RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan tekanan kuat. Pada Senin (28/9), IHSG ditutup turun 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,86.
Berdasarkan laporan ANTARA, tekanan tidak hanya terjadi pada awal perdagangan, tetapi terus membesar hingga penutupan. IHSG dibuka melemah 0,51 persen ke 6.209,75, kemudian mengakhiri sesi pertama dengan koreksi 0,97 persen ke 6.181,43. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual bertahan sepanjang hari.
Pelemahan terjadi tepat pada hari pertama Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan harga minimum saham Rp1, menggantikan batas lama Rp50. Namun, pergerakan pasar pada Senin tidak tepat apabila dijelaskan semata-mata sebagai akibat kebijakan baru tersebut.
Data BEI menunjukkan bahwa pasar memasuki perdagangan awal pekan dalam kondisi yang sudah rapuh. IHSG telah turun 3,09 persen pada pekan sebelumnya. Pada saat yang sama, tekanan jual investor asing masih menjadi perhatian, rupiah melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS, sedangkan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga energi tetap tinggi.
Dengan demikian, koreksi pada 28 September lebih mencerminkan pertemuan antara proses penyesuaian harga di pasar domestik dan meningkatnya kecenderungan investor global untuk menghindari risiko.
IHSG Sudah Tertekan Sebelum Harga Minimum Rp1 Berlaku
Perdagangan Senin perlu dilihat dalam rangkaian yang lebih panjang.
Berdasarkan statistik perdagangan BEI yang dikutip IDX Channel, IHSG sepanjang pekan 21–25 September 2026 turun 3,09 persen, dari 6.441,159 menjadi 6.241,892. Kapitalisasi pasar juga turun 3,20 persen, dari Rp11.266 triliun menjadi Rp10.905 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian pada pekan tersebut turun 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun.
Data BEI juga menunjukkan bahwa investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp559,16 miliar pada perdagangan Jumat, 25 September. Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga periode tersebut, nilai jual bersih investor asing tercatat Rp77,52 triliun.
Artinya, aturan harga minimum Rp1 mulai berlaku ketika tren pasar sudah berada dalam fase koreksi.
Apabila posisi 6.441,159 pada akhir pekan sebelumnya dibandingkan dengan penutupan Senin di 6.147,86, IHSG telah kehilangan sekitar 293 poin atau 4,55 persen hanya dalam enam hari bursa.
Pola pergerakan sepanjang Senin juga memberikan informasi penting. Pelemahan dari 0,51 persen pada pembukaan menjadi 0,97 persen pada akhir sesi pertama, kemudian 1,51 persen pada penutupan memperlihatkan bahwa tekanan bukan sekadar reaksi sesaat ketika pasar dibuka.
Apa yang Sebenarnya Berubah dari Harga Saham Minimum Rp1?
Perubahan mekanisme perdagangan menjadi salah satu peristiwa penting di pasar modal Indonesia pada hari itu.
Berdasarkan ketentuan resmi BEI, Bursa menerapkan Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 mengenai Perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas. Ketentuan tersebut berlaku efektif mulai 28 September 2026.
BEI menetapkan bahwa untuk saham di Papan Utama, Papan Ekonomi Baru, dan Papan Pengembangan dengan harga Rp1–Rp10, batas kenaikan dan penurunan melalui mekanisme auto rejection masing-masing sebesar Rp1. Untuk saham dengan harga Rp11–Rp200, batas kenaikan harian ditetapkan 35 persen dan batas penurunan 15 persen.
Dengan demikian, harga minimum Rp1 tidak berarti saham yang sebelumnya diperdagangkan pada Rp50 dapat langsung turun menjadi Rp1 dalam satu hari. Pergerakannya tetap dibatasi oleh mekanisme penolakan otomatis.
Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita, sebagaimana dikutip ANTARA, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembentukan harga, mendorong peningkatan likuiditas, serta memberikan fleksibilitas bagi pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasinya.
Penjelasan tersebut menjadi kunci untuk memahami kebijakan baru. Selama batas Rp50 masih berlaku, suatu saham yang menghadapi tekanan jual tidak memiliki ruang untuk turun lebih jauh. Harga dapat terlihat stabil di Rp50, tetapi kestabilan tersebut belum tentu mencerminkan tercapainya keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Setelah batas tersebut diturunkan, saham memperoleh ruang lebih luas untuk menemukan harga keseimbangannya.
Dari sisi infrastruktur, BEI sebelumnya menyatakan bahwa perhatian utama justru terletak pada kemampuan sistem menghadapi perubahan aktivitas perdagangan. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, seperti dikutip ANTARA, mengatakan bahwa yang diantisipasi Bursa bukan volatilitas harganya, melainkan lalu lintas ke sistem.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BEI sejak awal telah memperhitungkan kemungkinan meningkatnya aktivitas perdagangan setelah batas harga baru diterapkan.
GOTO Langsung Turun ke Rp43
Dampak paling terlihat muncul pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Bisnis Indonesia melaporkan bahwa saham GOTO pada perdagangan Senin pagi turun 14 persen dari Rp50 menjadi Rp43 dan menyentuh batas penurunan harian. Antrean jual pada saham tersebut dilaporkan mencapai sekitar 1 miliar lot.
Pergerakan GOTO menjadi gambaran nyata proses penyesuaian harga. Saham yang sebelumnya tertahan pada batas administratif Rp50 akhirnya memperoleh ruang untuk bergerak ke harga yang lebih rendah.
Kepala Urusan Korporat GoTo Audrey Petriny mengatakan kepada Bisnis Indonesia bahwa dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan manajemen perusahaan sehingga perlu dibedakan dari penilaian pasar secara independen. Harga saham pada akhirnya tetap terbentuk melalui interaksi antara pembeli dan penjual, termasuk bagaimana investor menilai fundamental, prospek pertumbuhan, valuasi, likuiditas, dan risiko.
Sementara itu, Bloomberg Technoz menghitung bahwa koreksi GOTO pada perdagangan pagi memberikan tekanan sekitar 12,9 poin terhadap IHSG.
Data itu menunjukkan bahwa pergerakan satu saham berkapitalisasi besar dapat memberikan pengaruh yang cukup terlihat terhadap indeks.
Namun, Pelemahan IHSG Jauh Lebih Luas daripada GOTO
Fakta bahwa GOTO menjadi salah satu pemberat utama tidak berarti pelemahan Senin hanya merupakan fenomena saham teknologi.
Data perdagangan menunjukkan tekanan juga menjalar ke sektor barang baku, barang konsumen nonprimer, infrastruktur, properti, dan keuangan. Jumlah saham yang turun pun jauh lebih banyak dibandingkan saham yang naik.
Kondisi tersebut sejalan dengan penilaian Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta sebelum kebijakan diberlakukan. Kepada ANTARA, Nafan mengatakan bahwa IHSG tetap akan lebih banyak ditentukan oleh saham-saham berkapitalisasi besar, aliran dana asing, kondisi rupiah, suku bunga, serta sentimen global.
Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan setelah perdagangan Senin berakhir.
Apabila aturan Rp1 merupakan satu-satunya penyebab, tekanan semestinya lebih terkonsentrasi pada saham-saham yang sebelumnya tertahan di Rp50. Kenyataannya, pelemahan juga terjadi pada kelompok saham lain.
Katadata, mengutip data Stockbit, melaporkan bahwa hingga akhir sesi pertama investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp129,63 miliar. Bank Mandiri, Telkom Indonesia, dan Bank Central Asia termasuk saham yang banyak dilepas investor asing hingga pertengahan perdagangan.
Dengan bobot besar saham perbankan dan telekomunikasi terhadap IHSG, tekanan pada kelompok tersebut turut memperbesar penurunan indeks.
Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS
Tekanan lain datang dari pasar valuta asing.
ANTARA melaporkan rupiah dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS pada Senin, dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp17.903 per dolar AS.
Sementara itu, data kurs transaksi Bank Indonesia pada 28 September mencatat kurs jual dolar AS sebesar Rp18.006,58 dan kurs beli Rp17.827,42. Kurs transaksi BI berbeda dengan kurs pasar spot, tetapi data tersebut menggambarkan dolar AS berada pada tingkat yang tinggi terhadap rupiah.
Pergerakan rupiah penting bagi pasar saham karena memiliki beberapa jalur pengaruh.
Bagi investor asing, pelemahan mata uang dapat mengurangi imbal hasil investasi ketika dikonversikan kembali ke dolar AS. Bagi perusahaan yang memiliki utang dolar atau kebutuhan impor besar, rupiah yang lebih lemah berpotensi meningkatkan biaya. Sementara itu, bagi pasar secara umum, nilai tukar sering menjadi salah satu indikator persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility dipertahankan pada 4,75 persen dan Lending Facility pada 6,50 persen.
Dalam pernyataan resminya, Bank Indonesia menegaskan bahwa keputusan tersebut tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Pernyataan BI tersebut penting karena menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya menjadi perhatian investor saham, melainkan juga telah menjadi salah satu pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan bauran kebijakan.
Bank Indonesia juga menyatakan terus mengoptimalkan instrumen moneter, memperluas insentif bagi aliran investasi portofolio asing, serta memperkuat stabilisasi pasar valuta asing.
The Fed Kembali Mengetatkan Kebijakan
Tekanan dari luar negeri semakin besar setelah Federal Reserve menaikkan kisaran target suku bunga federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen pada 16 September 2026.
Menurut pernyataan resmi Federal Open Market Committee (FOMC), keputusan tersebut disetujui dengan suara 12–0.
The Fed menyebutkan bahwa inflasi tetap tinggi. Pernyataan tersebut merupakan terjemahan dari dokumen resmi FOMC yang menyebut inflation remains elevated.
The Fed juga menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga ditujukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju sasaran 2 persen.
Konsekuensinya bagi negara berkembang adalah persaingan untuk mendapatkan modal global menjadi lebih berat.
Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor internasional dapat memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari instrumen berbasis dolar AS. Akibatnya, premi risiko yang dibutuhkan investor untuk mempertahankan investasi pada aset negara berkembang dapat meningkat.
Kondisi tersebut menjelaskan hubungan antara kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, dan tekanan terhadap IHSG.
Analis Indo Premier Sekuritas David Kurniawan juga menilai bahwa suku bunga global, rupiah, harga minyak, serta risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor penting bagi pasar Indonesia pada pekan ini.
Harga Minyak Menambah Kompleksitas
Pasar Indonesia juga menghadapi ketidakpastian dari harga minyak.
Dalam analisis pasar yang dikutip ANTARA, Kiwoom Sekuritas menempatkan perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Iran serta kondisi di sekitar Selat Hormuz, sebagai salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati investor.
Harga minyak yang tinggi memiliki pengaruh yang tidak seragam terhadap IHSG.
Saham produsen energi dapat memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga komoditas. Namun, bagi perekonomian yang masih membutuhkan impor energi, harga minyak tinggi dapat meningkatkan kebutuhan devisa, biaya produksi, biaya transportasi, dan risiko inflasi.
Tekanan tersebut menjadi lebih besar apabila kenaikan harga minyak terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah.
Karena itu, harga minyak yang tinggi dapat memberikan dukungan kepada sejumlah saham energi sekaligus menjadi beban makroekonomi bagi pasar Indonesia secara keseluruhan.
IHSG Menembus Area Dukungan Pertama
Dari perspektif teknikal, penutupan di 6.147,86 juga membawa IHSG ke wilayah yang perlu diperhatikan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, sebagaimana dikutip ANTARA sebelum perdagangan Senin, memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, IHSG rentan menguji area dukungan di kisaran 6.186–6.113, dengan dukungan berikutnya di sekitar 6.029.
Penutupan Senin akhirnya berada di bawah 6.186, tetapi belum menembus 6.113.
Secara teknikal, kondisi tersebut membuat area sekitar 6.113 menjadi salah satu zona terdekat yang dapat dicermati. Jika tekanan jual berlanjut hingga area tersebut ditembus secara meyakinkan, perhatian berikutnya dapat bergeser ke sekitar 6.029.
Liza sebelumnya juga menempatkan area 6.290 sebagai level yang perlu direbut kembali sebelum IHSG mencoba menghadapi rentang 6.328–6.368.
Area dukungan dan hambatan bukanlah kepastian mengenai arah indeks. Analisis teknikal hanya mengidentifikasi wilayah harga berdasarkan perilaku pasar sebelumnya. Perubahan arus dana, nilai tukar, harga komoditas, maupun sentimen global dapat membuat level tersebut ditembus.
Apa Arti Penurunan 1,51 Persen Ini?
Perdagangan 28 September menghasilkan tiga kesimpulan penting.
Pertama, penghapusan batas Rp50 memang menghasilkan proses pembentukan harga yang sebelumnya tidak dapat berlangsung sepenuhnya. GOTO menjadi contoh paling jelas ketika harganya langsung bergerak ke Rp43 pada hari pertama penerapan aturan baru.
Kedua, data pasar menunjukkan bahwa koreksi IHSG tidak hanya berasal dari saham-saham yang terkena dampak langsung perubahan aturan. Tekanan juga menjalar ke berbagai sektor dan saham berkapitalisasi besar.
Ketiga, lingkungan makroekonomi ketika kebijakan tersebut diterapkan sedang kurang mendukung. Rupiah berada dekat Rp18.000 per dolar AS, Bank Indonesia secara terbuka mengakui bahwa tekanan eksternal masih kuat, The Fed baru menaikkan suku bunga, dan investor global masih menghadapi ketidakpastian geopolitik serta harga energi.
Karena itu, koreksi Senin lebih tepat dibaca sebagai pertemuan antara penyesuaian harga domestik dan kecenderungan global untuk menghindari risiko, bukan sebagai akibat satu kebijakan Bursa semata.
Apa yang Perlu Dicermati Setelah IHSG Berakhir di 6.147?
Perdagangan berikutnya dapat memberikan petunjuk apakah pasar mulai menemukan keseimbangan atau masih membutuhkan penyesuaian lebih lanjut.
Pertama, keluasan pergerakan pasar perlu dicermati. Apabila jumlah saham yang turun terus jauh lebih banyak daripada saham yang menguat, tekanan berarti masih menyebar luas. Perbaikan indeks akan lebih sehat apabila kenaikan tidak hanya ditopang oleh beberapa saham berkapitalisasi besar.
Kedua, pergerakan saham perbankan besar perlu diperhatikan. Bobot sektor keuangan terhadap IHSG membuat stabilisasi indeks lebih sulit terjadi apabila saham-saham bank utama masih menghadapi tekanan jual.
Ketiga, proses pembentukan harga saham-saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 belum tentu selesai hanya dalam satu sesi. Penyesuaian dapat berlangsung bertahap mengikuti mekanisme penolakan otomatis serta keseimbangan antara pesanan beli dan jual.
Keempat, rupiah merupakan variabel penting. Level Rp18.000 memang bersifat psikologis, tetapi yang lebih relevan adalah arah pergerakannya serta bagaimana investor asing merespons perubahan nilai tukar.
Kelima, imbal hasil obligasi pemerintah AS, kebijakan The Fed, perkembangan konflik di Timur Tengah, dan harga minyak masih dapat mengubah selera risiko global dengan cepat.
Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan efek tertentu.
Editor : Lugas Rumpakaadi