Danantara Kaji Pendanaan LRT Jakarta, Ekspansi ke JIS dan Halim Disiapkan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 15:28 WIB
Rangkaian LRT Jakarta melintas dalam pengoperasian rute Kelapa Gading–Manggarai. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan pengembangan jaringan menuju Dukuh Atas, JIS, Jakarta Kota, dan Halim. (arief santras/Pexels)
Rangkaian LRT Jakarta melintas dalam pengoperasian rute Kelapa Gading–Manggarai. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan pengembangan jaringan menuju Dukuh Atas, JIS, Jakarta Kota, dan Halim. (arief santras/Pexels)

RADAR BANYUWANGI - Rencana keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam pengembangan LRT Jakarta mulai memasuki tahap kajian. Alternatif pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinilai dapat mempercepat perluasan jaringan transportasi massal sekaligus menjaga ruang fiskal Jakarta.

Pakar transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai sinergi Danantara dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengembangan LRT merupakan langkah strategis.

"Pembangunan infrastruktur berbasis APBD murni jelas sangat menguras ruang fiskal daerah," kata Djoko, Minggu (27/9).

Menurut Djoko, pembangunan angkutan umum masa depan tidak cukup hanya berfokus pada pengadaan armada dan pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga dituntut berani merancang terobosan pembiayaan agar ekspansi transportasi publik dapat terus berjalan di tengah keterbatasan anggaran.

Ia menilai rencana keterlibatan Danantara dapat menjadi salah satu alternatif untuk membiayai pengembangan jaringan LRT Jakarta, termasuk koridor Manggarai–Dukuh Atas, Kelapa Gading menuju Jakarta International Stadium (JIS), serta Velodrome menuju kawasan Halim.

"Masuknya Danantara sebagai sovereign wealth fund memberi angin segar berupa alternatif pembiayaan non-anggaran tanpa harus mengandalkan skema obligasi atau pinjaman daerah," ujar Djoko.

Menurut dia, diversifikasi sumber pembiayaan penting agar APBD Jakarta tetap memiliki ruang untuk menopang kebutuhan dasar warga, antara lain pendidikan, kesehatan, dan subsidi angkutan umum.

Namun, keterlibatan Danantara dalam pembiayaan LRT Jakarta hingga kini belum menjadi keputusan investasi final.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria pada Selasa (22/9) memastikan proyek tersebut masih dalam tahap kajian.

"LRT tentu sedang kita kaji, karena ini bagian daripada integrasi moda mass transportasi yang sedang kita siapkan," kata Dony di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Danantara juga mengkaji pengembangan transportasi secara lebih luas, termasuk integrasi LRT dengan moda massal lainnya serta pengembangan jaringan kereta api.

Presiden Minta Danantara Bantu LRT Jakarta

Wacana keterlibatan Danantara menguat setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai pada 16 September 2026.

Dalam acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta dukungan pemerintah pusat untuk melanjutkan pengembangan jaringan LRT menuju sejumlah simpul strategis.

Prabowo kemudian menyatakan dukungannya terhadap keterlibatan Danantara.

"Saya kira Danantara wajib membantu. Karena DKI bukan hanya milik orang yang tinggal di DKI, DKI milik seluruh bangsa," kata Prabowo.

Meski Presiden meminta Danantara membantu pengembangan LRT, bentuk pendanaan, nilai investasi, maupun proyek yang akan dibiayai Danantara masih harus melalui proses kajian.

Pramono sebelumnya juga menegaskan perlunya menyiapkan lebih dari satu sumber pembiayaan.

"Jadi, saya sebagai gubernur, sebagai pemimpin Jakarta, tentunya harus punya berbagai alternatif pembiayaan untuk penyelesaian LRT di Jakarta ini," katanya.

Alternatif tersebut antara lain APBD, obligasi daerah, maupun sumber investasi lainnya.

Manggarai–Dukuh Atas Butuh Sekitar Rp2,7 Triliun

LRT Jakarta saat ini telah melayani rute Kelapa Gading–Manggarai sepanjang 12,2 kilometer dengan 11 stasiun. Waktu perjalanan dari Kelapa Gading ke Manggarai sekitar 28 menit.

Pemprov DKI selanjutnya menyiapkan perpanjangan sekitar dua kilometer dari Manggarai menuju Dukuh Atas dengan estimasi investasi sekitar Rp2,7 triliun.

Koridor tersebut direncanakan dilengkapi pedestrian deck serta diintegrasikan dengan MRT Jakarta, KRL Commuter Line, Transjakarta, LRT Jabodebek, dan Kereta Bandara.

Pramono menargetkan konstruksi Manggarai–Dukuh Atas dimulai paling lambat Januari 2027.

"Untuk pembangunan LRT dari Manggarai sampai dengan Dukuh Atas, saya sudah meminta karena dananya sudah ada, paling lama Januari untuk dimulai," kata Pramono.

Pemprov DKI menargetkan pembangunan koridor tersebut selesai pada Agustus 2028.

Rencana itu membuat pengembangan LRT Jakarta memasuki tahap penting karena Manggarai dan Dukuh Atas merupakan dua simpul utama transportasi publik Jakarta.

Manggarai telah terhubung dengan KRL, Kereta Bandara, Transjakarta dan sejumlah layanan lainnya, sementara Dukuh Atas menjadi kawasan integrasi MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL, Transjakarta dan Kereta Bandara.

Djoko menilai keterhubungan jaringan tersebut menunjukkan fungsi transportasi Jakarta telah melampaui batas administratif DKI.

"Terhubungnya jaringan LRT dengan simpul-simpul moda utama, seperti Kereta Cepat Whoosh di Halim, Stasiun Integrasi Manggarai, dan kawasan JIS akan mewujudkan perpindahan moda yang mulus bagi masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek," katanya.

LRT Disiapkan Menuju JIS, Jakarta Kota, dan Halim

Ekspansi LRT Jakarta tidak berhenti di Dukuh Atas.

Pemprov DKI juga menyiapkan pengembangan jaringan dari Kelapa Gading menuju JIS, kemudian Ancol hingga Jakarta Kota. Sementara dari Velodrome, jaringan LRT direncanakan menuju Halim untuk memperkuat konektivitas dengan kawasan stasiun Kereta Cepat Whoosh.

"Ke depan jaringan juga disiapkan menuju JIS–Ancol sampai Jakarta Kota dan Halim," kata Pramono dalam keterangan resmi Pemprov DKI.

Rencana tersebut penting karena ekspansi ke Halim berpotensi menghubungkan LRT Jakarta dengan salah satu simpul perjalanan antarkota berkecepatan tinggi, sedangkan pengembangan ke JIS dan Jakarta Kota memperluas jangkauan jaringan menuju kawasan utara Jakarta.

Pemprov DKI sebelumnya juga mendorong pengembangan dari Kelapa Gading menuju JIS serta dari Velodrome menuju kawasan Whoosh di Halim.

Penumpang LRT Naik Setelah Tersambung Manggarai

Pengoperasian jalur hingga Manggarai mulai menunjukkan peningkatan penggunaan LRT Jakarta.

PT LRT Jakarta mencatat 91.000 penumpang menggunakan layanan tersebut sepanjang 16–23 September 2026. Rata-rata jumlah penumpang harian mencapai 11.300 orang.

Angka tersebut meningkat sekitar 166 persen dibandingkan rata-rata 4.245 penumpang per hari hingga akhir Agustus 2026.

"Sejak diresmikan Rabu hingga Rabu, LRT Jakarta telah melayani hingga 91 ribu penumpang dengan rerata penumpang harian sebesar 11.300 orang," kata Direktur Utama PT LRT Jakarta Aditia Kesuma Negara.

Layanan Kelapa Gading–Manggarai saat ini menghubungkan wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

Mulai 24 September 2026, tarif perjalanan Kelapa Gading–Manggarai berlaku flat sebesar Rp5.000 setelah sebelumnya diberlakukan tarif promosi Rp8 pada delapan hari pertama pengoperasian.

Aditia mengatakan pengoperasian hingga Manggarai membawa konsekuensi berupa tanggung jawab pelayanan yang semakin besar.

"Peresmian ini merupakan awal dari tanggung jawab yang semakin besar," ujarnya.

TOD dan Pendapatan Non-Tiket

Selain kebutuhan pembiayaan konstruksi, Djoko menilai pengembangan LRT Jakarta perlu dibarengi strategi untuk memperbesar pendapatan di luar penjualan tiket.

Menurut dia, kehadiran lembaga investasi seperti Danantara dapat membawa perspektif bisnis dan pengelolaan komersial, antara lain melalui pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD) dan pemanfaatan hak penamaan atau naming rights.

Pendapatan non-tiket tersebut dapat digunakan untuk membantu menopang kebutuhan operasional secara lebih berkelanjutan.

Pemprov DKI juga telah mengarahkan pengembangan TOD di kawasan Kelapa Gading, Pulomas, dan Manggarai. Pemanfaatan naming rights stasiun turut dibuka sebagai salah satu bentuk pembiayaan kreatif.

Pramono sebelumnya melihat Manggarai berpotensi berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru seiring semakin banyaknya moda transportasi yang bertemu di kawasan tersebut.

"Nanti di tempat ini, baik dilakukan pemerintah pusat, pemerintah Jakarta atau swasta, akan dibangun banyak TOD-TOD baru," kata Pramono.

Menurut Djoko, pengembangan pendapatan non-tiket penting karena pembangunan angkutan umum tidak semata-mata menyangkut penyediaan infrastruktur, tetapi juga keberlanjutan pembiayaan dan operasional dalam jangka panjang.

Dengan ekspansi Manggarai–Dukuh Atas yang ditargetkan dimulai pada 2027 serta rencana perluasan menuju JIS, Jakarta Kota, dan Halim, tantangan pengembangan LRT Jakarta kini tidak hanya terletak pada pembangunan jalur.

Kepastian model investasi, integrasi antarmoda, pengembangan TOD, serta kemampuan menghasilkan pendapatan di luar tiket akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan jaringan LRT Jakarta.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
pengembangan LRT transportasi jakarta Pemprov DKI Jakarta lrt jakarta Danantara