BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Banyuwangi bersama Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) menggelar pelatihan roasting kopi tradisional kemarin (16/2). Event menyangrai kopi yang berlangsung di halaman JP-RaBa itu diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Bumi Blambangan.
Pelatihan kemarin menghadirkan master kopi internasional, Setiawan Subekti. Iwan –panggilan akrabnya— berbagi tips cara memilih biji kopi yang bagus serta teknik menyangrai hingga menghasilkan cita rasa kopi yang baik. ”Kopi asli itu digiling, bukan digunting,” kata Iwan.
Sebelum praktik langsung menyangrai kopi, peserta mendapatkan ilmu seputar kopi dari sang master di Seblang Room JP-RaBa.
Siska Purwanti, 25, seorang peserta asal Genteng, mengaku mendapat banyak ilmu tentang kopi, khususnya teknik roasting kopi tradisional menggunakan tungku. Sebelumnya, dia belum mengetahui cara roasting kopi yang baik dan benar.
”Saya tinggal di desa, saat menyangrai kopi masih sering dicampur dengan beras. Baru dientas kalau sudah berwarna hitam legam alias gosong,” ujar perempuan yang juga membuka warung kopi itu.
Siska berjualan kopi saset, bukan kopi asli yang diseduh dengan cara digiling. ”Ada beberapa kopi yang saya ambil dari beberapa teman, tapi masih belum tahu cara teknik sangrai dan penyeduhannya agar cita rasanya tambah nikmat. Setelah ikut pelatihan, saya bisa memproses sendiri. Kopi asli itu digiling, bukan digunting,” kata Siska menirukan wejangan sang master Iwan Subekti.
Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi menambahkan, pelatihan menyangrai kopi secara tradisional merupakan salah satu cara untuk mendorong wirausaha baru melalui pelatihan roasting. ”Hipmi memfasilitasi, mendorong, dan mendukung gagasan ini sehingga bisa terselenggara dengan baik,” jelasnya.
Untuk memberikan ilmu seputar kopi, pihaknya sengaja mendatangkan Setiawan Subekti, master kopi dunia yang hingga kini masih tercatat sebagai juri kopi internasional. ”Melalui pelatihan ini peserta akan tahu bagaimana cara menyangrai kopi secara tradisional dengan baik dan benar. Kualitas kopi yang disajikan juga memiliki cita rasa tinggi,” terangnya
Lebih dari itu, para peserta bisa menjadi pengusaha kopi yang baik dan benar. Meski tidak menggunakan peralatan modern dan canggih, tetapi diharapkan peserta bisa menyuguhkan kopi bercita rasa enak.
”Kalau dengan alat canggih, maka kualitas rasanya akan sama. Jika roasting sendiri dan menyeduh sendiri hasilnya akan berbeda. Dengan pelatihan ini suguhan kopi di tempat masing-masing peserta akan dirindukan dan mendapat pelanggan yang loyal,” tandas Samsudin.
Tak sekadar menyangrai, para peserta juga diminta mempraktikkan mengatur suhu tungku agar kualitas biji kopi yang disangrai benar-benar mendapatkan cita rasa yang nikmat saat diseduh. Hasil biji kopi yang telah disangrai kemudian disetor kepada panitia dan digiling untuk dicicipi oleh narasumber.
Para peserta juga mendapatkan piagam penghargaan telah mengikuti pelatihan roasting kopi tradisional. Pelatihan ini adalah tingkat dasar dan akan ada pelatihan lanjutan. Para peserta akan mengikuti pelatihan lanjutan tentang mengenal kopi lebih jauh, termasuk akan dilatih cara nyeruput kopi yang benar.
Editor : Rahman Bayu Saksono