RadarBanyuwangi.id – Tumpeng Sewu merupakan satu di antara sekian banyak tradisi masyarakat adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Dalam kondisi normal, tradisi ini rutin digeber setiap bulan Zulhijah. Kini, tradisi ini hanya untuk lingkup keluarga di rumah masing-masing.
Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Desa Kemiren. Sebelum makan Tumpeng Sewu warga berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit karena ritual Tumpeng Sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Usai kumandang doa yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama.
Sesuai namanya, sekitar seribu tumpeng disajikan warga di jalan desa setempat untuk dimakan beramai-ramai. Tak ayal, setiap kali Tumpeng Sewu digelar, ribuan orang tumplek-blek memadati jalan utama desa adat tersebut.
Tradisi ini pun berkembang. Bukan hanya menjadi ritual adat, kegiatan tersebut belakangan menjadi atraksi wisata yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Bumi Blambangan.
Para tamu pengunjung yang berasal dari seantero Banyuwangi maupun luar daerah memasuki jalanan desa sambil berjalan kaki untuk menghormati ritual tersebut. Mereka yang melintasi jalan, disapa warga setempat untuk diajak menikmati tumpeng yang mereka suguhkan.
Sekitar pukul 18. 00 atau usai salat Magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah-rumah warga. Di hadapan warga tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Desa Adat Desa Kemiren, yakni pecel pitik alias pecel ayam yang dilengkapi dengan sayur lalapan.
Namun, pandemi Covid-19 yang melanda tanah air sejak 2020 berdampak cukup besar terhadap pelaksanaan tradisi yang satu ini. Memang, saat pandemi, masyarakat Desa Kemiren tetap menggelar Tumpeng Sewu. Hanya, sejak tahun lalu, tradisi ini digelar ”tertutup” alias hanya diikuti warga setempat.
Kepala Desa (Kades) Kemiren M. Arifin mengatakan, meski pandemi melanda, masyarakat tetap menggelar tradisi Tumpeng Sewu. Tidak terkecuali tahun ini. ”Ini kami lakukan untuk melestarikan tradisi sekaligus memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Kemiren selalu dilimpahi keberkahan,” ujarnya.
Arifin menuturkan, walaupun tetap digelar, namun pelaksanaan Tumpeng Sewu pada 2020 dan tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19 melanda. ”Selamatan Tumpeng Sewu tetap digelar. Namun, kami meminta masyarakat tidak mengundang warga luar Kemiren. Tumpeng hanya dinikmati bersama keluarga masing-masing,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin