Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kebo-keboan Alasmalang Stop Beraksi karena Masih Pandemi

Ali Sodiqin • Senin, 16 Agustus 2021 | 18:15 WIB
kebo-keboan-alasmalang-stop-beraksi-karena-masih-pandemi
kebo-keboan-alasmalang-stop-beraksi-karena-masih-pandemi


RadarBanyuwangi.id – Salah satu tradisi tahunan di Bulan Suro (Muharram) yang terpaksa harus disetop lantaran pandemi Covid-19 adalah Kebo-keboan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Biasanya venue dijubeli ribuan massa, kini lokasi tradisi tahunan itu sepi. 



Kebo-keboan merupakan salah satu upacara adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi. Sesuai namanya, Kebo-keboan dilakukan dengan mengarak kerbau. Bukan kerbau asli, melainkan manusia yang berdandan seperti kerbau. Mereka dilumuri cat berwarna gelap dan memakai aksesori tanduk di kepala, jadilah kerbau jadi-jadian.



Upacara adat tersebut diyakini sudah ada sejak 300 tahun yang lalu, tepatnya pada abad ke-18. Ritual ini biasa diselenggarakan pada awal bulan Suro, penanggalan Jawa. Tujuan upacara adat ini tak lain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur petani kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah. Di sisi lain juga merupakan doa dan harapan agar proses tanam benih untuk tahun depan dapat menghasilkan panen yang melimpah.



Kerbau mempunyai simbol sebagai tenaga andalan bagi petani. Binatang kerbau sangat lekat dengan kebudayaan agraris. Hewan ternak ini sangat membantu pekerjaan petani dalam mengolah lahan sawahnya.



Legenda upacara adat Kebo-keboan berasal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan tujuan agar bisa menyembuhkan wabah penyakit di Desa Alasmalang. Sebab, penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan oleh kekuatan manusia. Bila terkena penyakit di malam hari, paginya orang tersebut akan mati.



Selain wangsit tersebut, para petani juga diminta agar menjelma menjadi seperti kerbau. Hingga akhirnya upacara adat tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan dianggap sebagai kearifan lokal Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.



Upacara tradisi ini mampu menyedot ribuan pengunjung untuk menyaksikan keunikan pertunjukan petani yang beratraksi seperti kebo. Bahkan, upacara adat ini juga masuk dalam agenda Banyuwangi Festival.



Kebo-keboan Alasmalang digelar di sebuah areal pertanian di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Di tengah areal tersebut, terdapat satu petak sawah yang telah digenangi air. Petak sawah inilah yang menjadi ”arena pertempuran” para kerbau yang dimainkan oleh petani.



Puluhan petani berdandan layaknya kerbau. Memakai tanduk buatan lengkap dengan rambut surai dan badan dilumuri jelaga hitam. Tak lupa, memakai gelang kerincing dan membawa bajak tradisional. Sebagai simbol kerja sama antara petani dan hewan bajak yang berperan membantu petani menyuburkan tanah.



Ritual yang dilakukan tiap bulan Suro penanggalan Jawa ini, diawali dengan syukuran dan makan bersama di persimpangan jalan desa. Selanjutnya, dipimpin seorang tokoh adat setempat, 30 manusia kerbau diarak mengelilingi empat penjuru desa dengan iringan musik tradisional masyarakat Osing. Prosesi ini disebut ider bumi. Di sepanjang jalan, mereka berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung.



Ritual ini diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi oleh kerbau-kebauan di petak sawah yang telah disediakan. Dalam prosesnya benih padi yang nantinya ditabur oleh Dewi Sri ini akan banyak diperebutkan warga. Sebab, bibit tersebut diyakini akan menghasilkan hasil panen yang lebih berlimpah.



Saat pandemi virus korona melanda tahun 2020 lalu, upacara adat tolak bala ini terpaksa tak digelar karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kerumunan. Sementara, tahun ini pun masih ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Karena itu, belum ada tanda-tanda jika upacara adat ini akan kembali digelar. ”Untuk sementara ditiadakan, hanya selamatan barikan biasa, itu pun di depan rumah warga masing-masing,” ujar Indra Gunawan, tokoh adat setempat.



Biasanya jika upacara ini digelar akan diawali dengan pemasangan gapura bambu yang menampilkan hasil pertanian dan perkebunan. Gapura bambu itu dipasang mulai dari pintu masuk Dusun Krajan dan di sepanjang jalan kampung. Sayangnya pemandangan itu kini sudah tak lagi ditemukan. Semoga saja pandemi ini segera berakhir. (ddy/bay/c1)


Editor : Ali Sodiqin
#tradisi #budaya #adat #kebo-keboan