Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dibangun Tahun 1953 Tanpa Besi dan Semen, Arsitektur Ponpes Nahdlatut Thullab Sita Perhatian Peserta FAN

Dedy Jumhardiyanto • Kamis, 29 Juni 2023 | 14:30 WIB
TETAP KOKOH: Gedung bangunan B3 Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono ini dibangun sejak tahun 1953 tanpa konstruksi besi dan semen.
TETAP KOKOH: Gedung bangunan B3 Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono ini dibangun sejak tahun 1953 tanpa konstruksi besi dan semen.

RadarBanyuwangi.id – Bangunan gedung Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab yang berada di Dusun Kaligoro, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi, menjadi salah satu daftar pesantren yang dikunjungi peserta field trip Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2023 pada Kamis lalu (22/6). Gedung berlantai tiga yang dibangun tahun 1953 tersebut cukup kokoh meski tanpa campuran semen dan konstruksi besi.

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peran pondok pesantren (ponpes). Salah satunya adalah Ponpes Nahdlatut Thullab yang berada di Dusun Kaligoro, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono. Pesantren yang didirikan oleh KH Dimyathi Asy Syafi’i pada tahun 1953 ini menjadi salah satu rute kunjungan peserta field trip Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2023.

Selain memiliki arsitektur kuno, gedung B3 tiga lantai dibangun tanpa konstruksi besi dan campuran semen. Peserta field trip tiba di pesantren saat magrib. Peserta yang beragama Islam langsung mengambil wudu dan menunaikan salat Magrib berjemaah.

Usai salat Magrib, peserta yang sebagian besar adalah arsitek muda dari berbagai kota di Indonesia langsung disambut hangat oleh keluarga besar pengasuh pesantren tersebut. ”Pada masa perjuangan kemerdekaan, Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab adalah salah satu pesantren yang dijadikan sebagai markas Laskar Hizbullah,” ungkap pengasuh pondok pesantren Nahdlatut Thullab KH Ahmad Wafirudin memulai pembicaraan.

Menurut Kiai Wafirudin, Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab didirikan oleh Kiai Dimyathi Syafi’i pada tahun 1935. Selain sebagai pondok pesantren yang mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga menjadi markas para laskar Hizbullah dalam mengatur strategi melawan kolonialisme Belanda. ”Santri yang belajar ilmu agama di pondok pesantren ikut terlibat dalam perlawanan berjuang melawan penjajah Belanda,” jelasnya.

Menghadapi agresi militer kedua Belanda tahun 1944, KH Dimyathi mendapat seruan Resolusi Jihad dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang isinya adalah ”Hukum melawan dan mengusir Belanda fardu’ain”.  Mendapat seruan seperti itu, KH Dimyathi Asy Syafi’i yang kala itu menjabat sebagai Rais Syuriyah NU Cabang Blambangan, beserta Laskar Hizbullah langsung angkat senjata berjuang menghadapi Belanda.

SIMAK CERITA: Peserta field trip Festival Arsitektur Nusantara (FAN) ditemui KH Ahmad Wafirudin selaku pengasuh pondok pesantren Nahdlatut Thullab Desa Kepundungan.
SIMAK CERITA: Peserta field trip Festival Arsitektur Nusantara (FAN) ditemui KH Ahmad Wafirudin selaku pengasuh pondok pesantren Nahdlatut Thullab Desa Kepundungan.

Perlawanan demi perlawanan terus dilancarkan oleh KH Dimyathi beserta santri-santrinya. Berbagai cara dilakukan oleh Belanda untuk menangkap KH Dimyathi. Bahkan, tiga orang santri gugur dan pesantren tersebut dibakar habis oleh Belanda. ”Tahun 1948 semua bangunan pesantren dan kitab-kitab habis terbakar. Yang tersisa hanya bangunan surau (masjid),” ucap KH Ahmad Wafirudin di hadapan peserta field trip.

KH Dimyathi kembali merintis bangunan pesantren yang dulunya dibakar oleh Belanda. Pada tahun 1953 KH Dimyathi kembali mendirikan pondok pesantren yang telah habis dibakar tersebut. Kala itu, pihak pesantren mendapat sumbangan dari pemerintah Indonesia. ”Bantuan uang dari pemerintah diserahkan Presiden Soekarno kepada Kiai Dimyathi. Uangnya ditutupi bawang,” jelas KH Ahmad Wafirudin

Berbekal bantuan pemerintah Indonesia, KH Dimyathi membangun gedung pondok B lantai 3 yang dimulai pada tahun 1953. Proses pembangunannya memakan waktu tiga tahun. ”Jadi, gedung lantai tiga ini dibangun secara gotong royong bersama santri. Ada yang mencari pasir dan batu dari sungai di sebelah barat pondok,” terang Kiai Wafirudin.

Yang menarik, bangunan tiga lantai tersebut dibangun tanpa menggunakan konstruksi besi dan campuran semen, melainkan menggunakan bahan campuran pasir dengan batu bata yang digepuk dan dihaluskan. ”Berkat doa santri sampai sekarang bangunan gedungnya masih kokoh. Padahal tidak ada besi dan tidak menggunakan semen. Gedung ini baru direhab karena gentengnya banyak yang rontok. Karena tidak ada yang berani ganti dan terlalu tinggi, maka bagian atapnya diganti dengan galvalum,” bebernya.

Sampai sekarang, bangunan pesantren tersebut tetap kokoh dan berdiri megah sebagai simbol perjuangan pesantren melawan penjajah. Dari dulu hingga sekarang, gedung bangunan B3 tersebut masih aktif digunakan sebagai tempat belajar-mengajar santri. ”Lantai satunya untuk ruang belajar, lantai dua asrama, dan lantai tiganya aula,” tandas Kiai Wafirudin.

Peserta field trip kemudian diperkenankan meninjau langsung bangunan pesantren B3 tersebut. Karena bangunan sudah tua, peserta yang naik ke lantai dua dan tiga juga dibatasi. ”Bangunan tua, unik, dari desain juga bagus. Tanpa besi dan semen itu langka, mungkin karena bantuan doa yang membuat kokoh,” ujar Jefriyadi, salah seorang peserta field trip. (ddy/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#penjajah #pondok pesantren #field trip #semen #Festival Arsitektur Nusantara #banyuwangi #besi