Ada banyak cara petani menikmati melimpahnya hasil panen. Salah satunya tradisi suku Oseng ngerujak sawah. Pemilik sawah bersama anak keluarga pergi ke sawah untuk memanjatkan doa serta makan bersama dengan menu yang wajib pecel pitik dan rujak buah.
KRIDA HERBAYU, Glagah
Embun menyambut langkah kaki para petani yang akan menuju sawah. Sawah bagi suku Oseng bukan hanya tempat bekerja untuk menanam padi, melainkan sebagai tempat untuk mensyukuri melimpahnya hasil panen yang diberikan oleh sang pencipta.
Tujuan dari ngerujaki, yaitu untuk meminta keselamatan kepada Tuhan, memohon hasil panen melimpah dan baik, memenuhi permintaan penunggu sawah, dan untuk menghormati serta menyenangkan Dewi Sri yang dipercaya oleh sebagian petani sebagai Dewi Padi.
Selain tujuan internal, ngerujaki juga bertujuan untuk bersedekah dengan makan bersama dan menguatkan tali silaturahmi antar-keluarga dan warga petani.
Ngerujaki sawah merupakan tradisi klasik yang masih diterapkan oleh masyarakat asli Oseng di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Para petani pergi ke sawah bersama sanak keluarga membawa makanan wajib berupa nasi putih, pecel pitik, rujak buah, dan beberapa syarat sesaji yang diletakkan di pojok-pojok petak persawahan.
Suasana religius terasa saat Abdul Rifai, 62, pemilik sawah mulai membakar kemenyan yang ditaruh di atas batok kelapa. Setelah asap kemeyan mengepul dan aromanya merebak di sudut-sudut persawahan, Abdul Rifa’i mulai memanjatkan doa. Doa yang dipanjatkan oleh Rifai juga diamini oleh sanak keluarga yang ikut dalam ritual tersebut.
Setelah doa dipanjatkan, Sutari, 77, mulai menaruh beberapa syarat sesaji yang berisi beras mentah, parutan kelapa, ceker pecel pitik, serta rujak buah yang di taruh dalam sebuah wadah daun pisang untuk diletakkan pada pojok-pojok petak sawah.
Abdul Rifa’i menuturkan, jika ritual tersebut dilakukan pada saat padi berbobot atau mulai tahap berbuah. Hal tersebut bertujuan agar panen yang didapatkan pada periode berikutnya lebih melimpah lagi dan diharapkan tidak ada hama yang menyerang. “Kami melakukan ritual tersebut setiap periode. Agar panen yang didapat melimpah serta mensyukuri panen yang didapat pada periode lalu,” ujar Rifa’i.
Buah yang ada di dalam rujak tersebut juga tidak sembarangan dipilih. Di dalam rujak tersebut berisi berupa ubi, mentimun, dan juga pepaya. Mereka memang sengaja memilih buah tersebut karena sudah ditanam di pinggir sawah dan mudah didapatkan. ”Kami memilih buah tersebut karena setiap hari tersedia dan ada di sekitar area persawahan, serta tidak susah dicari,” ungkap Rifai.
Setelah ritual tersebut usai dilakukan, saatnya pecel pitik di santap di bawah pondok sekitar area persawahan. Kehangatan keluarga sangat kental terasa saat bersama-sama menyantap makanan khas Banyuwangi pecel pitik tersebut.
Kesederhanaan, kekeluargaan, dan selalu bersyukur merupakan makna yang didapatkan dari ritual tersebut. Saat ini ritual ngerujaki sawah sudah mulai hilang di tengah masyarakat Banyuwangi. ”Saya terus melakukan tradisi tersebut dan menurunkannya ke anak cucu saya. Agar mereka tradisi ini terus dilestarikan oleh mereka,” papar Rifai.
Ngerujaki tidak hanya pada waktu padi mulai berbuah saja. Ada beberapa pemilik sawah yang menginginkan ngerujaki dilakukan pada waktu akan membajak sawah dan saat panen padi. Ngerujaki adalah ritual turun temurun dan sampai sekarang ritual itu masih tetap ada. Cara bersyukur seperti itulah yang harus terus dilestarikan, selain pandai mensyukuri berkah dari sang pencipta, ngerujaki sawah juga berguna untuk mempererat kerukunan antarpetani.