IHSG Sempat Jebol 6.000, Data Ekonomi Positif Belum Mampu Menahan Tekanan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:35 WIB
Pergerakan IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan sempat turun ke level 5.973 pada perdagangan Kamis (1/10) sebelum memangkas pelemahan dan ditutup di posisi 6.009,50. (ANTARA)
Pergerakan IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan sempat turun ke level 5.973 pada perdagangan Kamis (1/10) sebelum memangkas pelemahan dan ditutup di posisi 6.009,50. (ANTARA)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka Oktober 2026 dengan tekanan. Pada perdagangan Kamis (1/10), indeks sempat terperosok ke bawah level psikologis 6.000 sebelum memangkas pelemahan menjelang penutupan.

IHSG berakhir di level 6.009,50. Turun 61,64 poin atau 1,02 persen dari posisi sehari sebelumnya di 6.071,13. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di kisaran 5.973–6.095.

Tekanan tidak hanya terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Sebanyak 450 saham ditutup melemah, 206 saham menguat, dan 134 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai sekitar 32,95 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,07 triliun.

Pergerakan sektoral menunjukkan tekanan yang cukup merata. Sepuluh dari 11 sektor berada di zona merah.

Sektor teknologi menjadi pemberat utama dengan koreksi 3,93 persen. Transportasi dan logistik melemah 2,02 persen, barang baku turun 1,99 persen, sedangkan sektor perindustrian terkoreksi 1,81 persen.

Energi menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,31 persen.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pelemahan IHSG bukan sekadar akibat pergerakan beberapa saham tertentu. Investor cenderung mengurangi risiko secara lebih luas.

Inflasi Masih dalam Sasaran BI

Tekanan pasar terjadi ketika sejumlah indikator ekonomi domestik sebenarnya masih cukup kuat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Angka tersebut naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.

Secara bulanan, inflasi mencapai 0,30 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,84 persen secara tahunan.

Meski meningkat, inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Namun, pasar juga harus memperhitungkan tekanan nilai tukar. Rupiah masih bergerak dekat dengan level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut membuat ruang kebijakan moneter menjadi lebih menantang. BI tidak hanya harus menjaga inflasi, tetapi juga stabilitas rupiah di tengah tekanan pasar global.

Surplus Dagang Tembus US$3,55 Miliar

Kejutan positif lainnya datang dari neraca perdagangan.

BPS mencatat ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar. Nilainya tumbuh 6,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor tercatat US$23,06 miliar atau naik 19,09 persen secara tahunan.

Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sekitar US$3,55 miliar. Angka itu jauh di atas konsensus ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan surplus sekitar US$630 juta.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, surplus perdagangan mencapai US$7,25 miliar.

Surplus tersebut seharusnya menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, pasar belum meresponsnya secara agresif. Salah satu penyebabnya, impor ternyata tumbuh lebih rendah daripada perkiraan pasar sehingga surplus besar tidak sepenuhnya mencerminkan lonjakan ekspor.

Rupiah Dekati Rp18.000

Rupiah justru masih berada di bawah tekanan.

Pada Kamis sore, rupiah ditutup di sekitar Rp17.966 per dolar AS. Melemah 0,40 persen dari posisi sebelumnya Rp17.894 per dolar AS.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga bergerak melemah menjadi Rp17.937 per dolar AS.

Tekanan eksternal datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat berada di kisaran 5,34 persen, level tertinggi sejak 2002.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi tersebut berpotensi menekan aliran modal, nilai tukar, dan valuasi pasar saham.

Itulah sebabnya surplus perdagangan yang besar belum mampu mengangkat IHSG.

Short Selling Bukan Satu-satunya Penyebab

Perdagangan Kamis juga bertepatan dengan dimulainya kembali transaksi short selling secara terbatas di Bursa Efek Indonesia.

Pada tahap awal, lima saham yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme tersebut adalah ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.

Meski demikian, terlalu dini menyimpulkan bahwa short selling menjadi penyebab utama pelemahan IHSG.

Tekanan pasar jauh lebih luas. Sebanyak 450 saham turun dan 10 dari 11 sektor berakhir di zona merah. Artinya, koreksi lebih mencerminkan kombinasi sentimen domestik dan global.

Level 6.000 Jadi Penentu

Secara teknikal, level 6.000 kini menjadi area penting.

IHSG sempat menyentuh 5.973 sebelum berbalik dan ditutup di atas 6.000. Pergerakan itu menunjukkan masih adanya aksi beli ketika indeks masuk ke bawah batas psikologis tersebut.

Namun, pemulihan intraday belum cukup untuk memastikan koreksi telah berakhir.

Sebelum perdagangan dibuka, BRI Danareksa Sekuritas menempatkan area 6.019 sebagai salah satu support penting. Sementara itu, area 6.185–6.240 dinilai perlu ditembus untuk membuka peluang pemulihan teknikal yang lebih kuat.

Perdagangan 1 Oktober menunjukkan bahwa persoalan IHSG saat ini bukan ketiadaan kabar positif.

Inflasi masih dalam sasaran BI. Neraca perdagangan mencatat surplus US$3,55 miliar. Namun, tekanan rupiah dan tingginya imbal hasil obligasi AS membuat investor tetap berhati-hati.

Karena itu, arah IHSG selanjutnya akan banyak ditentukan oleh tiga faktor, antara lain kemampuan indeks bertahan di sekitar 6.000, pergerakan rupiah di dekat Rp18.000 per dolar AS, serta arah imbal hasil obligasi AS.

Selama tekanan eksternal belum mereda, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi.


Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rupiah hari ini IHSG hari ini analisis IHSG IHSG 1 Oktober 2026 bursa efek indonesia