RADAR BANYUWANGI – Pasar Hewan Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, kembali menunjukkan geliat perdagangan setelah sempat terpuruk akibat anjloknya pasokan ternak. Pada pasaran Jumat (2/10), lebih dari 100 ekor sapi, mulai sapi potong hingga pedet, masuk ke pasar tersebut. Angka itu menjadi sinyal pemulihan aktivitas peternakan sekaligus ikut mengerek penerimaan retribusi pasar dan potensi pendapatan asli daerah (PAD) Banyuwangi.
Sejak subuh, suasana pasar hewan yang hanya beroperasi setiap Jumat itu sudah berbeda. Deretan truk dan pikap pengangkut ternak mengular, menurunkan sapi di sejumlah titik. Pedagang dan peternak tampak sibuk memeriksa kondisi hewan sebelum transaksi berlangsung.
Pemandangan tersebut kontras dengan kondisi beberapa bulan sebelumnya. Lapak-lapak pedagang sempat lengang lantaran pasokan sapi yang masuk mengalami penurunan tajam.
Petugas Pasar Hewan Karangharjo, Agung, menyebut jumlah sapi yang masuk kini sudah jauh lebih banyak dibandingkan masa sulit tersebut. Bahkan, tren peningkatan pasokan telah terlihat dalam beberapa kali pasaran terakhir.
"Sudah lebih banyak dibanding hari biasa," kata Agung di lokasi pasar.
Menurut dia, jumlah ternak yang masuk terus mengalami kenaikan setidaknya dalam empat kali pasaran terakhir. Pada kondisi sebelumnya, mencari 40 ekor sapi saja terbilang sulit karena pasokan sempat anjlok hingga sekitar separuh.
Kini, angka tersebut berbalik. Dalam satu kali pasaran Jumat, jumlah sapi yang masuk sudah menembus lebih dari 100 ekor, terdiri atas sapi potong dan sapi anakan.
Pasokan Sapi Pulih Setelah Sempat Tertekan PMK
Lonjakan aktivitas Pasar Hewan Karangharjo tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya, perdagangan ternak sempat menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), ditambah stok sapi siap jual di tingkat peternak lokal yang semakin menipis.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap jumlah ternak yang bisa dibawa ke pasar. Pasokan yang menyusut membuat aktivitas jual beli ikut melambat.
Agung mengatakan, kondisi kesehatan hewan yang semakin terkendali turut mendorong pemulihan. Di sisi lain, peternak mulai kembali bergairah memelihara sapi dan mengembangkan populasi ternak, termasuk dengan keberadaan pedet baru.
"Alhamdulillah, pasaran Jumat (2/10) ini peningkatannya terasa sekali. Kalau sebelumnya mau cari 40 ekor saja susah karena pasokan drop sampai separuh akibat dampak PMK dan stok peternak yang menipis, sekarang dalam sehari pasaran saja yang masuk sudah tembus melebihi 100 ekor, baik sapi potong maupun anakan," ujarnya.
Kembalinya pedet ke pasar juga menjadi bagian penting dalam membaca kondisi populasi ternak. Tidak hanya sapi siap potong yang diperdagangkan, tetapi keberadaan sapi anakan menunjukkan adanya aktivitas pembiakan dan regenerasi ternak di tingkat peternak.
Dengan pasokan yang kembali meningkat, mata rantai perdagangan mulai bergerak lebih dinamis. Peternak memiliki ruang lebih besar untuk menjual ternak, sementara pedagang mendapatkan pilihan sapi yang lebih beragam.
Sapi Bertambah, Retribusi Pasar Ikut Naik
Geliat Pasar Hewan Karangharjo juga memberikan dampak terhadap penerimaan daerah. Semakin banyak ternak yang masuk, semakin besar pula potensi retribusi yang dikumpulkan dari aktivitas perdagangan.
Agung menjelaskan, setiap sapi yang dibawa pedagang ke pasar dikenai retribusi sebesar Rp 5.000 per ekor. Artinya, ketika jumlah sapi yang masuk mencapai lebih dari 100 ekor dalam satu hari pasaran, penerimaan retribusi juga otomatis meningkat dibandingkan saat pasokan masih rendah.
"Tentu ini jadi kabar baik. Dengan bertambahnya populasi ternak yang masuk, retribusi pasar yang kita kumpulkan juga otomatis meningkat. Secara tidak langsung, ini mengerek pendapatan asli daerah (PAD) yang rutin kami setorkan ke Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi," terang Agung.
Perputaran transaksi di pasar hewan dengan demikian tidak hanya berdampak pada peternak dan pedagang. Aktivitas tersebut turut memberikan kontribusi melalui retribusi yang menjadi salah satu penerimaan daerah.
Meski demikian, kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya kembali seperti sebelum pandemi Covid-19. Agung menyebut volume perdagangan masih belum menyamai masa ketika aktivitas jual beli ternak berada pada kondisi normal.
"Meskipun tidak sebanyak saat sebelum Covid-19, sekarang ini sudah lebih baik ketimbang satu dua tahun ke belakang," pungkasnya.
Lebih dari 100 Sapi Masuk, Tanda Rantai Ternak Mulai Bergerak
Lonjakan pasokan menjadi gambaran perubahan kondisi perdagangan sapi di wilayah Banyuwangi Selatan. Dari sebelumnya kesulitan mendapatkan puluhan ekor sapi dalam satu pasaran, kini Pasar Hewan Karangharjo kembali menerima lebih dari 100 ekor ternak.
Jika tren tersebut terus berlangsung, peningkatan pasokan bukan hanya memberikan ruang bagi transaksi peternak dan pedagang, tetapi juga menjaga perputaran ekonomi yang berkaitan dengan perdagangan ternak.
Pasar Hewan Karangharjo kini kembali ramai. Truk dan pikap yang berdatangan sejak subuh membawa lebih dari sekadar sapi. Di tengah aktivitas tawar-menawar, meningkatnya pasokan menjadi penanda bahwa perdagangan ternak mulai menemukan kembali ritmenya setelah melewati periode sulit. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin