RADAR BANYUWANGI - Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, Gandrung Sewu akan digelar malam hari. Puncak pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026. Perubahan waktu itu bukan hanya soal tata cahaya dan suasana panggung. Ada potensi ekonomi baru yang sebelumnya tidak sebesar ketika pertunjukan berlangsung siang hari.
Dengan menggunakan skala kunjungan 2025 sebagai pembanding, tambahan transaksi dari kamar hotel, makan malam, transportasi lokal, dan belanja setelah acara berpotensi mencapai Rp1,25 miliar hingga Rp3,98 miliar. Dalam skenario moderat, nilainya sekitar Rp2,31 miliar.
Angka tersebut bukan proyeksi resmi Pemkab Banyuwangi maupun penyelenggara. Nilainya merupakan simulasi untuk mengukur peluang ekonomi yang muncul karena penonton bertahan hingga malam.
Basis Ekonomi Sudah Rp8,5 Miliar
Pada 2025, rangkaian Gandrung Sewu didatangi sekitar 50.000 pengunjung selama tiga hari. Perputaran ekonominya diperkirakan mencapai Rp8,5 miliar.
Sekitar 200 UMKM mencatat transaksi Rp2,88 miliar. Sementara itu, hotel dan homestay menghasilkan sekitar Rp2,175 miliar.
Penyelenggaraan malam berpeluang menambah lapisan konsumsi baru.
Ketika pertunjukan utama masih berlangsung siang, sebagian penonton dari luar daerah masih bisa pulang pada hari yang sama. Saat acara berakhir malam, pilihannya berubah. Ada wisatawan yang lebih mungkin menginap, makan malam, menggunakan angkutan lokal, atau berbelanja sebelum kembali ke hotel.
Dari sinilah tambahan ekonomi bisa terbentuk.
Dalam skenario moderat, tambahan 1.500 malam kamar dengan transaksi rata-rata Rp500.000 menghasilkan Rp750 juta.
Kemudian, 18.000 transaksi makan malam dengan nilai rata-rata Rp50.000 menghasilkan Rp900 juta. Transportasi lokal diasumsikan menciptakan tambahan Rp360 juta dari 12.000 transaksi. Belanja setelah acara, seperti kopi, makanan ringan, dan oleh-oleh, diperkirakan menyumbang Rp300 juta.
Totalnya mencapai Rp2,31 miliar.
Kamar Hotel Bisa Jadi Titik Sempit
Potensi itu tidak otomatis menjadi omzet.
Pada Gandrung Sewu 2025, tingkat hunian hotel dan homestay dilaporkan mencapai 100 persen saat puncak acara. Di sisi lain, BPS mencatat tingkat penghunian kamar hotel di Banyuwangi sepanjang Oktober 2025 sebesar 39,31 persen dengan rata-rata lama menginap 1,4 hari.
Dua data itu menggambarkan kondisi berbeda. Secara bulanan, kapasitas kamar masih tersedia. Namun, permintaan saat malam puncak acara bisa terkonsentrasi sangat tinggi.
Karena itu, tambahan malam kamar baru akan benar-benar tercipta jika permintaan dapat menyebar ke homestay, penginapan kelas menengah, dan hotel di kawasan lain yang masih memiliki kamar.
Pengalaman Banyuwangi Ethno Carnival 2026 memperlihatkan pola serupa. Sejumlah hotel dan homestay dilaporkan penuh menjelang acara. Pada akhir pekan penyelenggaraan, KAI mencatat 12.527 penumpang tiba di stasiun-stasiun di Banyuwangi. Keterisian penerbangan Jakarta–Banyuwangi menjelang acara juga dilaporkan sekitar 90 persen.
Data tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan Gandrung Sewu. Namun, polanya menunjukkan bahwa acara besar mampu mendongkrak kebutuhan perjalanan dan akomodasi dalam waktu singkat.
Makan Malam Jadi Peluang Terbesar
Makan malam merupakan peluang ekonomi yang paling mudah terlihat.
Pertunjukan siang tidak otomatis membuat penonton membeli makan malam di sekitar lokasi. Pertunjukan malam lebih mungkin melakukannya. Sebagian penonton akan makan sebelum acara, sebagian lainnya setelah pertunjukan selesai.
Jika restoran, warung, sentra UMKM, kafe, dan pusat oleh-oleh tetap beroperasi hingga malam, transaksi bisa berlangsung lebih lama.
Sebaliknya, jika akses keluar macet atau angkutan sulit diperoleh, pengunjung cenderung langsung pulang. Peluang belanja setelah acara pun ikut mengecil.
Hal yang sama berlaku pada transportasi. Ribuan orang yang meninggalkan satu lokasi pada malam hari akan memunculkan kebutuhan angkutan daring, taksi, kendaraan sewa, bus antar-jemput, parkir, hingga jasa pengemudi.
Artinya, transportasi bukan sekadar fasilitas pendukung. Kelancaran mobilitas ikut menentukan apakah pengunjung masih sempat membelanjakan uang setelah pertunjukan.
Ukur Lama Tinggal, Bukan Hanya Penonton
Simulasi Rp2,31 miliar tetap perlu dibaca dengan hati-hati.
Angka 50.000 pengunjung pada 2025 merupakan jumlah kunjungan selama rangkaian tiga hari, bukan berarti ada 50.000 wisatawan unik pada pertunjukan utama. Sebagian konsumsi malam juga bisa sekadar berpindah waktu, bukan benar-benar menjadi belanja tambahan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Gandrung Sewu malam hari sebaiknya tidak berhenti pada jumlah penonton.
Data yang lebih penting adalah berapa tambahan malam kamar yang terjual, berapa omzet makan malam, berapa transaksi transportasi setelah acara, serta berapa lama wisatawan bertahan di Banyuwangi.
Jika empat indikator itu meningkat, format malam memang berhasil menciptakan nilai ekonomi baru.
Keuntungan terbesar Gandrung Sewu malam hari mungkin bukan berasal dari membuat kerumunan semakin besar. Nilainya justru bisa datang dari membuat wisatawan tinggal beberapa jam lebih lama, atau satu malam lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di Banyuwangi.
Editor : Lugas Rumpakaadi