TERMINAL Wiroguno yang berlokasi di tengah sawah Dusun Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, sejak awal pembangunan sudah mengundang kontraversial. Terminal itu dibangun pada 2004 hasil tukar guling dengan kantor Pembantu Bupati di Genteng dan rumah dinas Camat Genteng.
Salah satu tujuan pembangunan Terminal Wiroguno di Desa Setail, Kecamatan Genteng, atau berjarak sekitar dua kilometer ke arah barat dari pusat Kota Genteng, yang digagas oleh Bupati Banyuwangi yang saat itu dijabat oleh Samsul Hadi, itu untuk pengembangan Kota Genteng. Selain itu, juga mengurangi kemacetan dan kepadatan yang ada di pusat Kota Genteng. Sebelumnya, Terminal Genteng ini menyatu dengan Pasar Genteng II, di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.
Dalam perencanaanya, setelah dibangun Terminal Wiroguno itu arus lalu lintas akan dirubah. MPU dan bus nantinya tidak akan masuk Kota Genteng, tapi untuk kendaraan besar dan bus melalui kalur lingkar dengan melewati Desa Setail, Kecamatan Genteng; Desa Dasri Kecamatan Tegalsari, dan tembus di Jembatan Wiroguno di Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran.
Tapi sampai saat ini, rencana pembangunan jalur lingkar yang berjarak sekitar lima kilometer itu belum bisa dimulai. Itu karena proses pembebasan lahan yang belum tuntas.
Awal pembangunan terminal ini, sempat menuai protes warga di Genteng, terutama kalangan seniman dan budayawan. Maklum, kantor Pembantu Bupati di Genteng yang dibuat untuk tukar guling, selama ini dibuat untuk gedung kesenian. Pameran lukisan, latihan tari, dan pentas seni sering dilaksanakan di gedung tua tersebut.
Menanggapi protes dari warga itu, Bupati Samsul bergeming. Tukar guling yang telah mendapat persetujuan dari DPRD Banyuwangi, tetap jalan terus. Dan Terminal Wiroguno Genteng, akhirnya diresmikan oleh Bupati Samsul pada akhir 2004.
Peresmian Terminal Wiroguno, ternyata bukan akhir dari persoalan yang ada. Tapi, itu awal dari masalah terminal dan pengelolaan lalu lintas yang semrawut di pusat Kota Genteng. Pengelolaan terminal yang berada di tengah sawah dan berjarak sekitar 200 meter dari jalan utama jurusan Banyuwangi-Jember, hingga kini tidak terselesaikan. Semua kendaraan angkutan umum, baik itu mobil penumpang umum (MPU) dan bus antar kota, tidak ada yang mau masuk ke terminal. “Saat baru diresmikan, bus dan MPU sempat masuk,” cetus Imam Mawardi, 70, salah satu warga yang tinggal di samping Terminal Wiroguno.
Saat peresmian terminal itu, sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Terminal yang diresmikan pada Jumat pagi, ternyata pada sore harinya sudah rusak. Bangunan di selasar pemberangkatan ambles hingga cukup dalam dan aspalnya jeblok. Rupanya, bangunan itu tidak mampu dibuat untuk lintasan bus.
Satu pekan beroperasi masalah lain muncul. MPU jurusan Genteng-Kalibaru dan Jember, juga bus antar kota mulai malas masuk terminal dengan alasan tidak ada penumpang. Selain itu, lokasi terminal yang jauh dari jalur utama dianggap tidak efektif bila harus masuk ke terminal. “Penumpang memang tidak ada yang naik atau turun di terminal,” terang Imam Mawardi.
Tidak genap satu bulan Terminal Wiroguno itu beroperasi, kendaraan angkutan bus dan MPU tidak mau lagi masuk ke terminal. Untuk penarikan retribusi, dilakukan di pos yang ada di jalan simpang tiga menuju terminal. “Dulu sudah ada yang jualan di termibal,” cetus Imam Mawardi yang membuka warung kopi di depan terminal.
Selama ditinggal bus dan MPU itu kondisi terminal jadi sepi. Di tempat itu, nyaris tidak ada kegiatan. Sejumlah warga pernah ada yang memanfaatkan untuk lokasi konser dan balapan motor. Dan kini, setelah 20 tahun lebih tidak berfungsi, kondisi terminal semakin memprihatinkan. Disana sini, bangunannya banyak yang rusak. “Sudah setahun Terminal Wiroguno kita tutup, karyawan kita merger dengan terminal di Jajag (Kecamatan Gambiran),” sebut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banyuwangi, Kusyadi.
Kusyadi mengaku belum tahu kapan Terminal Wiroguno itu akan dioperasikan lagi. Yang pasti, sebelum pembangunan jalur lingkar selesai dikerjakan, rasanya masih sulit untuk menghidupkan terminal itu. “Kita menunggu pembangunan jalan lingkar dulu,” dalihnya. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono