Transit Oriented Development: Saat Stasiun MRT Menggerakkan Ekonomi Jakarta

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:15 WIB
Kereta MRT Jakarta melintas di jalur layang. Transportasi massal menjadi salah satu fondasi pengembangan kawasan berorientasi transit di perkotaan. (Noval Gani/Pexels)
Kereta MRT Jakarta melintas di jalur layang. Transportasi massal menjadi salah satu fondasi pengembangan kawasan berorientasi transit di perkotaan. (Noval Gani/Pexels)

RADAR BANYUWANGI - Stasiun MRT kini bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang. Di sejumlah kawasan Jakarta, kehadiran transportasi massal turut mendorong aktivitas perdagangan, membuka peluang usaha, hingga mengubah wajah ruang publik.

Salah satu contohnya terlihat di Blok M. Kawasan Blok M Hub mencatat rata-rata 25 ribu pengunjung setiap hari. Berdasarkan laporan Berita Jakarta pada 25 September 2026, lebih dari 100 hari kegiatan di kawasan itu juga melibatkan 242 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Perkembangan tersebut berkaitan dengan penerapan transit oriented development (TOD). Konsep ini menempatkan transportasi publik sebagai penggerak pembangunan kawasan, bukan sekadar sarana mobilitas masyarakat.

Lantas, bagaimana stasiun MRT bisa berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi perkotaan?

Baca Juga: MRT Jakarta Siapkan 7 Proyek TOD, Ada Pengembangan di Blok M hingga Bundaran HI

Mengenal Transit Oriented Development dan Karakteristiknya

Transit oriented development adalah konsep pengembangan kawasan yang mengintegrasikan transportasi massal dengan hunian, perkantoran, fasilitas komersial, dan ruang publik.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan dapat bekerja, berbelanja, maupun menikmati fasilitas kota tanpa selalu menggunakan kendaraan pribadi.

Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menetapkan delapan prinsip TOD, yakni Walk, Cycle, Connect, Transit, Mix, Densify, Compact, dan Shift.

Prinsip tersebut menekankan pentingnya akses pejalan kaki, fasilitas pesepeda, konektivitas transportasi, penggunaan lahan campuran, serta pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Kawasan TOD umumnya dikembangkan dalam jangkauan berjalan kaki sekitar 400–800 meter dari simpul transportasi. Namun, jarak dekat saja tidak cukup.

Trotoar yang aman, jalur penyeberangan, akses penyandang disabilitas, dan fasilitas publik tetap menjadi kebutuhan utama.

Artinya, pembangunan TOD tidak cukup hanya menghadirkan apartemen atau pusat perbelanjaan di sekitar stasiun.

Baca Juga: Jelang Fase 2A MRT, Stasiun Bundaran HI Tambah Ruang 4.400 Meter Persegi

Integrasi MRT, KRL, dan LRT Mempermudah Mobilitas

Keberhasilan TOD sangat bergantung pada integrasi antarmoda transportasi.

MRT Jakarta melayani perjalanan di dalam kota. KRL Commuter Line menghubungkan Jakarta dengan kawasan penyangga, termasuk Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sementara itu, LRT Jabodebek memperkuat konektivitas dari wilayah Bekasi dan Depok menuju Jakarta.

Jaringan tersebut semakin bermanfaat apabila terhubung dengan Transjakarta, angkutan pengumpan, serta fasilitas pejalan kaki.

Kawasan Dukuh Atas menjadi contoh integrasi tersebut. MRT, KRL, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan Transjakarta bertemu dalam satu kawasan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mencanangkan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas pada 21 Juni 2026. Proyek yang ditargetkan selesai akhir 2028 itu dirancang untuk memperkuat koneksi enam moda, termasuk LRT Jakarta dalam pengembangan jaringan ke Dukuh Atas.

“Kehadirannya akan meningkatkan konektivitas, keselamatan, dan kenyamanan pejalan kaki, sekaligus memperkuat integrasi antarmoda transportasi publik,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. 

Pernyataan tersebut disampaikan dalam siaran pers resmi Pemprov DKI Jakarta pada 21 Juni 2026.

Baca Juga: Bukan Cuma Kereta, MRT Jakarta Bidik Kebangkitan Blok M dan Kota Tua

Stasiun MRT Menjadi Penggerak Ekonomi Kawasan

Kehadiran stasiun dapat meningkatkan akses masyarakat menuju kawasan perdagangan dan jasa. Arus penumpang membuka peluang bagi restoran, kedai kopi, pertokoan, hingga pelaku UMKM.

Kemudahan akses juga membuat kawasan sekitar stasiun lebih menarik bagi pengembang properti dan investor.

Kepala Divisi Manajemen Properti MRT Jakarta, Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, menyebut pengembangan TOD bertujuan untuk memperkuat aktivitas ekonomi, meningkatkan mobilitas perkotaan, memperkuat konektivitas.

Pernyataan itu dikutip Berita Jakarta pada 25 September 2026.

Namun, manfaat ekonomi tidak otomatis dirasakan seluruh warga.

Dalam kajian yang diterbitkan pada 4 September 2026, ITDP mencatat harga tanah dan bangunan di kawasan TOD Dukuh Atas meningkat rata-rata 50,94 persen sepanjang 2018–2023.

Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya daya tarik kawasan. Di sisi lain, biaya hunian dan tempat usaha yang semakin mahal berpotensi menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah.

Karena itu, pengembangan TOD perlu disertai penyediaan hunian terjangkau dan perlindungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Baca Juga: Pedestrian Deck Rp300 Miliar Akan Ubah Wajah Dukuh Atas, Begini Fasilitas yang Disiapkan MRT Jakarta

Tiga Contoh Kawasan TOD di Jakarta

1. Blok M, Pusat Kuliner dan Aktivitas Kreatif

Blok M menunjukkan bagaimana transportasi massal dapat mendukung kegiatan ekonomi dan ruang publik.

Kawasan ini terhubung dengan MRT, Terminal Blok M, dan Transjakarta. Kehadiran pusat kuliner, pertokoan, serta Taman Literasi Martha Christina Tiahahu memperkuat daya tariknya.

Pada 6 Oktober 2026, Pemprov DKI Jakarta meluncurkan konsep transformasi Blok M Fase Ultimate.

Rencana tersebut menargetkan perluasan ruang yang dapat dimanfaatkan hingga sekitar 10 kali lipat dan ruang publik sekitar lima kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

Pramono menegaskan pentingnya mempertahankan identitas kawasan.

“Walaupun Blok M mengalami penyempurnaan, dibangun, direvitalisasi menjadi lebih baik, lebih modern, dan lebih tertata, saya berharap Blok M tidak kehilangan ruh utamanya,” ujarnya.

2. Dukuh Atas, Simpul Transportasi Terpadu

Dukuh Atas berkembang sebagai pusat perpindahan penumpang dari berbagai moda.

Selain mendukung perjalanan komuter, kawasan ini memiliki ruang publik, jalur pedestrian, dan aktivitas komersial.

Pembangunan konektivitas lanjutan diharapkan semakin memudahkan masyarakat berpindah moda sekaligus mengakses pusat kegiatan di sekitar kawasan.

3. Lebak Bulus, Stasiun Terhubung Pusat Perbelanjaan

Lebak Bulus memperlihatkan bagaimana fasilitas pedestrian dapat memperkuat hubungan antara stasiun dan kegiatan ekonomi.

Sejak akhir Desember 2022, masyarakat dapat menggunakan Simpang Temu Lebak Bulus. Jembatan sepanjang 307,5 meter tersebut menghubungkan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab, plaza transit, dan pusat perbelanjaan Poins Square.

Infrastruktur ini mempermudah perjalanan pejalan kaki tanpa harus menyeberangi jalan raya di bawahnya.

Baca Juga: Pengembangan Berbasis Transit Dorong Nilai Aset dan Aktivitas Ekonomi, MRT Jakarta Paparkan Strateginya

Tantangan TOD: Bukan Hanya Membangun Gedung

Pengembangan transit oriented development menawarkan peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi sekaligus memperkuat perekonomian kawasan.

Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya gedung tinggi atau meningkatnya harga properti.

Ketersediaan hunian terjangkau, akses pejalan kaki yang aman, ruang publik, dan keberlangsungan usaha lokal tetap harus diperhatikan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Transit Oriented Development TOD Jakarta kawasan berorientasi transit integrasi transportasi publik mrt jakarta