IHSG Hari Ini 29 September 2026 Diprediksi Volatil, Rupiah dan Wall Street Jadi Tekanan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:24 WIB
Pengunjung mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG ditutup di level 6.147,86 pada Senin, 28 September 2026, menjelang perdagangan Selasa yang diperkirakan masih volatil. (Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO)
Pengunjung mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG ditutup di level 6.147,86 pada Senin, 28 September 2026, menjelang perdagangan Selasa yang diperkirakan masih volatil. (Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan masih menghadapi perdagangan yang volatil pada Selasa, 29 September 2026.

Pelemahan rupiah, berlanjutnya tekanan jual investor asing, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel menjadi kombinasi sentimen yang membatasi ruang penguatan indeks.

Secara teknikal, zona 6.110–6.124 menjadi wilayah support terdekat yang perlu diperhatikan.

Apabila area tersebut gagal dipertahankan, tekanan berpotensi berlanjut menuju 6.030–6.029 dan selanjutnya level psikologis 6.000.

Sebaliknya, jika tekanan jual mulai mereda, IHSG berpeluang mengalami technical rebound menuju 6.169–6.185, kemudian 6.230.

Artikel ini disusun berdasarkan perkembangan pasar hingga sekitar pukul 06.00 WIB, Selasa, 29 September 2026, sebelum perdagangan Bursa Efek Indonesia dibuka.

Ringkasan perdagangan dan level yang perlu dicermati:

IHSG Jatuh 1,51 Persen, Tekanan Jual Meluas

IHSG menutup perdagangan Senin, 28 September 2026, dengan koreksi 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86.

Indeks LQ45 turun 1,50 persen menjadi 611,81.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di kisaran 6.140,34 hingga 6.227,90.

Posisi penutupan yang dekat dengan titik terendah harian menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat sampai akhir sesi.

ANTARA mencatat nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp12,57 triliun.

Sebanyak 192 saham menguat, sedangkan 554 saham melemah dan 217 saham tidak berubah.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai tekanan tidak hanya berasal dari satu faktor.

“Sentimen eksternal dan internal membebani pergerakan IHSG," ungkapnya.

Menurut Nico, pelemahan bursa regional, ketidakpastian di Timur Tengah, dan tingginya harga minyak ikut membebani pasar domestik.

Lebarnya jumlah saham yang turun menunjukkan koreksi Senin tidak semata-mata berasal dari satu atau dua saham berkapitalisasi besar.

Tekanan terjadi pada sebagian besar pasar.

Pada saat yang sama, data RTI Business yang dikutip pemberitaan pasar menunjukkan investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,13 triliun di seluruh pasar.

BMRI menjadi salah satu saham dengan tekanan jual asing terbesar, disusul TLKM.

Kombinasi antara pelemahan indeks dan keluarnya dana asing menjadi perhatian penting untuk perdagangan Selasa.

Apabila foreign selling berlanjut pada saham berkapitalisasi besar, peluang rebound IHSG dapat tertahan.

Rupiah Mendekati Rp18.000, BI Tekankan Stabilisasi

Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Data resmi Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada Senin, 28 September 2026, berada di Rp17.965 per dolar AS, melemah dibandingkan Rp17.917 per dolar AS pada 25 September.

Level tersebut membuat rupiah kembali mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pelemahan rupiah perlu diperhatikan investor saham karena dapat memengaruhi imbal hasil investor asing ketika dikonversikan ke dolar.

Rupiah yang lebih lemah juga dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan impor atau kewajiban dalam mata uang asing.

Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, Deposit Facility 4,75 persen, dan Lending Facility 6,50 persen.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat," demikian kutipan Bank Indonesia dalam siaran pers resminya.

BI juga menyatakan terus memperkuat kebijakan untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pernyataan tersebut penting karena tekanan terhadap rupiah saat ini berlangsung bersamaan dengan yield obligasi AS yang tinggi.

Selama imbal hasil aset dolar tetap menarik, arus modal menuju pasar negara berkembang berpotensi menghadapi tantangan.

Wall Street Kompak Turun

Sentimen dari Amerika Serikat belum memberikan dukungan positif menjelang pembukaan bursa Indonesia.

Pada perdagangan Senin waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 0,67 persen menjadi 51.481,51.

S&P 500 melemah 0,77 persen ke 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,92 persen menjadi 26.820,38.

Reuters melaporkan kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury kembali menekan pasar saham AS.

Investor juga memperhitungkan kemungkinan suku bunga Federal Reserve bertahan tinggi atau kembali dinaikkan.

Koreksi Wall Street tidak otomatis berarti IHSG akan ditutup melemah pada Selasa.

Namun, pergerakan serentak tiga indeks utama AS menjadi tambahan sentimen risk-off yang dapat memengaruhi pembukaan pasar Asia.

Yield Treasury 10 Tahun Naik ke 5,251 Persen

Faktor eksternal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pergerakan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Yield US Treasury tenor 10 tahun pada Senin naik sekitar 7 basis poin menjadi 5,251 persen, dari 5,181 persen pada Jumat.

Yield Treasury tenor 30 tahun meningkat menjadi 5,5704 persen.

Tenor 10 tahun sempat mencapai posisi tertinggi sejak Juni 2007, sedangkan tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak Mei 2004.

Kondisi tersebut penting bagi IHSG karena obligasi AS dengan yield lebih tinggi menawarkan alternatif investasi yang semakin kompetitif dibandingkan aset berisiko.

Tekanan ini dapat menjadi lebih terasa bagi pasar negara berkembang.

Yield tinggi dapat memperkuat daya tarik aset dolar, sementara di Indonesia rupiah justru sedang menghadapi tekanan.

Pasar juga memperkirakan peluang sekitar 70 persen bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Artinya, salah satu tantangan IHSG bukan semata-mata Wall Street turun, tetapi perubahan harga aset global akibat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$105

Sentimen lain yang perlu diperhatikan berasal dari pasar energi.

Harga minyak Brent pada Senin ditutup naik 96 sen menjadi US$105,28 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berakhir di US$92,60 per barel.

Harga minyak sebelumnya sempat melonjak lebih dari US$4 per barel sebelum memangkas penguatan.

Lonjakan terjadi di tengah ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran serta perkembangan negosiasi mengenai konflik dan Selat Hormuz.

Dampak minyak mahal terhadap IHSG tidak seragam.

Saham perusahaan energi dapat memperoleh sentimen positif karena kenaikan harga komoditas berpotensi memperbaiki pendapatan produsen minyak, gas, atau komoditas energi lain.

Namun dari perspektif makroekonomi, minyak mahal meningkatkan risiko inflasi, biaya transportasi, kebutuhan devisa, dan beban impor energi.

Karena itu, harga minyak di atas US$100 tidak dapat dibaca semata-mata sebagai sentimen positif bagi indeks.

BEI: Koreksi IHSG Bukan Semata-mata karena Saham Rp1

Perdagangan Senin merupakan hari pertama penerapan kebijakan harga minimum saham Rp1, menggantikan batas minimum sebelumnya Rp50.

Bursa Efek Indonesia sebelumnya menjelaskan bahwa perubahan rentang harga tersebut dimaksudkan antara lain untuk memperbaiki proses price discovery, meningkatkan likuiditas, dan memberikan fleksibilitas kepada pelaku pasar.

Kebijakan baru itu menarik perhatian setelah sejumlah saham berharga rendah mengalami volatilitas tinggi pada hari pertama penerapannya.

Namun Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kebijakan tersebut tidak bisa dianggap sebagai penyebab tunggal koreksi indeks.

"Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50 yang memberikan pressure kepada IHSG," terangnya.

Menurut Jeffrey, bobot saham yang sebelumnya lama berada pada harga Rp50 relatif kecil terhadap IHSG sehingga pergerakannya tidak secara signifikan menentukan indeks secara keseluruhan.

Pandangan tersebut membuat koreksi Senin lebih tepat dilihat sebagai kombinasi beberapa faktor, di antaranya pelemahan saham berkapitalisasi besar, rupiah, foreign flow, yield Treasury, harga minyak, dan ketidakpastian global.

Prediksi IHSG Selasa 29 September 2026

Dari sisi teknikal, sejumlah analis masih melihat risiko koreksi belum sepenuhnya berakhir.

BRI Danareksa Sekuritas menilai penurunan IHSG telah menembus sejumlah support penting.

“Secara teknikal, pelemahan IHSG mengonfirmasi breakdown dari pola rising wedge dan neckline head and shoulders di 6.375.”

BRI Danareksa memperkirakan support terdekat berada di 6.110, kemudian 6.030. Resistance berada di 6.185–6.230, disusul 6.270 dan 6.375. Indikator MACD juga berada di zona negatif.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata sebelumnya juga melihat risiko pengujian support lebih rendah.

“Dalam jangka pendek, IHSG rentan menguji area support di kisaran 6.186–6.113, dengan support berikutnya di sekitar 6.029," ujarnya.

Kiwoom menilai indeks membutuhkan pemulihan ke atas beberapa resistance sebelum sinyal rebound menjadi lebih kuat.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa.

MNC menempatkan support di 6.124 dan resistance di 6.169.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menempatkan support lebih rendah di 6.029 dan resistance di 6.328.

Ia menilai tekanan berasal antara lain dari capital outflow, penguatan dolar, kenaikan yield global, serta harga minyak.

Perbedaan level antara satu analis dan analis lain merupakan hal yang wajar dalam analisis teknikal.

Namun, terdapat satu kesamaan penting, yakni zona 6.110–6.124 menjadi area yang sangat dekat dengan posisi IHSG saat ini dan berpotensi menentukan arah jangka sangat pendek.

Skenario Pertama: Support 6.110–6.124 Bertahan

Jika tekanan jual mulai berkurang dan IHSG mampu bertahan di zona 6.110–6.124, indeks mempunyai peluang mengalami technical rebound.

Resistance pertama berada di sekitar 6.169–6.185.

Jika area ini berhasil dilewati, target berikutnya berada di sekitar 6.230–6.270.

Namun, rebound tersebut belum otomatis menunjukkan perubahan tren.

Kualitas rebound akan lebih meyakinkan apabila disertai peningkatan jumlah saham yang menguat, perbaikan nilai tukar rupiah, dan berkurangnya aksi jual investor asing.

Tanpa faktor tersebut, penguatan berpotensi hanya menjadi pemantulan teknikal setelah koreksi tajam.

Skenario Kedua: IHSG Menembus 6.110

Risiko akan meningkat apabila IHSG turun menembus 6.110 dengan tekanan jual yang kuat.

Support berikutnya berada di sekitar 6.029–6.030.

Area tersebut penting karena sangat dekat dengan batas psikologis 6.000.

Jika 6.029 juga tidak bertahan, volatilitas berpotensi meningkat dan pasar dapat menguji level 6.000.

Skenario ini menjadi semakin relevan apabila rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, foreign selling kembali membesar pada saham perbankan dan saham berkapitalisasi besar, atau yield Treasury AS melanjutkan kenaikannya.

Skenario Ketiga: Rebound Menjadi Lebih Kuat

Skenario yang lebih konstruktif membutuhkan IHSG melewati setidaknya 6.185–6.230.

Jika resistance tersebut ditembus dengan volume yang memadai dan breadth pasar membaik, indeks mempunyai peluang menuju sekitar 6.270.

Resistance yang lebih jauh berada di kisaran 6.328 hingga 6.375, berdasarkan beberapa proyeksi analis.

Namun berdasarkan kondisi pasar hingga Selasa pagi, skenario rebound kuat masih menghadapi hambatan karena minyak tetap mahal, yield Treasury berada di atas 5 persen, Wall Street melemah, dan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Mengapa Koreksi IHSG Kali Ini Perlu Dicermati?

Tekanan terhadap IHSG saat ini berbeda dengan koreksi yang semata-mata disebabkan aksi ambil untung.

Beberapa tekanan muncul pada waktu yang hampir bersamaan.

Indeks kehilangan sejumlah support teknikal.

Investor asing melakukan penjualan bersih.

Rupiah bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS. 

Yield Treasury 10 tahun berada di atas 5 persen.

Di saat bersamaan, Brent bertahan di atas US$100 per barel.

Korelasi faktor-faktor tersebut menjadi penting.

Yield Treasury tinggi meningkatkan daya tarik aset dolar.

Aliran dana menuju dolar dapat menekan mata uang negara berkembang.

Rupiah yang melemah kemudian dapat memengaruhi keputusan investor asing terhadap saham Indonesia.

Pada saat yang sama, minyak mahal menambah risiko inflasi global sehingga pasar memperkirakan bank sentral dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Rangkaian inilah yang membuat rebound IHSG, apabila terjadi, perlu dilihat kualitasnya dan bukan hanya besarnya kenaikan indeks dalam satu sesi.

Namun, kondisi tersebut juga tidak berarti seluruh saham akan bergerak searah.

Harga minyak yang tinggi dapat menopang saham energi, sementara sejumlah saham yang telah mengalami koreksi tajam berpeluang mencatat technical rebound.

Divergensi kinerja antarsektor dengan demikian berpotensi tetap besar.


Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek tertentu. Keputusan investasi dan seluruh risikonya berada pada masing-masing investor.

Editor : Lugas Rumpakaadi
IHSG hari ini prediksi IHSG hari ini prediksi IHSG 29 September 2026 support resistance IHSG bursa efek indonesia