RADAR BANYUWANGI – Pasar Banyuwangi mulai beroperasi secara bertahap sejak Kamis (1/10), membawa harapan baru bagi pedagang untuk meningkatkan omzet melalui fasilitas yang lebih nyaman, penataan lapak, dan pemasaran digital. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi tidak sekadar menghadirkan pasar dengan wajah baru, tetapi juga menyiapkan ekosistem perdagangan yang diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan pedagang sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sejumlah pedagang mulai menempati lapak dan menata dagangan di lokasi baru. Meski belum seluruhnya beroperasi, beberapa lapak sudah melayani pembeli, mulai dari pedagang bumbu dapur hingga daging.

Pembukaan terbatas atau soft opening Pasar Banyuwangi dilakukan Bupati Ipuk Fiestiandani, didampingi Dandim 0825 Letkol Arm Triyadi dan Palaksa Lanal Banyuwangi Mayor Mar Nyoman Suarmika. Usai pembukaan, Ipuk bersama rombongan menyempatkan diri berbelanja di sejumlah lapak yang telah beroperasi.
Ipuk menyadari, perpindahan pedagang ke pasar baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Sebagian pedagang masih menyelesaikan penataan lapak, sementara lainnya menunggu momentum yang tepat untuk mulai berjualan.
Namun, dia menilai fasilitas pasar yang baru memberikan kenyamanan lebih, terutama dari sisi sirkulasi udara. Kondisi tersebut dinilai penting untuk menunjang aktivitas perdagangan komoditas basah seperti ikan dan daging agar tidak menimbulkan bau menyengat.
“Pasar ini bukan hanya bagus dari segi fisik, tapi mudah-mudahan nanti pasar ini bisa meningkatkan kesejahteraan pedagang. Itu poin pentingnya,” kata Ipuk.
Lapak Tertata, Pedagang Didorong Melek Digital
Pasar Banyuwangi kini mengusung konsep perdagangan yang lebih terklaster. Pedagang komoditas basah, sayuran, pakaian, hingga emas perhiasan ditempatkan di area masing-masing.
Penataan tersebut diharapkan memudahkan pengunjung menemukan kebutuhan sekaligus mencari kembali pedagang langganan yang sebelumnya direlokasi ke kompleks Gedung Wanita.
Pemkab Banyuwangi juga akan membantu menyosialisasikan lokasi baru para pedagang melalui Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Kominfo). Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan aktivitas perdagangan setelah perpindahan lokasi.
Namun, strategi pengembangan pasar tidak berhenti pada penataan lapak fisik. Ipuk mendorong pedagang mulai memanfaatkan media sosial dan sistem pembayaran digital untuk memperluas jangkauan konsumen.
Pedagang diharapkan tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke pasar, tetapi juga mampu menjangkau pelanggan melalui toko daring maupun skema afiliasi.
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait akan dilibatkan untuk memfasilitasi pelatihan agar pedagang lebih siap menghadapi perubahan pola belanja masyarakat.
“Pedagang di pasar ini boleh punya lapak di sini, tapi mereka juga harus mampu bersaing dengan pedagang-pedagang yang ada di dunia maya,” ujarnya.
Pasar Rakyat Sekaligus Destinasi Wisata
Pemkab Banyuwangi juga mengarahkan Pasar Banyuwangi menjadi bagian dari destinasi wisata. Arsitektur bangunan yang menarik akan diperkuat dengan berbagai atraksi rutin, seperti pertunjukan musik langsung (live music) dan ruang promosi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Pasar tidak hanya menjadi tempat berbelanja atau lokasi untuk berfoto, tetapi juga ruang interaksi yang mendorong transaksi dan menggerakkan perekonomian pedagang.
Di sisi lain, kebersihan menjadi aspek penting yang terus dibenahi. Untuk sementara, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ditempatkan di kawasan pasar guna memberikan edukasi kepada pedagang mengenai pemilahan sampah, prosedur pengelolaan, hingga pemisahan sampah yang dapat diproses melalui fasilitas pengelolaan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pembentukan budaya pasar yang lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
“Mudah-mudahan ikhtiar kita semuanya pasar ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Ipuk.
Pedagang Berinvestasi demi Lapak Lebih Nyaman
Di balik wajah baru Pasar Banyuwangi, para pedagang juga melakukan berbagai penyesuaian agar lapak mereka lebih fungsional. Salah satunya Kunthi, 63, pedagang bumbu asal Kelurahan Kepatihan yang sebelumnya berjualan di kompleks Gedung Wanita.
Bersama suaminya, Kunthi menambahkan rolling door dan rak dinding untuk membuat lapak lebih nyaman. Bagian atas los juga dimodifikasi menjadi tempat penyimpanan barang agar ruang berjualan yang panjangnya sekitar dua meter dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Penyesuaian tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp 5 juta, termasuk ongkos tukang. Meski harus mengeluarkan modal tambahan, Kunthi berharap fasilitas pasar yang lebih bersih dan tertata dapat mendatangkan lebih banyak pembeli.
“Sudah habis Rp 5 juta untuk membuat rolling door dan rak sama bayar tukang. Ya semoga lebih laris dengan pasar yang bersih dan bagus,” ujarnya.
Penyesuaian berbeda dilakukan Amniah, pedagang yang telah berjualan sejak 1982. Dia membawa papan yang dapat digeser dan difungsikan sebagai meja panjang untuk menyesuaikan kebutuhan lapaknya di lokasi baru.
“Kita tidak boleh mengubah kalau di bagian ini, tapi nanti kalau ini (menunjuk mejanya) bisa dipakai ya saya pakai. Saya yakin nanti pasti banyak pembelinya,” pungkasnya.
Beroperasinya Pasar Banyuwangi secara bertahap menjadi awal dari proses penyesuaian antara pedagang, pembeli, dan pengelola. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas yang lebih modern, promosi digital, atraksi wisata, serta pengelolaan kebersihan benar-benar berdampak pada peningkatan transaksi dan kesejahteraan pedagang. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin