus melalui kalur lingkar dengan melewati Desa Setail, Kecamatan Genteng; Desa Dasri Kecamatan Tegalsari, dan tembus di Jembatan Wiroguno di Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran.


Tapi sampai saat ini, rencana pem­bangunan jalur lingkar yang berjarak sekitar lima kilometer itu belum bisa dimulai. Itu karena proses pembebasan lahan yang belum tuntas.  


Awal pembangunan terminal ini, sempat menuai protes warga di Genteng, terutama kalangan seniman dan budayawan. Mak­lum, kantor Pembantu Bupati di Genteng yang dibuat untuk tukar guling, selama ini dibuat untuk gedung kesenian. Pameran lukisan, latihan tari, dan pentas seni sering dilaksanakan di ge­dung tua tersebut.


Menanggapi protes dari warga itu, Bupati Samsul bergeming. Tukar guling yang telah mendapat persetujuan dari DPRD Banyu­wangi, tetap jalan terus. Dan Ter­­minal Wiroguno Genteng, akhirnya diresmikan oleh Bupati Samsul pada akhir 2004.


Peresmian Terminal Wiroguno, ter­nyata bukan akhir dari per­soalan yang ada. Tapi, itu awal dari masalah terminal dan penge­lolaan lalu lintas yang semrawut di pusat Kota Genteng. Penge­lolaan terminal yang berada di tengah sawah dan berjarak sekitar 200 meter dari jalan utama juru­san Banyuwangi-Jember, hingga kini tidak terselesaikan. Semua kendaraan angkutan umum, baik itu mobil penum­pang umum (MPU) dan bus antar kota, tidak ada yang mau masuk ke terminal. “Saat baru diresmikan, bus dan MPU sempat masuk,” cetus Imam Mawardi, 70, salah satu warga yang tinggal di samping Terminal Wiroguno.


Saat peresmian terminal itu, sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Terminal yang dires­mikan pada Jumat pagi, ternyata pada sore harinya sudah rusak. Bangunan di selasar pemberang­katan ambles hingga cukup dalam dan aspalnya jeblok. Ru­panya, bangunan itu tidak mam­pu dibuat untuk lintasan  bus.


Satu pekan beroperasi masalah lain muncul. MPU jurusan Gen­teng-Kalibaru dan Jember, juga bus antar kota mulai malas masuk terminal dengan alasan tidak ada pe­numpang. Selain itu, lokasi ter­minal yang jauh dari jalur utama dianggap tidak efektif bila harus masuk ke terminal. “Pe­­numpang memang tidak ada yang naik atau turun di terminal,” terang Imam Mawardi.


Tidak genap satu bulan Ter­minal Wiroguno itu beroperasi, kendaraan angkutan bus dan MPU tidak mau lagi masuk ke  terminal. Untuk penarikan retri­busi, dilakukan di pos yang ada di jalan simpang tiga menuju terminal. “Dulu sudah ada yang jualan di termibal,” cetus Imam Mawardi yang membuka warung kopi di depan terminal.


Selama ditinggal bus dan MPU itu kondisi terminal jadi sepi. Di tempat itu, nyaris tidak ada kegiatan. Sejumlah warga pernah ada yang memanfaatkan untuk lokasi konser dan balapan motor. Dan kini, setelah 20 tahun lebih tidak berfungsi, kondisi terminal semakin memprihatinkan. Disana sini, bangunannya banyak yang rusak. “Sudah setahun Ter­minal Wiroguno kita tutup, karyawan kita merger dengan terminal di Jajag (Kecamatan Gambiran),” sebut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupa­ten Banyuwangi, Kusyadi.



Kusyadi mengaku belum tahu kapan Terminal Wiroguno itu akan dioperasikan lagi. Yang pasti, sebelum pembangunan jalur lingkar selesai dikerjakan, rasanya masih sulit untuk menghidupkan terminal itu. “Kita menunggu pembangunan jalan lingkar dulu,” dalihnya. (*)

Editor : Rahman Bayu Saksono