MRT ke Tangerang Selatan Tunggu Studi hingga Desember 2026, Kapan Dibangun?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16:47 WIB
Kereta MRT Jakarta tiba di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dalam foto arsip 19 Maret 2019. Rencana perpanjangan jalur menuju Serpong, Tangerang Selatan, masih menunggu hasil studi kelayakan pada Desember 2026. (Syaifan Bahtiar Nirwansyah/Wikimedia Commons)
Kereta MRT Jakarta tiba di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dalam foto arsip 19 Maret 2019. Rencana perpanjangan jalur menuju Serpong, Tangerang Selatan, masih menunggu hasil studi kelayakan pada Desember 2026. (Syaifan Bahtiar Nirwansyah/Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI – Rencana pembangunan MRT Jakarta hingga Tangerang Selatan (Tangsel) belum juga memasuki tahap konstruksi. Proyek yang akan menghubungkan Lebak Bulus dengan Serpong itu masih menunggu hasil studi kelayakan bersama Sinar Mas Land. Kajian tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Artinya, masyarakat Tangerang Selatan masih harus menunggu kepastian kapan proyek transportasi massal tersebut mulai dibangun. Sebab, penyelesaian studi belum otomatis menjadi lampu hijau untuk memulai konstruksi.

PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan penyusunan studi kelayakan atau feasibility study (FS) masih berjalan sesuai target.

Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta Rendy Primartantyo mengatakan, hasil kajian diharapkan bisa disampaikan kepada pemerintah pada akhir tahun ini.

“Pada Desember 2026, diharapkan sudah tersedia hasil studi,” kata Rendy, Jumat (16/10).

Hasil kajian itu nantinya menjadi bahan pembahasan bersama kementerian dan pemerintah daerah terkait. Pembahasan diperlukan sebelum keputusan lanjutan mengenai pengembangan jalur MRT menuju Tangerang Selatan diambil.

Konstruksi MRT Tangsel Belum Bisa Dipastikan pada 2027

Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat sebelumnya mengingatkan bahwa penyelesaian studi kelayakan tidak berarti konstruksi bisa langsung dilakukan pada tahun berikutnya.

“Akhir tahun kajiannya baru selesai, akhir tahun. Belum itu (belum bisa dibangun tahun depan),” ujar Tuhiyat, Minggu (21/6).

Menurut Tuhiyat, masih ada sejumlah tahapan setelah kajian rampung. Di antaranya pembahasan kelembagaan, penentuan skema pembiayaan, dan penyusunan desain teknis terperinci atau detail engineering design (DED).

Dengan demikian, hingga Oktober 2026, belum ada jadwal resmi dimulainya konstruksi maupun target pengoperasian MRT Lebak Bulus–Serpong.

Dari sisi pendanaan, MRT Jakarta juga belum menetapkan skema yang akan digunakan. Pilihan kerja sama dengan mitra pendanaan, termasuk Japan International Cooperation Agency (JICA), masih terbuka.

Meski demikian, keterlibatan JICA dalam proyek tersebut belum diputuskan.

Rute MRT Lebak Bulus–Serpong Masih Dikaji

Kerja sama MRT Jakarta dengan Sinar Mas Land telah dimulai melalui penandatanganan nota kesepahaman pada 24 Juli 2025.

Kolaborasi itu melibatkan PT Bumi Serpong Damai Tbk yang merupakan bagian dari Sinar Mas Land.

Berdasarkan siaran pers resmi MRT Jakarta, kajian mencakup sejumlah aspek penting. Mulai penentuan lintasan atau trase, proyeksi jumlah penumpang, kebutuhan investasi, biaya operasional, hingga kelayakan ekonomi dan bisnis.

Kajian tersebut juga meliputi aspek kelembagaan dan regulasi.

“Hasil dari kajian ini akan disampaikan kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan,” ujar Tuhiyat dalam keterangan resmi MRT Jakarta, 25 Juli 2025.

Sementara itu, rincian jalur yang bakal dilewati kereta MRT menuju Serpong belum diumumkan secara resmi.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menjelaskan bahwa keterbukaan informasi mengenai rute perlu mempertimbangkan risiko spekulasi harga tanah.

Menurut dia, pengumuman lintasan sebelum proyek siap dilaksanakan berpotensi mendorong kenaikan biaya pengadaan lahan.

“Kalau saya yang penting jangkauannya semakin jauh dan konektivitasnya lebih baik,” kata Dudy, Jumat (26/6).

Karena itu, informasi yang beredar mengenai kemungkinan jalur melewati Pondok Aren ataupun Pondok Cabe belum dapat dianggap sebagai penetapan trase resmi.

Penumpang MRT Jakarta Terus Bertambah

Rencana perpanjangan jalur menuju Tangerang Selatan muncul ketika penggunaan MRT Jakarta terus meningkat.

Pada September 2026, MRT Jakarta melayani 4.416.609 penumpang. Jumlah tersebut meningkat 2,13 persen dibandingkan Agustus 2026.

Berdasarkan laporan Bisnis.com, 12 Oktober 2026, rata-rata penumpang MRT Jakarta mencapai 147.220 orang per hari sepanjang September.

Pada hari kerja, rata-ratanya mencapai 165.423 penumpang per hari.

Peningkatan penggunaan MRT tersebut memperlihatkan tingginya pemanfaatan angkutan massal yang telah beroperasi. Namun, potensi jumlah penumpang pada jalur baru Lebak Bulus–Serpong tetap harus dibuktikan melalui studi kelayakan tersendiri.

Jika kelak terealisasi, pengembangan MRT menuju Tangerang Selatan berpeluang memberikan pilihan perjalanan tambahan bagi masyarakat yang beraktivitas antara Jakarta dan kawasan Serpong.

Integrasinya dengan angkutan umum yang telah tersedia juga menjadi aspek penting. Kawasan Serpong saat ini antara lain dilayani KRL Commuter Line dan angkutan pengumpan.

Untuk sementara, masyarakat masih harus menunggu hasil studi pada Desember 2026. Dari dokumen itulah pembahasan mengenai kelayakan proyek, pendanaan, dan langkah pembangunan selanjutnya dapat dilakukan.

Belum ada kepastian mengenai tanggal dimulainya konstruksi, daftar stasiun final, tarif, ataupun waktu tempuh MRT menuju Tangerang Selatan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
MRT Tangerang Selatan MRT Lebak Bulus Serpong pembangunan MRT Tangsel 2026 Sinar Mas Land studi kelayakan MRT