Penutupan lokalisasi penjaja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemkab Banyuwangi pada 2013, ternyata belum mampu meniadakan para pelacur di Kota Gandrung. Sampai saat ini, sejumlah lokalisasi PSK ternyata juga masih tetap beroperasi. Berikut liputan wartawan jawapos Radar Genteng Agus Baihaqi.
SALAH satu mucikari di lokalisasi di Banyuwangi Selatan, Marhaban (juga nama samara), 65, menyampaikan sejak ada penutupan lokalisasi pada 2013, bukan hanya mengurangi pembeli di tokonya, anak buahnya juga jadi habis. “Saya dulu punya lima cewek, sekarang tidak ada lagi,” terangnya.
Menurut Marhaban, penutupan lokalisasi yang pernah dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi, telah membuat penghasilannya menurun tajam. Meski saat ini masih ada tamu yang datang, tapi jumlahnya sangat kecil. “Sekarang sepi,” terangnya.
Bagaimana dengan para PSK? Mereka mengaku harus selalu hati-hati. Sebab, sesekali petugas keamanan dan penertiban sering datang untuk menggaruk para PSK. “Sekarang sepi sekali, apalagi sering hujan,” ungkapnya.
Sering hujan membuat lokalisasi terbesar di Banyuwangi itu jadi sepi. Para tamu juga banyak berkurang dibanding beberapa tahun lalu. Pengunjung yang sepi, membuat para PSK ada yang memasang tarif diskon. “Ayo mas, saya diskon,” terang Nita, 27, salah satu PSK yang mengaku dari Jember.
Dengan gaya manja, PSK itu menyampaikan kalau dirinya bersih dan sehat. Bila sekali kencan biasanya Rp 150 ribu, dia siap melayani dengan harga Rp 135 ribu. “Saya minta Rp 135 ribu saja, kalau memang tidak punya bisa Rp 100 ribu, itung-itung untuk pelaris,” katanya merayu.
Ketua RT di Lokalisasi Sumberloh, Frenky, menyampaikan selama ini sudah sering melakukan pendekatan pada para PSK untuk meninggalkan pekerjaannya ini. Tapi, di antara mereka masih banyak yang bertahan. “Sekarang sudah berkurang banyak, dulu itu mencapai 500 cewek, sekarang tinggal belasan cewek saja,” ujarnya.
Frenky menyebut tidak mudah untuk menutup secara total praktek prostitusi ini. Sebab, itu berhubungan dengan kehidupan. Dengan berkurangnya jumlah PSK, saat ini juga banyak warga sekitar yang kehilangan pekerjaan. “Dulu ada yang tukang cuci dan orang jualan ramai, sekarang tidak ada lagi,” sebutnya.
Untuk pembinaan para mucikari dan PSK, Frenky menyampaikan kalau selama ini diadakan pengajian rutin setiap minggu sekali. Dalam pengajian itu juga diisi dengan ceramah agama. “Kalau ada yang mau menikahi, cewek-cewek itu ya bisa habis,” katanya.(abi)
Editor : AF Ichsan Rasyid