RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan Kamis (8/10). Setelah sempat menguat, indeks justru merosot 49,32 poin atau 0,80 persen ke level 6.097,40 pada penutupan sesi pertama. Investor asing turut menekan pasar dengan membukukan penjualan bersih Rp194,24 miliar.
Tekanan datang dari saham teknologi, energi, dan infrastruktur. Sentimen global juga belum bersahabat. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih ketat serta lonjakan harga minyak dunia membuat pelaku pasar semakin berhati-hati.
IHSG Gagal Pertahankan Penguatan
IHSG sebenarnya mengawali perdagangan dengan kenaikan 0,13 persen ke level 6.154,97. Indeks bahkan sempat menyentuh 6.179,09 sebelum berbalik arah hingga mencapai titik terendah 6.088,89.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Katadata, nilai transaksi hingga sesi pertama mencapai Rp7,05 triliun. Volume perdagangan tercatat 43,80 miliar saham dengan frekuensi 1,13 juta transaksi.
Sebanyak 440 saham melemah, 200 saham menguat, dan 142 saham stagnan.
Indeks sektor teknologi turun paling dalam, yakni 1,82 persen. Sektor energi menyusul dengan koreksi 1,73 persen, sedangkan infrastruktur melemah 1,50 persen.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) merosot 6,55 persen ke Rp785. PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 5,05 persen ke Rp4.890, sementara PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) terkoreksi 4,72 persen ke Rp1.010.
Asing Lepas BMRI, BUMI, dan ANTM
Tekanan jual investor asing menjadi sorotan. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang dikutip Katadata, pembelian asing mencapai Rp1,53 triliun, sedangkan penjualan sekitar Rp1,73 triliun hingga sesi pertama.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat penjualan bersih asing terbesar, yakni Rp37,64 miliar. Berikutnya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp35,85 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp34,49 miliar.
Namun, tidak semua saham ditinggalkan investor asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru mencatat pembelian bersih Rp48,78 miliar. PT Astra International Tbk (ASII) juga dibeli bersih Rp44,42 miliar.
Perbedaan tersebut menunjukkan investor asing masih selektif memilih saham meskipun IHSG berada dalam tekanan.
The Fed dan Harga Minyak Bayangi Pasar
Dari luar negeri, pelaku pasar mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026 yang dirilis Rabu (7/10).
Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Sebagian besar peserta rapat memperkirakan kenaikan tambahan masih diperlukan sebelum akhir tahun.
"Inflasi tetap tinggi," demikian pernyataan The Fed dalam dokumen resminya.
Artinya, tekanan inflasi AS masih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menjaga daya tarik dolar AS dan obligasi pemerintah AS sehingga membatasi aliran dana ke negara berkembang.
Di sisi lain, Reuters melaporkan harga minyak Brent naik 4,13 persen menjadi USD 102,28 per barel pada Kamis. Kekhawatiran terhadap pasokan energi meningkat seiring serangan terhadap kapal pengangkut minyak di kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Sebaliknya, sebagian produsen minyak dapat menikmati kenaikan pendapatan.
Cadangan Devisa Masih Jadi Penopang
Di tengah tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki penyangga.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa akhir September 2026 sebesar USD 146,3 miliar, relatif stabil dibandingkan Agustus sebesar USD 146,5 miliar.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," tulis BI dalam siaran pers Rabu (7/10).
Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, melampaui standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 berada pada level 118,1. Angka tersebut masih mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Level 6.000 Jadi Ujian IHSG
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan rentang support dan resistance 6.000–6.270.
Menurut Nico, kebijakan The Fed yang cenderung ketat masih berpotensi menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang.
"Ke depan, arus modal asing dan perkembangan neraca perdagangan akan menjadi kunci untuk menjaga cadangan devisa sekaligus mengurangi tekanan terhadap rupiah," ujar Nico sebagaimana dikutip ANTARA, Kamis (8/10/2026).
Dari sisi teknikal, area 6.088–6.090 menjadi penopang terdekat berdasarkan pergerakan sesi pertama. Jika area tersebut ditembus, IHSG berisiko menguji level psikologis 6.000.
Sebaliknya, pemulihan menuju 6.147–6.179 dapat membuka peluang membaiknya momentum jangka pendek.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap melihat peluang pemulihan pasar domestik. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyatakan pihaknya tetap optimistis terkait dengan peluang pemulihan pasar domestik ke depannya.
Meski demikian, tekanan global dan kinerja fundamental emiten tetap menentukan arah pasar.
Bagi investor, perkembangan transaksi asing, pergerakan rupiah, dan harga minyak menjadi indikator penting untuk perdagangan berikutnya. Level 6.000 pun layak dicermati sebagai batas psikologis, bukan jaminan bahwa koreksi akan berhenti.
Catatan: Data perdagangan Kamis (8/10) dalam artikel ini berlaku hingga penutupan sesi pertama. Analisis teknikal bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.
Editor : Lugas Rumpakaadi