Wall Street Menguat, IHSG Jumat Bisa Rebound? Simak Level Kuncinya

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 05:30 WIB
Ilustrasi, pergerakan IHSG menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Area 6.000 diperkirakan menjadi level penting di tengah tekanan rupiah, kenaikan harga minyak, dan tingginya yield obligasi Amerika Serikat. (Pixabay)
Ilustrasi, pergerakan IHSG menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Area 6.000 diperkirakan menjadi level penting di tengah tekanan rupiah, kenaikan harga minyak, dan tingginya yield obligasi Amerika Serikat. (Pixabay)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Area psikologis 6.000 menjadi penentu setelah indeks sehari sebelumnya hanya mampu bertahan tipis di atas level tersebut.

Dalam skenario dasar, IHSG berpeluang bergerak pada rentang 5.950–6.100. Peluang technical rebound masih terbuka. Namun, kenaikannya diperkirakan terbatas karena rupiah masih tertekan, harga minyak melonjak, dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap tinggi.

IHSG menutup perdagangan Kamis (1/10) di level 6.009,50, melemah 61,64 poin atau 1,02 persen. Indeks sempat terperosok ke sekitar 5.973 sebelum kembali naik menjelang penutupan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai investor masih berhati-hati.

“Sikap investor saat ini menurut saya cenderung lebih defensif dan selektif,” kata Nafan seperti dikutip ANTARA.

Nafan menempatkan 6.019 sebagai salah satu support penting. Support berikutnya berada di sekitar 5.854. Sementara itu, area 6.185–6.240 menjadi resistance yang perlu dilewati untuk membuka peluang pemulihan lebih kuat.

Untuk perdagangan Jumat, area 5.970–6.000 menjadi benteng terdekat. Jika bertahan, IHSG berpeluang kembali menguji 6.060–6.095.

Rupiah Dekati Rp18.000

Tekanan juga datang dari pasar valuta asing.

Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Kamis berada di Rp17.937 per dolar AS, melemah dari Rp17.877 sehari sebelumnya.

Kondisi tersebut patut dicermati. Pelemahan rupiah yang bersamaan dengan tingginya yield obligasi AS dapat membuat investor asing lebih selektif menempatkan dana di pasar Indonesia.

Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 22–23 September mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.

BI menegaskan kebijakan masih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Artinya, pergerakan rupiah menuju atau menjauhi Rp18.000 per dolar AS bisa menjadi salah satu indikator penting bagi arah IHSG Jumat.

Inflasi Masih Terkendali

Dari dalam negeri, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan. Angka itu naik dari 3,19 persen pada Agustus.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat inflasi bulanan sebesar 0,30 persen. Sementara itu, inflasi inti berada di level 2,84 persen secara tahunan.

Meski naik, inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen.

BI menyatakan, “Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.”

Bagi pasar saham, kondisi tersebut memberi sinyal berimbang. Inflasi yang meningkat membuat ruang pelonggaran moneter semakin terbatas. Namun, tekanan harga belum keluar dari target bank sentral.

Surplus Perdagangan Jadi Bantalan

Fundamental eksternal Indonesia masih mendapat dukungan dari neraca perdagangan.

BPS mencatat ekspor Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar, sedangkan impor sebesar US$23,06 miliar. Dengan demikian, surplus perdagangan Agustus mencapai sekitar US$3,55 miliar.

Secara kumulatif, surplus Januari–Agustus 2026 mencapai US$7,25 miliar.

Surplus perdagangan dapat membantu pasokan valuta asing dan menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, dampaknya dalam jangka pendek bisa tertutup apabila tekanan dari pasar global lebih dominan.

Wall Street Menguat, Yield AS Turun

Sentimen dari Amerika Serikat relatif lebih positif.

Wall Street menutup perdagangan Kamis dengan penguatan tipis. Dow Jones naik sekitar 0,04 persen, S&P 500 menguat sekitar 0,2 persen, sedangkan Nasdaq bertambah sekitar 0,04 persen.

Pada saat yang sama, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun setelah sempat menyentuh sekitar 5,34 persen, level tertinggi sejak 2002.

Oliver Pursche dari Wealthspire Advisors menilai aksi jual obligasi global kemungkinan sudah terlalu dalam.

“Saya berpendapat bahwa itu mungkin sudah berlebihan,” ujarnya kepada Reuters.

Penurunan yield dapat sedikit meredakan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia. Namun, yield di atas 5 persen masih tergolong tinggi.

Federal Reserve juga masih mempertahankan sikap ketat. Pada 16 September, bank sentral AS menaikkan target federal funds rate menjadi 3,75–4,00 persen.

The Fed menegaskan, “Inflasi tetap tinggi.”

Minyak di Atas US$100

Risiko lain datang dari harga energi.

Minyak Brent ditutup di sekitar US$102,31 per barel, naik lebih dari 4 persen. West Texas Intermediate berada di sekitar US$92,87 per barel.

Lonjakan minyak bisa memberi sentimen positif bagi sejumlah saham energi. Namun, bagi perekonomian Indonesia secara umum, harga minyak tinggi juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi.

Kombinasi minyak mahal, rupiah lemah, dan yield AS yang tinggi membuat peluang rebound IHSG tetap harus dibaca dengan hati-hati.

Tiga Skenario IHSG

Untuk Jumat, skenario utama menempatkan IHSG dalam rentang 5.950–6.100.

Jika IHSG mampu bertahan di atas 5.970–6.000, peluang rebound menuju 6.060–6.095 masih terbuka.

Jika menembus 6.095, indeks dapat mencoba bergerak menuju 6.120. Pemulihan yang lebih kuat membutuhkan penembusan area 6.185–6.240.

Sebaliknya, jika IHSG turun di bawah 5.970 dan gagal kembali ke atas 6.000, tekanan dapat berlanjut ke area 5.920–5.950. Support berikutnya berada di sekitar 5.854.

Dengan demikian, level 6.000 menjadi titik krusial pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Pergerakan rupiah, yield Treasury AS, harga minyak, serta arus dana asing akan menjadi konfirmasi apakah pembeli mulai kembali atau pasar masih bertahan dalam mode defensif.


Artikel ini merupakan analisis berdasarkan data yang tersedia sebelum pembukaan perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Proyeksi pasar mengandung ketidakpastian dan bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Saham Indonesia IHSG hari ini prediksi IHSG ihsg bursa efek indonesia