Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Fashion Festival De Djawatan 2023 Padukan Karya Yang Maha Kuasa dan Anak Bangsa

Lugas Rumpakaadi • Senin, 24 Juli 2023 | 20:30 WIB
eserta BFF memeragakan busana dengan latar hutan De Djawatan, Kecamatan Cluring, Sabtu (22/7)
eserta BFF memeragakan busana dengan latar hutan De Djawatan, Kecamatan Cluring, Sabtu (22/7)

RADAR GENTENG – Gelaran Banyuwangi Fashion Festival (BFF) kembali digelar, Sabtu (22/7). Acara yang rutin digelar oleh Pemkab Banyuwangi setiap tahun itu, untuk tahun ini dilaksanakan di lokasi wisata De Djawatan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

Naungan pohon trembesi berlumut dengan usia ratusan tahun, menjadi latar yang mempesona. Para pengunjung yang hadir, banyak yang terkagum. “Tempat ini sangat indah, dan pemandangannya juga sangat bagus,” cetus Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Bupati Ipuk menyebut, De Djawatan yang menyuguhkan puluhan pohon trembesi berusia ratusan tahun hingga membuat pemandangan bagus, salah satu karya dari yang maha kuasa yang diberikan pada masyarakat Banyuwangi, dan ini harus disyukuri. “Ini kita padukan dengan karya anak bangsa dalam Banyuwangi Fashion Festival,” katanya. 

Menurut Bupati Ipuk, BFF kali pertama dilaksanakan pada 2017 semasa Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anaz. Dan ini diteruskan hingga saat ini. “Kami bangga kepada desainer muda yang telah berupaya menciptakan kreativitas keanekaragaman, ciri khas kebudayaan Banyuwangi dalam fashion,” katanya.

Fashion, ujar Bupati Ipuk, terus berubah seiring dengan perkembangan budaya, teknologi, dan dinamika masyarakat. Fashion manifestasi kreativitas dan identitas, serta bagian penting dari kehidupan sehari-hari banyak orang di seluruh dunia.

“Acara ini panggung bagi anak-anak muda untuk berkarya, dan bersemangat untuk tetap kreatif dalam desain,” ujarnya.

Berkaca pada kesuksesan gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2023, kegiatan itu mampu menyedot pengunjung kisaran 100 ribu orang.  Dan itu berimplikasi pada permintaan di berbagai sektor layanan barang dan jasa, mulai dari makanan, minuman, transportasi, hingga akomodasi.

“Tercatat perputaran uang di Banyuwangi tembus hingga Rp 8,32 miliar, festival itu salah satu bagian dari agenda dan upaya pemulihan ekonomi,” cetusnya.

Pemkab Banyuwangi, lanjut dia, akan terus membantu, memfasilitasi, dan memajukan industri kreatif, salah satunya industri fashion. “Dengan memberikan bantuan permodalan, pendampingan usaha, dan masih banyak lagi yang lain,” katanya.

Membangun industri fashion, lanjut dia, bukan perkerjaan yang mudah, butuh perjalanan panjang. Sebuah ekosistem harus dibuat, mulai dengan lomba mewarnai gambar bagi anak-anak, lomba-lomba perancang mode, hingga peragaan fashion yang melibatkan sekolah SMK negeri, pondok pesantren, dan disabilitas. “Industri tekstil dan aksesoris juga harus disiapkan, rantai pasok harus dijaga,” pintanya.

Lewat kegiatan BFF ini, Bupati Ipuk ingin mengembangkan industri fashion yang berkelanjutan. Selain mengadopsi budaya-budaya dan nilai-nilai kearifan lokal, juga menjadi bagian implementasi konsep-konsep ramah lingkungan.(gas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#BEC #budaya #BFF #fashion #festival #pemulihan ekonomi #De Djawatan #teknologi #batik #Ipuk Fiestiandani