RadarBanyuwangi.id - Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) menggelar Festival Permainan Anak Tradisional di Taman Blambangan, Sabtu (22/7).
Acara yang diikuti 1.275 siswa pelajar jenjang Sekolah Dasar (SD) dari 25 kecamatan tersebut menampilkan defile atau parade permainan tradisional khas zaman dulu.
Kegiatan kali ini mengusung tema bermain bersama untuk Indonesia sehat, cerdas, dan berkarakter. Setiap kontingen menampilkan ragam permainan tradisional yang dimainkan oleh ratusan anak. Tak ketinggalan, mereka mengenakan aneka kostum.
Permainan yang ditampilkan mulai dari egrang, congklak, bakiak, jaranan, hingga bedhil-bedhilan yang terbuat dari pelepah pisang.
Peserta lain juga menampilkan permainan tradisional seperti mobil-mobilan dari bahan bambu, kayu, dan sabut kelapa. Ada juga yang membawakan buah tangan hasil panen kebun, berupa buah-buahan untuk tamu undangan.
Selama acara berlangsung, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut menikmati dan larut dalam keceriaan anak-anak.
Sebelum kegiatan dimulai, Ipuk juga membuka acara secara simbolis dengan bermain bakiak panjang dan adu kekompakan bersama anak-anak. Selain itu, sesekali Bupati juga membaur untuk bermain bekel bersama para peserta.
Kegiatan festival permainan anak tradisional tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi seluruh anak-anak Banyuwangi, untuk bisa mendapatkan panggung dan mengapresiasikan diri. Sehingga mereka dapat lebih mengaktualisasikan karakter diri lebih baik.
”Saya yakin, dengan adanya kegiatan ini, selain mendapat kebahagiaan, anak-anak akan lebih bisa mengembangkan diri sehingga lebih terampil. Mereka juga tentunya akan lebih fokus menumbuhkan kepemimpinan diri dalam mewujudkan keberhasilan tim,” kata Ipuk.
Ipuk juga meminta, pembelajaran tidak menjadi rumit dan tidak menumbuhkan jiwa murid menjadi dewasa sebelum waktunya. Hal tersebut akan menghilangkan waktu berharga yang dimiliki anak-anak untuk bermain dan menikmati waktu bahagianya.
”Jangan paksa anak hanya untuk memiliki nilai seratus dalam mata pelajaran. Biarkan anak-anak tumbuh dan belajar dengan bahagia. Sehingga proses pembelajaran yang diterima tidak memberatkan,” jelasnya.
Plh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Dwi Yanto mengungkapkan, pengembangan diri melalui permainan tradisional menjadi salah saru kearifan lokal dalam membentuk karakter anak.
Selain itu, kegiatan permainan tradisional tersebut menjadi salah satu wujud kegiatan yang hampir dilupakan di era modern.
”Kita fokuskan kegiatan ini pada permainan tradisional sebagai bagian kehidupan anak anak. Selain itu, kegiatan ini juga untuk menumbuhkan nilai-nilai kebiasaan, dan mengembangkan kemampuan diri melalui permainan tradisional,” tandasnya. (tar/bay)
Editor : Ali Sodiqin