RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi ujian penting pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Setelah ditutup turun 0,83 persen ke level 6.071,14 pada akhir September, indeks kini hanya berjarak tipis dari level psikologis 6.000.
IHSG diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi. Area 6.000 menjadi batas penting yang perlu dicermati pelaku pasar. Selama level tersebut bertahan, peluang terjadinya rebound teknikal masih terbuka.
Sebaliknya, jika IHSG menembus 6.000 dengan tekanan jual besar, risiko koreksi dapat melebar ke kisaran 5.950 hingga 5.900.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 6.000–6.200. Sementara itu, analis Republik Investor Hendra Wardana menempatkan support di 6.065 dan 6.040, dengan 6.000 sebagai support psikologis. Resistance terdekat berada di 6.085 dan 6.120.
Asing Masih Net Sell
Tekanan jual investor asing masih menjadi salah satu tantangan. Pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih sekitar Rp1,61 triliun di seluruh pasar.
Tekanan juga terlihat cukup merata. Dari 11 indeks sektoral, hanya sektor perindustrian dan barang konsumen primer yang berakhir menguat. Sebanyak 360 saham ditutup turun, 308 saham naik, sedangkan 125 saham stagnan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penguatan IHSG membutuhkan dukungan yang lebih luas, terutama dari saham-saham berkapitalisasi besar.
Rupiah Menguat, tetapi Masih Dekat Rp18.000
Dari pasar valuta asing, rupiah memberikan sedikit sentimen positif. Mata uang Garuda di pasar spot pada Rabu menguat sekitar 0,33 persen ke level Rp17.884 per dolar AS.
Namun, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada 30 September tercatat Rp17.998 per dolar AS.
Perbedaan tersebut perlu dicermati karena kurs pasar spot dan JISDOR merupakan dua acuan berbeda. Meski rupiah menguat di pasar, nilai tukarnya masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS.
Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
Stabilitas rupiah akan menjadi salah satu faktor penting bagi IHSG. Penguatan berkelanjutan dapat membantu meredakan kekhawatiran terhadap arus modal keluar.
Wall Street Campuran, Yield AS Tinggi
Sentimen global juga belum sepenuhnya mendukung pasar saham Asia.
Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat. S&P 500 turun sekitar 0,3 persen dan Dow Jones melemah sekitar 0,9 persen. Sementara itu, Nasdaq Composite naik sekitar 0,2 persen.
Pasar memperoleh sedikit angin segar dari data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. Inflasi PCE Agustus naik 3,4 persen secara tahunan, lebih rendah daripada perkiraan pasar sebesar 3,7 persen.
Data tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.
Meski demikian, imbal hasil obligasi pemerintah AS masih tinggi. Data Departemen Keuangan AS menunjukkan yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,29 persen pada 30 September.
Yield tinggi dapat menahan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Short Selling Dimulai Hari Ini
Perdagangan Kamis juga akan menjadi perhatian karena Bursa Efek Indonesia mulai menerapkan transaksi short selling secara terbatas.
Pada tahap awal, lima saham masuk daftar, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Fasilitas tersebut pada tahap pertama tersedia melalui PT Semesta Indovest Sekuritas dan PT Ajaib Sekuritas Asia.
Short selling memungkinkan investor menjual saham pinjaman dengan harapan dapat membelinya kembali pada harga yang lebih rendah.
Namun, dimulainya fasilitas itu tidak berarti lima saham tersebut otomatis akan turun. Dampaknya terhadap IHSG juga belum dapat dipastikan karena penerapannya masih terbatas.
BBCA layak mendapat perhatian lebih karena memiliki bobot besar terhadap IHSG. Pergerakan tajam saham berkapitalisasi besar dapat memengaruhi arah indeks secara keseluruhan.
Skenario IHSG Hari Ini
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Indikator MACD masih berada di wilayah negatif, sedangkan Stochastic RSI telah memasuki area oversold.
Kondisi itu menunjukkan tekanan koreksi belum sepenuhnya berakhir, tetapi peluang rebound mulai terbuka.
Skenario pertama, IHSG bertahan di atas 6.040–6.000. Jika tekanan jual mereda, indeks berpeluang menguji resistance 6.085 dan 6.120. Penembusan 6.120 dapat membuka ruang penguatan menuju area 6.200.
Skenario kedua, IHSG turun di bawah 6.000 disertai peningkatan tekanan jual. Dalam kondisi tersebut, indeks berisiko melanjutkan koreksi menuju 5.950 hingga 5.900.
Dengan penutupan terakhir di 6.071,14, jarak menuju support maupun resistance relatif sempit. Pergerakan pada awal sesi perdagangan akan sangat menentukan arah IHSG sepanjang hari.
Secara umum, IHSG pada Kamis, 1 Oktober 2026, diperkirakan bergerak di kisaran 6.000–6.200. Arus dana asing, rupiah, yield obligasi AS, serta reaksi pasar terhadap implementasi short selling menjadi sentimen utama yang perlu diperhatikan.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.
Editor : Lugas Rumpakaadi