IHSG Gagal Bertahan di 6.200, Asing Masih Jual Saham

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 16:47 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, IHSG ditutup turun 0,74 persen ke level 6.147,39 setelah sempat menguat di atas 6.200 pada awal perdagangan. (ANTARA)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, IHSG ditutup turun 0,74 persen ke level 6.147,39 setelah sempat menguat di atas 6.200 pada awal perdagangan. (ANTARA)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan penguatan pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026. Indeks ditutup turun 0,74 persen atau 45,54 poin ke level 6.147,39.

Padahal, IHSG sempat menguat pada awal perdagangan. Indeks dibuka di level 6.210,42 atau naik 0,28 persen dan sempat menyentuh 6.214,76. Namun, tekanan jual membuat indeks berbalik arah dan menutup perdagangan tidak jauh dari level terendah hariannya.

Pelemahan itu sekaligus menghentikan tren positif selama tiga hari perdagangan sebelumnya. Pada Selasa, 6 Oktober, IHSG masih ditutup menguat 1,21 persen di posisi 6.192,93.

Perdagangan Rabu menunjukkan bahwa sentimen positif dari FTSE Russell belum cukup kuat untuk mempertahankan reli pasar. Tekanan jual asing, pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar, serta kondisi pasar global masih membayangi pergerakan indeks.

Kabar FTSE Hanya Menopang di Awal

Pasar sebenarnya mendapat kabar positif dari FTSE Russell. Dalam pengumuman klasifikasi pasar September 2026 yang diterbitkan 6 Oktober, Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori Secondary Emerging Market.

Indonesia juga tidak dimasukkan ke dalam Watch List untuk kemungkinan penurunan klasifikasi.

Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar. Namun, FTSE Russell belum menutup proses evaluasi terhadap pasar Indonesia.

FTSE masih memantau reformasi terkait integritas pasar, keterbukaan data kepemilikan saham, free float, klasifikasi investor, dan mekanisme pengawasan. Pembaruan mengenai perlakuan terhadap saham Indonesia dijadwalkan menjelang evaluasi indeks Desember 2026.

Karena itu, keputusan FTSE lebih tepat dibaca sebagai berkurangnya risiko dalam jangka pendek, bukan tanda bahwa seluruh persoalan pasar telah selesai.

Hal tersebut terlihat dari respons IHSG. Sentimen positif hanya mampu mendorong indeks pada awal perdagangan sebelum tekanan jual kembali mengambil alih.

Asing Masih Jual Saham

Aliran dana asing menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.

Hingga akhir sesi pertama, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp663,34 miliar. BBCA menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas asing, dengan nilai sekitar Rp132,14 miliar. Setelah itu, terdapat GOTO sekitar Rp96,8 miliar dan DEWA sekitar Rp25,36 miliar.

Angka tersebut merupakan data hingga sesi pertama, bukan posisi jual bersih sepanjang hari.

Namun, arah aliran dana itu tetap penting. Sehari sebelumnya, ketika IHSG melonjak 1,21 persen, investor asing juga masih membukukan penjualan bersih di pasar reguler sekitar Rp597 miliar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan IHSG dalam beberapa hari terakhir belum sepenuhnya didukung masuknya modal asing.

Selama investor asing belum kembali melakukan akumulasi secara konsisten, reli indeks akan tetap rentan ketika saham-saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan.

Transaksi BYAN Membesar di Pasar Negosiasi

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ikut menjadi perhatian pada perdagangan Rabu. Pada sesi pertama, saham tersebut turun sekitar 6,32 persen.

Pada saat bersamaan, berlangsung transaksi jumbo BYAN di pasar negosiasi. Sekitar 10,08 miliar saham berpindah tangan pada harga Rp2.588 per saham. Nilainya mencapai sekitar Rp26,09 triliun.

Transaksi tersebut berkaitan dengan pengalihan saham kepada PT Jhonlin Baratama.

Besarnya transaksi BYAN membuat nilai transaksi bursa terlihat melonjak. Pada sesi pertama saja, nilai transaksi seluruh pasar mencapai sekitar Rp31,67 triliun.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Sebagian sangat besar berasal dari transaksi BYAN di pasar negosiasi, bukan aktivitas jual-beli reguler.

Dengan demikian, tingginya nilai transaksi hari itu tidak serta-merta menunjukkan lonjakan minat beli investor di pasar reguler.

Cadangan Devisa Masih Kuat

Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia mencapai USD 146,3 miliar pada akhir September 2026. Posisi itu sedikit turun dibandingkan USD 146,5 miliar pada akhir Agustus.

Bank Indonesia menyebut perubahan tersebut dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

Posisi cadangan devisa masih setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Level tersebut tetap berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Data itu menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga. Meski demikian, kebutuhan menjaga stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian pasar.

Tekanan Global Belum Reda

Dari luar negeri, pasar juga menghadapi lingkungan yang kurang bersahabat.

Harga minyak Brent pada Rabu bergerak di sekitar USD 101,58 per barel. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,3 persen dan dolar AS menguat.

Yield obligasi Amerika Serikat yang tinggi dapat mengurangi daya tarik aset negara berkembang. Investor global memperoleh alternatif imbal hasil yang lebih menarik pada aset berbasis dolar dengan risiko relatif lebih rendah.

Pasar selanjutnya juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee. Sebelumnya, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen pada pertemuan September.

Arah kebijakan The Fed akan berpengaruh terhadap yield Treasury, dolar AS, dan arus modal menuju pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Level 6.100 Jadi Perhatian

Secara teknikal, kegagalan IHSG bertahan di atas 6.200 menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.

Area 6.140–6.100 dapat menjadi zona penyangga terdekat. Selama indeks mampu bertahan di atas 6.100, koreksi Rabu masih dapat dibaca sebagai konsolidasi setelah penguatan selama tiga hari.

Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.100 berpotensi membuka ruang penurunan menuju area 6.035–6.000.

Untuk kembali memperkuat momentum, IHSG perlu merebut kawasan 6.190–6.215.

Perdagangan Rabu menunjukkan bahwa keputusan FTSE memang mengurangi salah satu risiko utama bagi pasar Indonesia. Namun, tekanan jual asing dan kondisi global masih menjadi penentu.

Rebound IHSG belum sepenuhnya gagal. Namun, reli juga belum cukup kuat disebut sebagai pemulihan yang berkelanjutan sebelum aliran modal asing ikut berbalik positif.


Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Pasar Modal Indonesia Saham Indonesia IHSG hari ini analisis IHSG IHSG 7 Oktober 2026