IHSG Sempat Anjlok 2,2 Persen, Mengapa Akhirnya Ditutup Turun Hanya 0,43 Persen?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 16:43 WIB
Pekerja melintas di depan layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (30/4). IHSG pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, sempat turun lebih dari 2 persen sebelum memangkas koreksi. (ANTARA FOTO)
Pekerja melintas di depan layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (30/4). IHSG pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, sempat turun lebih dari 2 persen sebelum memangkas koreksi. (ANTARA FOTO)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 29 September 2026, di level 6.121,70. Indeks turun 0,43 persen atau sekitar 26 poin dibandingkan penutupan Senin di 6.147,86.

Namun, angka penutupan itu belum menggambarkan tekanan besar yang terjadi sepanjang hari. IHSG sempat terperosok hingga 6.013,08 pada perdagangan pagi. Artinya, indeks pernah turun sekitar 2,2 persen sebelum berbalik menguat hampir 109 poin dari titik terendah.

Pemulihan tersebut menjadi perhatian karena terjadi saat pasar menghadapi tekanan berlapis. Rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, imbal hasil obligasi Amerika Serikat melonjak, harga minyak bertahan tinggi, dan bursa Asia mayoritas melemah.

Sempat Dekati Level 6.000

Tekanan terhadap IHSG berlangsung cepat sejak awal perdagangan. Indeks yang dibuka di sekitar 6.118 terus melorot hingga menyentuh 6.013,08.

Reuters mencatat IHSG sempat kehilangan sekitar 2,2 persen. Namun, menjelang penutupan, tekanan mulai berkurang. Pada sekitar pukul 14.45 WIB, koreksi indeks telah menyempit menjadi sekitar 0,6 persen.

Saham perbankan besar ikut membantu pemulihan. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri sempat menguat lebih dari 1 persen ketika IHSG mulai memangkas penurunannya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa aksi jual tidak terjadi secara merata. Sebagian investor mulai masuk ketika harga saham terkoreksi cukup dalam.

Meski demikian, rebound intraday belum bisa dibaca sebagai pembalikan tren. IHSG tetap ditutup di zona merah dan masih berada di bawah posisi penutupan sehari sebelumnya.

Rupiah Tembus Rp18.000

Tekanan terbesar datang dari pasar valuta asing. Rupiah sempat menyentuh Rp18.010 per dolar AS, level terlemah sejak awal Agustus 2026.

Pelemahan rupiah berbarengan dengan lonjakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menembus sekitar 5,27 persen. Dolar AS juga bertahan dekat level tertinggi dalam dua bulan.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan imbal hasil obligasi global menjadi faktor penting yang menekan rupiah.

“Menurut analisis saya, sentimen terkuat pelemahan rupiah saat ini justru datang dari kenaikan bond yield global, terutama di tenor panjang,” ujarnya.

Kenaikan yield AS membuat aset berbasis dolar lebih menarik. Dampaknya, aset negara berkembang harus bersaing lebih keras untuk mempertahankan dana investor global.

Tekanan tersebut tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang Asia juga melemah, sedangkan bursa Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura bergerak di zona negatif.

BI Prioritaskan Stabilitas Rupiah

Tekanan rupiah membuat arah kebijakan Bank Indonesia kembali menjadi perhatian.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility dipertahankan di 4,75 persen, sedangkan Lending Facility tetap 6,50 persen.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” demikian pernyataan resmi Bank Indonesia.

BI juga menegaskan akan memperkuat stabilisasi nilai tukar dan mengoptimalkan instrumen moneter untuk menarik aliran modal portofolio asing.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus tercatat sekitar USD 146,5 miliar atau setara pembiayaan 5,4 bulan impor.

Bagi pasar saham, stabilitas rupiah penting karena berkaitan langsung dengan persepsi risiko investor asing terhadap aset Indonesia.

Minyak Tinggi Tambah Beban

Tekanan eksternal juga datang dari harga minyak.

Harga Brent bertahan di atas USD 100 per barel di tengah kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Ketegangan geopolitik membuat premi risiko energi tetap tinggi.

Bagi Indonesia, harga minyak mahal menjadi sentimen yang serba dua sisi. Emiten energi tertentu bisa mendapat keuntungan, tetapi secara makro kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor, tekanan inflasi, dan kebutuhan dolar.

Karena itu, kenaikan minyak tidak otomatis menjadi kabar positif bagi IHSG secara keseluruhan.

Saham Rp1 Bukan Penyebab Utama

Di dalam negeri, pasar juga tengah beradaptasi dengan perubahan batas harga minimum saham menjadi Rp1.

Kebijakan itu memungkinkan saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 mencari harga keseimbangan baru. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyebut proses tersebut sebagai bagian dari pembentukan harga wajar.

“Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor, mungkin karena fair value-nya tidak di Rp50. Dan saat ini sedang mencari fair value-nya,” ujar Jeffrey.

Namun, dampak kelompok saham tersebut terhadap IHSG relatif terbatas.

BEI mencatat 26 saham yang sebelumnya berada di harga Rp50 hanya memiliki bobot sekitar 1,91 persen terhadap IHSG. Pada perdagangan Senin, kelompok saham itu menyumbang penurunan sekitar 16,7 poin atau 0,27 persen.

Padahal, pada hari yang sama IHSG turun sekitar 1,51 persen.

Artinya, kebijakan saham Rp1 memang menambah volatilitas pada saham tertentu, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh pelemahan indeks.

Level 6.000 Jadi Perhatian

Pergerakan Selasa membuat area 6.000–6.013 menjadi titik penting untuk diperhatikan dalam jangka pendek.

Alasannya, tekanan jual mulai mereda ketika IHSG mendekati level tersebut. Dari posisi terendah 6.013,08, indeks mampu pulih sekitar 108,6 poin menuju penutupan 6.121,70.

Namun, satu kali rebound belum cukup untuk memastikan koreksi selesai.

Di sisi atas, area 6.147–6.150 menjadi hambatan awal. Setelah itu, perhatian beralih ke kisaran 6.180–6.200.

Arah IHSG berikutnya tetap sangat bergantung pada rupiah, yield US Treasury, harga minyak, dan arus dana asing.

Perdagangan 29 September akhirnya memberi gambaran yang lebih kompleks daripada sekadar penurunan 0,43 persen. IHSG memang masih berada di bawah tekanan, tetapi rebound hampir 109 poin dari titik terendah menunjukkan bahwa pembeli belum sepenuhnya meninggalkan pasar.


Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham maupun instrumen investasi tertentu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
IHSG hari ini analisis IHSG IHSG 29 September 2026 rupiah 18000 bursa efek indonesia