Perajin Tahu Banyuwangi Minta Harga Kedelai Impor Stabil Rp 11 Ribu per Kg

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 22:00 WIB
PROSES PRODUKSI: Produsen tahu di Desa Temuasri, Kecamatan Semp, memproduksi makanan kaya protein tersebut, Kamis (1/10). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
PROSES PRODUKSI: Produsen tahu di Desa Temuasri, Kecamatan Semp, memproduksi makanan kaya protein tersebut, Kamis (1/10). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Stabilitas harga kedelai impor menjadi penentu keberlangsungan industri tahu rumahan di Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Para perajin berharap pemerintah menjaga harga bahan baku utama tersebut di kisaran Rp 11 ribu per kilogram (kg) agar biaya produksi tetap terkendali, harga jual tahu tidak membebani konsumen, dan puluhan tenaga kerja lokal tetap bisa menggantungkan penghasilan dari industri rumahan.

Bagi para produsen tahu di Temuasri, kepastian harga kedelai bukan sekadar persoalan hitung-hitungan modal. Di tengah persaingan pasar, perubahan harga bahan baku bisa memengaruhi keputusan produksi, ukuran tahu, hingga harga jual di tingkat pedagang eceran.

epson
Desy Arini, 34, salah seorang produsen tahu di Desa Temuasri, menyebut harga kedelai impor Rp 11 ribu per kg sebagai batas ideal untuk menjaga kelangsungan usahanya. Dengan harga tersebut, perajin memiliki ruang untuk mempertahankan harga jual tanpa harus membebani pembeli.

“Idealnya harga kedelai impor berada di kisaran Rp 11 ribu per kg agar usaha kami tetap berjalan dan tidak membebani pembeli,” ujar Desy.

Dia menjelaskan, lonjakan harga kedelai impor kerap menempatkan produsen pada posisi sulit. Pilihannya, memperkecil ukuran tahu atau menaikkan harga jual. Namun, kedua langkah tersebut sama-sama memiliki risiko, terutama terhadap penjualan di tingkat pedagang eceran.

Ukuran tahu yang lebih kecil berpotensi mengurangi daya tarik produk. Sementara kenaikan harga jual bisa membuat konsumen beralih ke produk lain yang lebih terjangkau.

“Sebenarnya kalau dihitung ini tidak terlalu berdampak, tapi kalau bisa turun di kisaran itu ya lebih bagus,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Warsini, 45, produsen tahu lainnya di Temuasri. Menurut dia, kepastian pasokan dan stabilitas harga kedelai jauh lebih dibutuhkan pelaku usaha dibandingkan bantuan yang hanya bersifat sementara.

“ Kami berharap pemerintah dapat menjamin ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga kedelai impor. Jika harga bahan baku stabil di angka Rp 11 ribu, maka perhitungan modal produksi kami menjadi lebih jelas,” tuturnya.

Bergantung pada Kedelai Impor

Ketergantungan industri rumahan tahu di Desa Temuasri terhadap kedelai impor tergolong tinggi. Bahan baku tersebut dipilih karena mampu menghasilkan tekstur tahu yang lebih padat dan mengembang, sesuai dengan karakteristik produk yang diminati pasar.

Kondisi itu membuat stabilitas harga kedelai impor menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi. Ketika harga bahan baku berubah, perajin harus menyesuaikan perhitungan biaya agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.

Di sisi lain, Desa Temuasri telah berkembang menjadi salah satu sentra pemasok tahu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Sempu dan wilayah sekitarnya. Industri rumahan tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi puluhan tenaga kerja lokal.

Bagi para perajin, mempertahankan harga jual bukan semata-mata soal memenangkan persaingan. Ada keberlangsungan usaha dan penghasilan pekerja yang turut dipertaruhkan.

“Bukan bermaksud cari untung banyak, tapi pertimbangan kami banyak. Kalau harus menaikkan harga jual, takut tersaingi dengan yang lain,” kata Warsini. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
perajin tahu Banyuwangi Industri tahu Temuasri Harga kedelai Rp 11 ribu Sentra tahu Sempu Harga Kedelai Impor