Mengapa Kereta Api Jadi Andalan Logistik Jarak Jauh? Ini Data KAI 2026

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:15 WIB
Rangkaian kereta api barang membawa peti kemas melintasi jalur rel. Angkutan berbasis rel menjadi pilihan untuk distribusi logistik jarak jauh dengan volume muatan besar. (Andra Radithya/Wikimedia Commons)
Rangkaian kereta api barang membawa peti kemas melintasi jalur rel. Angkutan berbasis rel menjadi pilihan untuk distribusi logistik jarak jauh dengan volume muatan besar. (Andra Radithya/Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI - Buah naga dari Banyuwangi kini mulai menjajal pengiriman menggunakan kereta api menuju Jakarta. Pada 28 September 2026, KAI Logistik menggelar uji coba angkutan hasil pertanian dengan memberangkatkan 10 gerbong dari Stasiun Argopuro, Banyuwangi, Jawa Timur.

Muatan dalam perjalanan tersebut didominasi buah naga. KAI menargetkan layanan angkutan hasil pertanian dan peternakan itu mulai beroperasi secara reguler pada November 2026.

Pengembangan tersebut menjadi gambaran bahwa kereta api tidak hanya digunakan untuk mengangkut batu bara. Moda transportasi berbasis rel juga berpotensi memperkuat distribusi pangan, bahan baku industri, hingga kebutuhan konsumsi masyarakat.

Lantas, mengapa kereta api menjadi pilihan untuk distribusi logistik jarak jauh?

Baca Juga: KAI Diskon Tiket Eksekutif 10 Persen untuk 7 Kereta, Simak Jadwal dan Cara Belinya

Angkutan Barang KAI Terus Berkembang

Penggunaan kereta api untuk distribusi barang menunjukkan perkembangan. Berdasarkan siaran pers KAI pada 2 Oktober 2026, volume angkutan nonbatu bara sepanjang Januari–September 2026 mencapai 9.148.571 ton.

Jumlah tersebut tumbuh 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 8.912.566 ton.

Komoditas yang diangkut meliputi semen, klinker, peti kemas, bahan bakar minyak (BBM), pupuk, serta hasil perkebunan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan layanan angkutan barang terus dikembangkan untuk menjangkau lebih banyak komoditas.

"Angkutan non-batu bara KAI terus berkembang dengan komoditas yang semakin beragam," ujar Anne dalam siaran pers tersebut.

Perkembangan ini memperlihatkan peluang kereta api untuk mendukung rantai pasok dari sentra produksi menuju pasar yang berada di wilayah berbeda.

Baca Juga: Apa Itu ETCS Kereta Api? Teknologi Keselamatan yang Mengawasi Kecepatan dan Pengereman

Satu Rangkaian Bisa Menggantikan Banyak Truk

Kapasitas angkut menjadi salah satu keunggulan utama kereta api. Dibandingkan kendaraan pengangkut di jalan raya, satu rangkaian kereta dapat membawa barang dalam volume jauh lebih besar.

KAI memberikan contoh angkutan batu bara di Sumatra bagian selatan. Satu rangkaian mampu membawa hingga 3.000 ton batu bara dalam sekali perjalanan.

Dalam keterangan resmi KAI pada 27 April 2026, volume tersebut disebut setara dengan kapasitas sekitar 120 truk.

Perbandingan itu menunjukkan besarnya potensi pengangkutan menggunakan jalur rel. Namun, kapasitas sebenarnya tetap bergantung pada jenis gerbong, kekuatan lokomotif, serta kondisi prasarana.

Bagi perusahaan yang mengirimkan barang dalam jumlah besar secara rutin, kapasitas tersebut dapat membantu mengurangi jumlah perjalanan kendaraan dan meningkatkan efisiensi distribusi.

Baca Juga: Bagaimana Kereta Tanpa Masinis Bisa Berjalan dan Berhenti Sendiri? Ini Teknologinya

Mengapa Lebih Efisien untuk Jarak Jauh?

Pengiriman jarak jauh membutuhkan biaya bahan bakar, tenaga kerja, serta pengelolaan kendaraan. Semakin banyak perjalanan yang diperlukan, semakin besar pula potensi biaya operasional.

Kereta api memungkinkan muatan besar dipindahkan sekaligus melalui satu rangkaian. Karena itu, biaya angkut per ton berpotensi lebih rendah apabila kapasitas gerbong dimanfaatkan secara optimal.

Keunggulan lainnya terletak pada jadwal perjalanan yang terencana.

Berdasarkan data KAI, tingkat ketepatan waktu angkutan barang pada triwulan I 2026 mencapai 95,97 persen untuk keberangkatan dan 91,77 persen untuk kedatangan.

Jadwal tersebut membantu pelaku usaha memperkirakan waktu kedatangan barang dan mengatur ketersediaan persediaan.

Meski demikian, perjalanan kereta tetap berpotensi mengalami gangguan operasional, termasuk akibat kepadatan lintas dan kendala infrastruktur.

Baca Juga: 25,19 Juta Orang Naik Kereta Jarak Jauh, Apa Keunggulannya Dibandingkan Bus dan Pesawat?

Kereta Api Juga Lebih Hemat Energi

Selain kapasitas dan biaya, penggunaan energi menjadi pertimbangan dalam pengiriman logistik jarak jauh.

International Energy Agency (IEA) dalam laporan The Future of Rail pada 2019 menyebut kereta api sebagai salah satu moda transportasi paling efisien dalam penggunaan energi untuk angkutan penumpang maupun barang.

Penggunaan kereta api juga berpotensi menekan emisi transportasi apabila dibandingkan dengan pengiriman menggunakan kendaraan berat pada kondisi pengangkutan yang sebanding.

Namun, manfaat lingkungan tersebut bergantung pada jenis lokomotif, sumber energi, volume muatan, dan jarak perjalanan.

Dengan pengelolaan yang tepat, pengalihan sebagian distribusi dari jalan raya menuju rel dapat mendukung sistem logistik yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Penumpang WNA Kereta Api di Daop 8 Surabaya Naik 8,6 Persen, Gubeng Paling Ramai

Mengapa Truk Masih Dibutuhkan?

Kapasitas besar bukan berarti kereta api dapat menggantikan seluruh fungsi truk.

Kereta barang hanya dapat beroperasi pada jaringan rel dan memerlukan fasilitas terminal untuk proses bongkar muat. Sementara itu, lokasi pabrik, gudang, dan pelanggan tidak semuanya terhubung langsung dengan jalur kereta.

Karena itu, distribusi logistik jarak jauh sering membutuhkan kombinasi kereta api dan angkutan jalan raya.

"Sementara truk tetap penting untuk mengambil barang dari lokasi produksi menuju terminal dan mengantarkannya dari terminal ke tujuan akhir," kata Anne dalam siaran pers KAI pada 7 Oktober 2026.

Sistem tersebut dikenal sebagai transportasi multimoda. Kereta api menangani perjalanan utama dalam volume besar, sedangkan truk melayani pengangkutan awal dan pengiriman ke alamat tujuan.

Skema ini dapat meningkatkan efisiensi apabila perpindahan barang antarmoda berlangsung lancar.

Sebaliknya, keterbatasan terminal dan tingginya biaya bongkar muat bisa mengurangi keuntungan menggunakan kereta api.

Baca Juga: Diskon Tiket Nataru 2026/2027 Belum Final, Ini Rencana Kereta hingga Pesawat

Prospek Logistik Kereta Api di Indonesia

Peluang pengembangan angkutan barang berbasis rel masih terbuka.

Sepanjang Januari–September 2026, KAI mencatat angkutan ritel mencapai 191.232 ton, meningkat 2,96 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kereta barang tidak terbatas pada komoditas industri berskala besar.

Meski begitu, pengembangan jaringan rel, kapasitas terminal, serta konektivitas dengan kawasan industri dan pelabuhan tetap menjadi pekerjaan penting.

Editor : Lugas Rumpakaadi
distribusi barang angkutan barang KAI kereta api barang transportasi multimoda logistik jarak jauh