Rahasia LRT Jabodebek Jaga 43 Km Rel Agar Tetap Prima

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 19:42 WIB
Petugas prasarana melakukan pemeliharaan rutin rel LRT Jabodebek pada malam hari. (ANTARA)
Petugas prasarana melakukan pemeliharaan rutin rel LRT Jabodebek pada malam hari. (ANTARA)

RADAR BANYUWANGI - Ketika jutaan warga Jabodetabek terlelap, puluhan petugas prasarana LRT Jabodebek justru memulai giliran kerja krusial mereka.

Setiap dini hari, tepatnya pada masa jeda operasional pukul 00.00 hingga 04.00 WIB, lintasan rel sepanjang kurang lebih 43 kilometer disisir tanpa celah demi memastikan keselamatan ribuan penumpang keesokan paginya.

Langkah terencana ini menjadi fondasi utama dalam menjaga kelancaran perjalanan kereta modern tersebut.

Pengecekan dilakukan secara bertingkat, mulai dari pemantauan harian sampai perawatan berkala yang terjadwal ketat sesuai Standard Operational Procedure (SOP) dan ketentuan teknis resmi.

Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menegaskan bahwa keselamatan pengguna dan perjalanan armada selalu berada di urutan teratas.

Pemeriksaan prasarana berfungsi untuk mendeteksi potensi ketidaksesuaian komponen sedini mungkin agar segera tertangani.

"Keselamatan pengguna dan perjalanan LRT Jabodebek menjadi prioritas dalam penyelenggaraan layanan transportasi publik. Karena itu, kondisi prasarana jalur perlu dijaga melalui pemeriksaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin dan terencana," kata Radhitya.

Dalam agenda harian, petugas mengukur lebar rel 1.435 milimeter menggunakan alat khusus matisa.

Mereka juga melakukan pelumasan jalur lengkung, memeriksa geometri lintasan, merawat jalur beton, sistem penambat rel (fastening system), pagar pengaman (safety fence), serta memastikan aspek drainase dan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tetap prima.

Perawatan berkala juga menyasar komponen vital lain seperti wesel rel, pelindung rel (guard rail), plinth track atau struktur beton pendukung, hingga batas usia penambat.

Titik sambungan rel yang dipasang lewat teknik pengelasan flash butt dan thermit, pelat sambung, serta buffer stop di ujung lintasan tak luput dari inspeksi.

Tak hanya itu, kesiapan jalur ditopang oleh teknologi Seismic Detection Alarm System (SDAS) dan perangkat penjepit (clamping device).

Sistem SDAS secara otomatis memberi peringatan mengenai getaran gempa bumi terhadap prasarana, sehingga petugas langsung memiliki rujukan untuk mengambil tindakan pengamanan cepat.

Pemeriksaan menyeluruh ini mencakup struktur bawah jalur (substructure) hingga pemangkasan dahan pohon di sekitar koridor lintasan.

Seluruh upaya ini dilakukan agar potensi gangguan eksternal tidak sampai mengusik mobilitas masyarakat.

"Keandalan transportasi publik tidak hanya bergantung pada pengoperasian kereta, tetapi juga pada kondisi prasarana yang menunjang perjalanan. Pemeliharaan jalur dan komponen pendukungnya menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan LRT Jabodebek untuk mobilitas harian," ujar Radhitya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Kabar LRT Berita Infrastruktur lrt jabodebek transportasi publik Keselamatan kereta