RADAR BANYUWANGI – Pasar Banyuwangi kini bukan lagi sekadar tempat berburu kebutuhan sehari-hari. Setelah direvitalisasi total, pasar dua lantai itu mulai dipadati wisatawan dan warga yang penasaran dengan wajah barunya. Sebanyak 560 pedagang tahap pertama juga mulai menempati los, Senin (5/10), menandai dimulainya operasional pasar rakyat berkonsep heritage tersebut.
Suasana pasar tampak berbeda dibanding pasar tradisional pada umumnya. Arsitektur modern berpadu dengan karakter bangunan cagar budaya dan sentuhan rumah adat Osing. Kemegahan desain itu sekaligus menyatu dengan kawasan bersejarah Gedung Asrama Inggrisan yang berada di sisi pasar.
Tak heran, aktivitas jual beli bukan satu-satunya kesibukan yang terlihat. Lebih dari seratus pengunjung datang untuk sekadar berkeliling, menikmati suasana, hingga mengabadikan bangunan pasar menggunakan kamera ponsel.
Bagi sebagian pengunjung, pasar tersebut mulai menawarkan pengalaman baru: berbelanja sekaligus menikmati ruang publik dengan nuansa sejarah Banyuwangi.
“Bangunannya sangat keren dan bersih. Usai jogging di Taman Blambangan, saya sengaja mampir ke sini karena penasaran,” ujar Indah, salah seorang pengunjung.
Dia berharap kondisi pasar yang bersih dan tertata dapat dipertahankan. Dengan begitu, Pasar Banyuwangi tidak hanya menjadi pusat perdagangan rakyat, tetapi juga bisa berkembang sebagai salah satu tujuan wisata di kawasan pusat kota.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi Heni Sugiharti mengatakan, operasionalisasi pasar rakyat tersebut dilakukan secara bertahap.
Pada tahap pertama, sebanyak 560 pedagang prioritas telah mendapatkan akses kunci los. Mereka mulai memindahkan barang dagangan dari lokasi penampungan sementara di Gedung Wanita menuju bangunan pasar yang telah direvitalisasi.
“Kami mendesain kawasan ini tetap sebagai pasar rakyat yang fungsional. Namun, daya tarik arsitektur heritage yang kuat secara otomatis memperluas perannya menjadi destinasi wisata edukasi sejarah Banyuwangi yang nyaman bagi pelancong hulu-hilir,” kata Heni.
Konsep tersebut membuat Pasar Banyuwangi memiliki dua fungsi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, pasar tetap menjadi ruang ekonomi bagi pedagang dan masyarakat. Di sisi lain, karakter arsitekturnya memberi pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin mengenal sisi sejarah dan budaya Banyuwangi.
Transformasi itu sekaligus memperlihatkan bagaimana revitalisasi pasar tradisional tidak berhenti pada pembenahan fisik. Ketika unsur perdagangan, sejarah, budaya, dan ruang publik dipadukan, pasar dapat memiliki daya tarik baru bagi masyarakat maupun wisatawan.
Kini, geliat 560 pedagang menjadi tanda awal kembalinya denyut perdagangan di Pasar Banyuwangi. Di saat yang sama, ramainya pengunjung yang datang untuk menikmati bangunan menjadi sinyal bahwa pasar tersebut mulai memiliki fungsi tambahan sebagai ruang publik dan destinasi wisata di tengah kota. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin