RADAR BANYUWANGI - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menilai rencana pengalihan kepemilikan saham mayoritas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh, kepada pemerintah bakal berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan.
Direktur Keuangan WIKA Mulyadi mengatakan, kondisi keuangan WIKA saat ini masih terpengaruh oleh kinerja investasi perseroan di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Konsorsium BUMN itu memegang 60 persen saham KCIC.
WIKA sendiri memiliki 33,36 persen saham PSBI. Karena itu, bagian kerugian dari investasi tersebut ikut diperhitungkan dalam laporan keuangan perseroan.
“Terkait bagaimana jika kereta cepat nanti diambil alih oleh pemerintah, ini memberikan dampak positif bagi WIKA,” kata Mulyadi dalam paparan publik WIKA yang digelar secara virtual, Kamis (1/10).
Menurut dia, selama investasi pada kereta cepat masih memberikan imbal hasil negatif, WIKA harus mengakui bagian kerugian sesuai dengan porsi kepemilikannya.
Kondisi tersebut ikut menekan laporan laba rugi perusahaan.
“Sehingga, apabila kereta cepat ini diambil alih oleh pemerintah ataupun nanti dari kementerian yang ditunjuk pemerintah, secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan kinerja keuangan WIKA,” ujarnya.
Mulyadi berharap proses pengalihan kepemilikan itu dapat diselesaikan tahun ini.
Tekanan dari investasi di PSBI memang masih cukup besar. Dalam laporan keuangan 2025, WIKA membukukan bagian rugi dari PSBI sekitar Rp1,66 triliun.
Nilai tercatat investasi WIKA di PSBI pun turun dari sekitar Rp2,93 triliun pada awal 2025 menjadi sekitar Rp1,27 triliun pada akhir tahun.
Tekanan berlanjut pada semester I 2026. WIKA mencatat bagian rugi dari entitas pengendalian bersama sekitar Rp721,40 miliar.
Pada periode yang sama, perseroan masih membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,48 triliun. Angka tersebut membaik dibandingkan kerugian sekitar Rp1,66 triliun pada semester I 2025.
Di sisi operasional, pendapatan WIKA pada enam bulan pertama 2026 naik sekitar 7,19 persen secara tahunan menjadi Rp6,27 triliun. Laba kotor juga meningkat menjadi sekitar Rp886,33 miliar.
Namun, perbaikan itu masih dibayangi beban keuangan sebesar Rp1,31 triliun serta bagian kerugian dari investasi pada entitas pengendalian bersama.
Posisi WIKA di proyek Whoosh tidak berupa kepemilikan langsung pada KCIC. WIKA masuk melalui PSBI, konsorsium BUMN Indonesia yang menguasai 60 persen saham KCIC.
Sementara itu, 40 persen saham KCIC lainnya dimiliki konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
Di dalam PSBI, porsi WIKA saat ini mencapai 33,36 persen. Porsi tersebut turun dari sebelumnya 39,12 persen setelah PSBI menerbitkan saham baru pada Desember 2024 yang seluruhnya diserap PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Karena menjadi pemegang saham PSBI, WIKA harus mencatat bagian laba atau rugi dari investasi tersebut sesuai dengan ketentuan akuntansi yang berlaku.
Pemerintah sebelumnya menyiapkan skema pengalihan kepemilikan 60 persen saham KCIC yang saat ini berada melalui PSBI.
Namun, proses tersebut belum dinyatakan rampung.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Evita Manthovani pada 18 September 2026 menyatakan pengalihan saham PSBI kepada pemerintah masih dalam tahap finalisasi.
Rencananya, kepemilikan tersebut akan dikelola melalui salah satu Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan.
Bagi WIKA, penyelesaian proses itu menjadi penting di tengah upaya penyehatan keuangan perusahaan. Jika pengalihan membuat WIKA tidak lagi harus menanggung bagian kerugian PSBI seperti saat ini, tekanan terhadap laporan keuangan perseroan berpotensi berkurang.
Namun, dampak akhirnya masih bergantung pada struktur transaksi, mekanisme pengalihan saham, serta perlakuan akuntansi setelah proses tersebut resmi diselesaikan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara