IHSG Senin 28 September 2026 Berpotensi Volatil, Ini Level yang Perlu Dicermati

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 05:34 WIB
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 14 Agustus 2026. (Putra M. Akbar/ANTARA FOTO)
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 14 Agustus 2026. (Putra M. Akbar/ANTARA FOTO)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki perdagangan Senin (28/9), dalam kondisi yang masih rentan terhadap tekanan.

Area 6.200 menjadi salah satu titik penting yang perlu diperhatikan setelah IHSG turun 3,09 persen dalam sepekan dan ditutup pada level 6.241,892 pada Jumat lalu.

Peluang terjadinya rebound teknikal tetap terbuka karena Wall Street menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau.

Namun, ruang penguatan IHSG berpotensi terbatas karena rupiah masih melemah, investor asing masih melakukan aksi jual, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat berada di level tinggi, dan harga minyak Brent tetap berada di atas US$100 per barel.

Perdagangan Senin juga akan diwarnai katalis domestik baru.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai memberlakukan batas harga minimum saham sebesar Rp1 di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, turun dari ketentuan sebelumnya sebesar Rp50.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, IHSG pada awal pekan diperkirakan bergerak volatil.

Kemampuan indeks bertahan di sekitar area 6.200 akan menjadi salah satu indikator awal untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda atau justru berlanjut.

IHSG Turun 3,09 Persen dalam Sepekan

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia terlihat cukup kuat sepanjang perdagangan 21–25 September 2026.

Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG mengakhiri pekan pada level 6.241,892, turun 3,09 persen dibandingkan posisi 6.441,159 pada akhir pekan sebelumnya.

“IHSG mengalami perubahan sebesar 3,09 persen sehingga ditutup pada level 6.241,892, dari posisi 6.441,159 pada pekan sebelumnya," ujar Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita, dalam keterangan mengenai perdagangan selama sepekan yang dikutip sejumlah media ekonomi.

BEI juga mencatat kapitalisasi pasar turun 3,20 persen, dari Rp11.266 triliun menjadi Rp10.905 triliun.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian turun 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun.

Tekanan dari investor asing juga belum mereda.

Berdasarkan data perdagangan BEI yang dilaporkan Detik Finance, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp559,16 miliar pada perdagangan Jumat.

Secara kumulatif sepanjang 2026, posisi penjualan bersih investor asing tercatat sebesar Rp77,52 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa IHSG memasuki awal pekan tanpa dukungan momentum domestik yang kuat.

Kendati demikian, setelah terkoreksi lebih dari 3 persen dalam lima hari perdagangan, peluang munculnya pantulan teknikal juga semakin layak diperhatikan.

Rupiah Berada di Rp17.917 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi arah IHSG pada perdagangan Senin.

Berdasarkan data resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia, rupiah pada Jumat (25/9), berada di level Rp17.917 per dolar AS. 

Sepekan sebelumnya, pada Jumat (18/9), JISDOR masih berada di Rp17.745 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan menjelang perdagangan awal pekan.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen, dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Dalam pernyataan resminya, Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan tersebut.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.”

Bank Indonesia juga menyatakan akan terus memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Berdasarkan laporan BI, hingga 21 September investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 secara keseluruhan masih mencatat arus masuk bersih sebesar US$0,4 miliar, terutama ditopang obligasi global pemerintah dan aliran dana ke Surat Berharga Negara.

Data tersebut perlu dibedakan dari arus dana asing di pasar saham.

Investor asing dapat melakukan penjualan bersih saham, tetapi pada saat yang sama masih membeli instrumen keuangan Indonesia lainnya.

Bagi IHSG, rupiah yang mulai stabil dapat membantu memperbaiki sentimen terhadap aset Indonesia.

Sebaliknya, pelemahan lebih lanjut menuju level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar.

Wall Street Menguat, Imbal Hasil Obligasi AS Tetap Menjadi Risiko

Sentimen dari pasar global memberi sedikit ruang positif bagi IHSG.

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat, indeks utama Wall Street berakhir menguat.

S&P 500 naik 0,51 persen, Dow Jones Industrial Average menguat 0,93 persen, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,48 persen.

S&P 500 berakhir di level 7.743,41 dan Dow Jones ditutup pada 51.828,62.

Penguatan Wall Street dapat memberikan sentimen awal yang lebih baik bagi perdagangan bursa Asia.

Namun, kondisi pasar obligasi Amerika Serikat masih menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

Reuters juga melaporkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat berada di sekitar 5,196 persen pada perdagangan Jumat.

Dalam perkembangan berikutnya, imbal hasil tersebut sempat menyentuh sekitar 5,22 persen sebelum kembali mereda ke kisaran 5,15 persen seiring penurunan harga minyak.

Posisi tersebut masih berada di sekitar level tertinggi sejak 2007.

Imbal hasil obligasi AS yang tinggi penting bagi pasar Indonesia karena dapat meningkatkan daya tarik instrumen berbasis dolar AS dan mempertahankan tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang.

Harga Minyak Masih di Atas US$100 per Barel

Harga minyak menjadi faktor eksternal lain yang perlu diperhatikan.

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent turun 2,1 persen pada Jumat, tetapi masih ditutup pada US$104,32 per barel.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate atau WTI turun 2,3 persen menjadi US$92,41 per barel.

Reuters mengaitkan penurunan tersebut dengan meningkatnya harapan terhadap upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga minyak dapat mengurangi sebagian tekanan inflasi global.

Namun, harga Brent yang masih berada di atas US$100 per barel menunjukkan bahwa risiko inflasi dari sektor energi belum sepenuhnya mereda.

Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi juga berkaitan dengan biaya impor energi, inflasi, kondisi fiskal, dan persepsi terhadap stabilitas nilai tukar.

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75–4,00 Persen

Tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat juga berkaitan dengan perubahan kebijakan Federal Reserve.

Berdasarkan pernyataan resmi Federal Reserve pada 16 September 2026, Federal Open Market Committee menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sehingga kisaran target federal funds rate menjadi 3,75–4,00 persen.

Dalam pernyataan tersebut, Federal Reserve menegaskan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

“Inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi. Langkah kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat ke sasaran Komite sebesar 2 persen.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral AS masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama.

Kebijakan The Fed berbeda dengan langkah Bank Indonesia yang memilih mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen.

Kombinasi kenaikan suku bunga The Fed, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan kondisi rupiah membuat pergerakan pasar valuta asing serta obligasi tetap menjadi bagian penting dalam membaca arah IHSG.

Hari Pertama Harga Minimum Saham Rp1

Perdagangan 28 September juga menjadi hari pertama penerapan perubahan aturan batas harga minimum saham.

Berdasarkan Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor II-A mengenai Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, BEI menurunkan batas harga minimum saham yang diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dari Rp50 menjadi Rp1.

Ketentuan tersebut mulai berlaku pada 28 September 2026.

“Penyesuaian utama yang dilakukan adalah perubahan batas harga terendah dari semula Rp50 menjadi Rp1," demikian penjelasa bursa dalam keterangan resmi BEI yang dikutip Detik Finance.

Perubahan itu juga disertai penyesuaian batas penolakan otomatis atau auto rejection.

Untuk saham dengan harga Rp1–Rp10, batas kenaikan dan penurunan harga selama masa transisi ditetapkan sebesar Rp1.

Menjelang pemberlakuan aturan tersebut, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kepada Antara bahwa seluruh Anggota Bursa telah siap menerapkan ketentuan baru pada perdagangan Senin.

Jeffrey juga menjelaskan tujuan yang diharapkan dari kebijakan tersebut.

“Kami berharap kebijakan ini dapat meningkatkan likuiditas dan menghasilkan proses pembentukan harga yang lebih baik," ujarnya.

Pernyataan tersebut terutama merujuk pada saham yang sebelumnya tertahan di harga Rp50 dan memiliki likuiditas terbatas.

Perlu dipahami bahwa kebijakan tersebut bukan berarti BEI menetapkan harga saham tertentu menjadi Rp1.

Angka Rp1 merupakan batas harga terendah baru sehingga saham yang sebelumnya tertahan di harga Rp50 kini memiliki ruang pergerakan yang lebih luas sesuai dengan mekanisme pasar.

Pada hari pertama penerapan, saham-saham berharga rendah berpotensi mendapat perhatian lebih besar dari pelaku pasar.

Namun, dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan masih perlu dilihat setelah perdagangan berlangsung.

Harga nominal yang rendah juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa suatu saham murah dari sisi valuasi.

Analisis Teknikal IHSG: Area 6.200 Menjadi Ujian

Dari sisi teknikal, tekanan terhadap IHSG belum sepenuhnya berakhir.

MNC Sekuritas, dalam riset MNCS Daily Scope Wave untuk 28 September 2026, menilai IHSG masih didominasi tekanan jual yang cenderung meningkat.

Secara mingguan, indeks turun 3,09 persen, tetapi masih tertahan di sekitar rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20.

MNC Sekuritas memperkirakan indeks masih berpotensi menguji area di bawah posisi penutupan Jumat.

“IHSG diperkirakan terlebih dahulu menguji rentang 6.157–6.209.”

Dalam riset yang sama, MNC Sekuritas menempatkan area support pada level 6.174 dan 6.108, sedangkan resistance berada di 6.380 dan 6.535.

Dengan posisi penutupan IHSG di 6.241,892, jaraknya dengan area 6.200 relatif dekat.

Oleh karena itu, pergerakan pada awal sesi Senin dapat memberikan petunjuk penting mengenai kekuatan tekanan jual.

Tiga Skenario IHSG Senin 28 September 2026

Berdasarkan kombinasi data pasar, posisi teknikal, dan sentimen global, terdapat tiga skenario yang dapat digunakan untuk membaca perdagangan Senin.

Bagian ini merupakan sintesis analisis redaksi dan bukan kepastian mengenai arah indeks.

Skenario pertama, IHSG bertahan di atas 6.200.

Jika tekanan jual mereda dan indeks mampu mempertahankan area tersebut, peluang rebound teknikal dapat terbuka. 

Area 6.280–6.300 menjadi wilayah awal untuk menguji kekuatan pantulan.

Selanjutnya, berdasarkan riset MNC Sekuritas, resistance teknikal berikutnya berada di level 6.380.

Skenario kedua, IHSG berkonsolidasi di sekitar 6.200.

Dalam kondisi ini, pasar kemungkinan belum memperoleh katalis yang cukup kuat untuk menentukan arah.

Pergerakan rupiah, transaksi investor asing, imbal hasil obligasi AS, serta respons pasar terhadap aturan saham minimum Rp1 dapat menjadi penentu berikutnya.

Skenario ketiga, IHSG menembus 6.200 ke bawah.

Jika penembusan disertai tekanan jual yang meningkat, area 6.157–6.174 menjadi wilayah berikutnya yang perlu diperhatikan.

MNC Sekuritas menempatkan support teknikal selanjutnya di level 6.108.

Ketiga skenario tersebut menempatkan area 6.200 sebagai titik acuan analisis, bukan sebagai level yang menjamin terjadinya pembalikan arah.

Empat Indikator yang Perlu Dipantau Saat Pasar Dibuka

Pergerakan rupiah menjadi indikator pertama yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan JISDOR Bank Indonesia, rupiah berada di Rp17.917 per dolar AS pada Jumat.

Jika rupiah mulai stabil dari posisi tersebut, tekanan sentimen terhadap aset domestik dapat berkurang.

Indikator kedua adalah arus dana investor asing.

Data perdagangan terakhir menunjukkan investor asing mencatat penjualan bersih Rp559,16 miliar pada Jumat.

Berkurangnya tekanan jual asing dapat memperkuat peluang rebound IHSG.

Indikator ketiga adalah kemampuan IHSG bertahan di sekitar 6.200.

Jika indeks bergerak turun melewati area tersebut, rentang koreksi 6.157–6.209 yang diproyeksikan MNC Sekuritas akan semakin relevan untuk diperhatikan.

Indikator keempat adalah respons saham-saham berharga rendah terhadap penerapan batas minimum Rp1.

Volatilitas pada kelompok saham tersebut perlu dibaca secara terpisah dari arah fundamental IHSG secara keseluruhan.

Prediksi IHSG Hari Ini

Berdasarkan kondisi terakhir, IHSG pada Senin (28/9), diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan awal masih defensif.

Area 6.200 menjadi titik penting untuk membaca arah jangka pendek.

Jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpeluang mengalami rebound teknikal menuju area 6.280–6.300.

Namun, jika indeks turun menembus 6.200 disertai tekanan jual yang kuat, area 6.157–6.174 berpotensi diuji.

Berdasarkan analisis MNC Sekuritas, support berikutnya berada di level 6.108.

Penguatan Wall Street memberikan sentimen positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren IHSG telah berbalik naik.

Rupiah masih berada dalam tekanan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi, harga minyak Brent masih berada di atas US$100 per barel, dan investor asing masih membukukan penjualan bersih di pasar saham pada perdagangan terakhir.

Di sisi lain, perdagangan Senin memiliki faktor domestik baru berupa penerapan batas harga minimum saham Rp1.

Karena itu, konfirmasi dari pergerakan rupiah, aliran dana asing, kemampuan IHSG mempertahankan area 6.200, serta respons pasar terhadap aturan baru BEI akan lebih penting daripada hanya mengandalkan penguatan Wall Street sebagai petunjuk arah.


Disclaimer

Analisis ini disusun dengan menggabungkan statistik perdagangan Bursa Efek Indonesia, data JISDOR dan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia, keputusan Federal Reserve, laporan Reuters mengenai Wall Street, obligasi pemerintah AS dan harga minyak, perubahan peraturan perdagangan BEI, serta analisis teknikal MNC Sekuritas.

Skenario mengenai area 6.200, peluang rebound menuju 6.280–6.300, serta pembacaan sentimen merupakan sintesis redaksional berdasarkan data tersebut.

Adapun level support dan resistance yang berasal dari MNC Sekuritas tetap disebutkan secara khusus untuk membedakannya dari analisis redaksi.

Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau mempertahankan efek tertentu.

Setiap keputusan investasi beserta risikonya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Saham Indonesia prediksi IHSG hari ini analisis IHSG IHSG 28 September 2026 IHSG Senin