IHSG Hari Ini Berpotensi Melemah, Cermati Level 6.091 dan 6.230

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:25 WIB
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (8/10) dengan support penting di level 6.091. (ChatGPT)
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (8/10) dengan support penting di level 6.091. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (8/10). Area 6.091 menjadi support penting setelah IHSG ditutup turun 0,75 persen ke 6.146,72 pada perdagangan sehari sebelumnya.

Tekanan datang dari pelemahan Wall Street, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), serta aksi jual investor asing. Namun, sentimen negatif tersebut masih diimbangi penguatan rupiah, cadangan devisa yang memadai, dan mengecilnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 6.090–6.230. Area 6.118–6.141 menjadi zona yang perlu dicermati. Jika mampu bertahan, peluang penguatan teknikal menuju 6.227–6.231 masih terbuka. Sebaliknya, penembusan 6.091 berisiko membawa indeks menuju support berikutnya di 5.973.

MNC Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam fase koreksi.

“Posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave c dari wave (y) pada label hitam,” tulis MNC Sekuritas dalam riset hariannya.

Asing Jual Bersih Rp871 Miliar

Pada Rabu (7/10), IHSG ditutup di 6.146,72. Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor energi menjadi salah satu penekan terbesar dengan koreksi 1,56 persen.

Tekanan juga terlihat dari arus dana asing. Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp871,36 miliar di seluruh pasar. Nilai penjualan asing mencapai Rp4,49 triliun, lebih besar daripada pembelian sebesar Rp3,62 triliun.

Posisi IHSG kini hanya sekitar 56 poin dari support 6.091. Karena itu, pergerakan pada awal sesi akan menjadi penting.

Investor perlu mencermati bukan hanya arah indeks, tetapi juga arus dana asing, jumlah saham yang menguat dan melemah, serta pergerakan saham berkapitalisasi besar.

Wall Street Merah, Yield AS Tinggi

Dari pasar global, Wall Street ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average turun 0,66 persen menjadi 51.180,17. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terkoreksi 0,22 persen.

Pasar AS tertekan kenaikan imbal hasil US Treasury. Yield tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,364 persen sebelum turun ke sekitar 5,284 persen setelah lelang obligasi tenor 10 tahun senilai USD 39 miliar mendapatkan permintaan kuat.

Manajer Portofolio Senior GLOBALT Thomas Martin menilai pasar menunggu berkurangnya tekanan harga minyak dan suku bunga.

“Para investor menantikan adanya sedikit kelegaan terkait harga minyak, yang pada gilirannya akan turut meringankan tekanan suku bunga,” ujarnya kepada Reuters.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September juga menunjukkan The Fed masih mewaspadai inflasi. Seluruh peserta rapat mendukung kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

“Para partisipan pada umumnya memperkirakan bahwa inflasi akan tetap tinggi dalam waktu dekat dan kemudian menurun menuju 2 persen dalam jangka menengah," tulis The Fed dalam risalah itu.

Meski demikian, pasar hanya memperkirakan peluang sekitar 17,2 persen bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Angka tersebut turun dari 37,6 persen sepekan sebelumnya.

Kondisi itu dapat mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Namun, suku bunga AS yang tetap tinggi masih menjadi beban bagi pasar negara berkembang.

Minyak Brent Masih USD 100

Harga minyak turut menjadi perhatian. Brent ditutup turun 0,38 persen menjadi USD 100,20 per barel. West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,3 persen menjadi USD 88,28 per barel.

Penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi pasar. Namun, Brent yang masih berada di atas USD 100 per barel tetap mempertahankan risiko inflasi global.

Bagi Indonesia, harga minyak tinggi tidak hanya berdampak pada saham energi. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, subsidi energi, dan tekanan terhadap neraca eksternal.

Rupiah Menguat, Cadangan Devisa Jadi Bantalan

Dari dalam negeri, rupiah justru menguat. Kurs JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.880 per dolar AS pada Rabu (7/10), dibandingkan Rp17.910 sehari sebelumnya.

Bank Indonesia juga mencatat cadangan devisa akhir September 2026 sebesar USD 146,3 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor dan masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” demikian pernyataan BI.

Kombinasi penguatan rupiah dan cadangan devisa yang memadai menjadi bantalan ketika pasar saham menghadapi tekanan eksternal.

Pasar Menunggu Keyakinan Konsumen

Pasar hari ini juga menunggu Survei Konsumen September dari Bank Indonesia. Pada Agustus, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 118,5, naik dari 116,8 pada Juli.

“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan Juli 2026,” tulis BI.

Jika IKK September tetap jauh di atas 100, sentimen terhadap saham berbasis konsumsi domestik berpeluang terjaga.

Inflasi juga masih menjadi perhatian. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,84 persen.

Prediksi IHSG Hari Ini

Dengan kombinasi sentimen tersebut, IHSG pada Kamis diperkirakan bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah, bukan mengalami tekanan tajam.

Support terdekat berada di 6.118, kemudian 6.091 dan 5.973. Sementara itu, resistance berada di 6.227–6.231, kemudian 6.297.

Jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.118–6.141 dan tekanan jual asing mereda, peluang rebound masih terbuka.

Namun, jika level 6.091 ditembus bersamaan dengan membesarnya jual bersih asing dan pelemahan rupiah, risiko koreksi lanjutan akan meningkat.

Prediksi rentang IHSG: 6.090–6.230.


Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham.

Editor : Lugas Rumpakaadi
IHSG hari ini analisis IHSG saham hari ini prediksi IHSG 8 Oktober 2026 bursa efek indonesia