Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Petik Laut Muncar Siap Digeber Secara Sederhana di Bulan Oktober

Ali Sodiqin • Senin, 16 Agustus 2021 | 18:45 WIB
petik-laut-muncar-siap-digeber-secara-sederhana-di-bulan-oktober
petik-laut-muncar-siap-digeber-secara-sederhana-di-bulan-oktober

RadarBanyuwangi.id – Nelayan di Kecamatan Muncar punya cara unik untuk mengungkapkan syukur kepada Sang Khalik atas rezeki yang didapat dari hasil melaut. Setiap tahun mereka menggelar petik laut.


Sudah seabad lebih tradisi petik laut digelar para nelayan di sentra penghasil ikan laut terbesar nomor dua di Indonesia tersebut. Tradisi ini digelar sebagai sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mereka mengais rezeki. Tradisi yang mulai digelar sejak tahun 1901 ini selalu diadakan pada tanggal 15 Muharam bertepatan dengan pasang air laut.


Petik Laut Muncar diawali dengan mengarak sesaji keliling kampung. Masyarakat menyebutnya ”ider bumi” dan tirakatan serta pengajian. Sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah- buahan, pancing emas, dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup ini ditata apik dalam sebuah replika perahu nelayan, selanjutnya dilepaskan di tengah laut dengan iringan kapal nelayan setempat.


Sesampai di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muncar, sesaji disambut enam penari gandrung yang kemudian membawa sesaji itu ke atas kapal. Saat itulah warga berebut naik kapal pengangkut sesaji karena meyakini bisa mendapat limpahan berkah.


Perjalanan selama satu jam ditempuh kapal-kapal dan diiringi musik-musik dari kapal. Kapal-kapal itu kemudian berhenti di lokasi yang berair tenang, dekat Semenanjung Sembulungan. Di sini ritual pelepasan sesaji yang dipimpin sesepuh nelayan dilakukan.


Teriakan syukur sontak menggema saat sesaji jatuh dan tenggelam ke laut. Beberapa nelayan bergegas menceburkan diri ke laut berebut mendapatkan sesaji. Sesekali mereka juga terlihat menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu.


Ritual dilanjutkan tabur bunga ke Makam Sayid Yusuf yang ada di Sembulungan, kemudian diakhiri dengan selamatan dan doa bersama. Sayid Yusuf adalah orang pertama yang membuka lokasi Tanjung Sembulungan.


Masyarakat setempat berkomitmen terus melestarikan tradisi Petik Laut tersebut. Tidak terkecuali di saat pandemi Covid-19.


Versi Kepala Desa (Kades) Kedungrejo, Kecamatan Muncar Ahmad Zaihu, komitmen itu diwujudkan tahun lalu. Meski saat itu pandemi Covid-19 sudah terjadi, nelayan Muncar tetap menggelar tradisi petik laut, walaupun acaranya digelar tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.


Pun demikian tahun ini. Kades Zaihu menuturkan, masyarakat setempat berencana kembali melangsungkan tradisi petik laut. Rencananya, ritual tersebut bakal digeber awal Oktober 2021 mendatang. ”Acaranya tidak sebesar saat petik laut digelar sebelum pandemi Covid-19. Yang penting esensi kegiatan tersebut tetap dilaksanakan,” kata dia.


Zaihu menambahkan, esensi petik laut adalah wujud ungkapan syukur atas rezeki yang dilimpahkan Tuhan kepada nelayan Muncar. ”Maka, selain selamatan petik laut, juga digelar khataman Alquran di masjid pada malam sebelum petik laut diselenggarakan,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)


Editor : Ali Sodiqin
#tradisi #budaya #adat