RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat memberi harapan pada perdagangan terakhir September. Menguat sejak pagi, indeks bahkan mendekati level 6.200.
Namun, tenaga beli tak bertahan lama.
Pada Rabu, 30 September 2026, IHSG justru ditutup turun 50,56 poin atau 0,83 persen ke posisi 6.071,14. Indeks sempat menyentuh sekitar 6.187 sebelum berbalik arah dan berakhir dekat titik terendah hariannya.
Pergerakan itu menjadi gambaran utama perdagangan kemarin. Pasar sebenarnya mencoba bangkit, tetapi tekanan jual kembali mengambil alih menjelang penutupan.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat naik 0,37 persen ke 6.144,49. Penguatan berlanjut hingga sesi pertama dan membawa indeks mendekati area 6.200.
Sebelum pasar dibuka, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman sudah mengingatkan risiko koreksi jika IHSG gagal menembus level tersebut.
“Tapi masih hati-hati karena jika gagal break 6.200, potensi koreksi lagi ke depan,” ujarnya.
BNI Sekuritas saat itu menempatkan area penopang IHSG di 6.040–6.100 dan resistensi di 6.160–6.200. Pergerakan pasar kemudian berjalan mendekati skenario tersebut. IHSG masuk ke kawasan resistensi, tetapi gagal bertahan.
Asing Masih Menjual
Tekanan investor asing belum sepenuhnya mereda.
Sehari sebelumnya, Selasa (29/9), investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp 777,18 miliar di seluruh pasar. Saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, TLKM, dan BBCA termasuk yang banyak dilepas.
Tekanan itu berlanjut setidaknya hingga pertengahan perdagangan Rabu. Transaksi reguler mencatat jual bersih asing sementara sekitar Rp 683 miliar. BBCA, TLKM, dan BMRI kembali masuk kelompok saham dengan tekanan jual asing cukup besar.
Kondisi tersebut penting karena saham-saham berkapitalisasi besar memiliki bobot tinggi terhadap IHSG. Ketika tekanan jual terkonsentrasi pada kelompok itu, kenaikan saham lain belum tentu cukup mengangkat indeks.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto juga mengingatkan kombinasi pelemahan rupiah, arus keluar asing, dan kenaikan imbal hasil obligasi.
“Risiko terhadap equities akan meningkat apabila pelemahan Rupiah berlanjut bersamaan dengan foreign outflows dan kenaikan yield SBN,” tulisnya.
Rupiah Justru Menguat
Menariknya, tekanan di pasar saham terjadi ketika rupiah justru membaik.
Rupiah di pasar spot menutup perdagangan Rabu di sekitar Rp 17.894 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat 87 poin atau sekitar 0,48 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Artinya, penurunan IHSG kemarin tidak bisa dijelaskan hanya dengan pelemahan rupiah.
Sehari sebelumnya, tekanan terhadap mata uang memang cukup berat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada di Rp 17.998 per dolar AS pada 29 September. Rupiah di pasar spot juga sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS.
Bank Indonesia menilai pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi kebutuhan riil valuta asing.
“Jalur terjadinya pelemahan nilai tukar itu tidak semata-mata hanya supply dan demand, karena kebutuhan,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea.
Sentimen global, persepsi investor, dan perubahan portofolio dapat lebih dahulu memengaruhi harga sebelum terlihat dalam permintaan dolar.
BI sendiri mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 22–23 September.
“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” demikian pernyataan resmi BI.
Yield AS Masih Tinggi
Tekanan eksternal terutama datang dari pasar obligasi Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat berada di sekitar 5,27 persen, level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kenaikan imbal hasil tersebut membuat aset dolar lebih menarik bagi investor global. Dampaknya, pasar negara berkembang harus bersaing lebih keras mendapatkan aliran modal.
Bagi IHSG, situasi itu membuat rebound lebih sulit bertahan. Investor memiliki alternatif instrumen dolar dengan imbal hasil tinggi dan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan saham negara berkembang.
Harga minyak juga masih menjadi perhatian. Brent bertahan di atas USD 100 per barel meski sempat turun ke sekitar USD 102.
Harga minyak tinggi dapat menguntungkan sejumlah emiten energi. Namun, bagi perekonomian Indonesia, kondisi itu juga berpotensi meningkatkan biaya impor energi, kebutuhan dolar, dan tekanan inflasi.
September Turun Hampir 7 Persen
Tekanan IHSG terlihat jelas jika ditarik ke periode yang lebih panjang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat IHSG berada di level 6.525,48 pada akhir Agustus. Dengan penutupan 6.071,14 pada akhir September, indeks turun sekitar 6,96 persen dalam sebulan.
Meski demikian, kinerja kuartal III masih positif.
Pada akhir Juni, IHSG berada di 5.643,19. Artinya, hingga akhir September indeks masih menguat sekitar 7,58 persen sepanjang kuartal III.
Gambarannya berubah jika dibandingkan dengan akhir 2025. OJK mencatat IHSG menutup tahun lalu di 8.646,94. Dengan posisi akhir September 2026, indeks masih terkoreksi sekitar 29,79 persen.
Data itu menunjukkan IHSG memang bangkit pada Juli dan Agustus, tetapi sebagian besar tenaga pemulihan tersebut hilang sepanjang September.
Level 6.000 Jadi Ujian
Penutupan di 6.071 membuat area psikologis 6.000 semakin penting.
Jika indeks mampu bertahan di atas kawasan tersebut, ruang konsolidasi dan rebound masih terbuka. Namun, jika tekanan jual asing kembali membesar bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan rupiah, IHSG berpotensi kembali menguji level 6.000.
Perdagangan 30 September akhirnya memberi pesan yang cukup jelas. Pasar sudah mencoba bangkit, tetapi tenaga belinya belum cukup kuat.
Rupiah memang membaik. Namun, arus dana asing, tingginya imbal hasil obligasi AS, serta ketidakpastian global masih menahan minat terhadap saham Indonesia.
Memasuki Oktober dan kuartal IV, pasar bukan hanya menunggu IHSG naik satu atau dua hari. Yang lebih penting adalah kemampuan indeks membangun momentum baru setelah rebound akhir September gagal bertahan.
Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.
Editor : Lugas Rumpakaadi