RADAR BANYUWANGI - Rencana pengangkutan sapi hidup dari Banyuwangi menuju Jakarta dengan kereta api memasuki babak baru.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 12 September 2026 masih menyebut layanan tersebut akan dimulai pada akhir September.
Namun, enam hari kemudian, KAI Logistik mengumumkan perjanjian kerja sama yang mencantumkan periode pengiriman mulai November 2026.
Hingga 27 September 2026, belum ditemukan pengumuman resmi mengenai perjalanan komersial perdana kereta sapi Banyuwangi-Jakarta.
Dalam kanal siaran pers KAI Logistik yang terbit hingga 24 September, perkembangan terbaru terkait layanan tersebut masih berupa penandatanganan kerja sama dengan PT Bogantara Indo Transport.
Pertanyaannya kini bukan hanya kapan rangkaian pertama akan diberangkatkan.
Lebih jauh dari itu, apakah kereta api mampu menawarkan ongkos yang lebih rendah, waktu perjalanan yang lebih terukur, kapasitas yang lebih besar, sekaligus kondisi ternak yang lebih baik dibandingkan truk?
Jawabannya belum dapat dipastikan.
Namun, sejumlah data dari KAI Logistik, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Kementerian Pertanian, serta pelaku usaha memberikan gambaran awal.
Target Akhir September, Lalu Muncul November
Rencana pengoperasian kereta ternak telah dikembangkan setidaknya sejak Mei 2026.
Dalam siaran pers pada periode itu, KAI Logistik mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman dengan Bogantara untuk menjajaki pengiriman sapi dari Banyuwangi menuju Jakarta Gudang.
KAI Logistik ketika itu memperkirakan satu gerbong dapat mengangkut 14–18 sapi.
Dengan susunan satu rangkaian, kapasitas awal disebut sedikitnya sekitar 280 ekor sapi.
Rencana tersebut semakin konkret pada September.
Dalam keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 12 September 2026, Stasiun Argopuro dan Stasiun Kalisetail disebut sebagai titik pemuatan, sedangkan Jakarta Gudang menjadi tujuan pengiriman.
“Kami rencanakan akhir September ini dimulai," ujar Direktur Operasi KAI Logistik, Broer Rizal ketika itu.
Menurut keterangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, sekitar 20 gerbong direncanakan berangkat dalam satu perjalanan dengan muatan kombinasi sapi dan hasil pertanian, seperti buah, sayuran, serta cabai.
Estimasi waktu pengiriman yang disebut saat itu maksimal 26 jam.
Akan tetapi, informasi resmi yang terbit beberapa hari kemudian mencantumkan jadwal berbeda.
KAI Logistik dan PT Bogantara Indo Transport menandatangani Perjanjian Kerja Sama Pengiriman Komoditas Hasil Bumi, Pangan, Ternak dan Pendukungnya pada 15 September.
Dalam siaran pers tertanggal 18 September, KAI Logistik menyatakan kerja sama pengiriman untuk rute Banyuwangi-Jakarta pulang-pergi direncanakan berlangsung mulai November 2026 hingga Desember 2030.
Perusahaan plat merah itu juga menyebut target volume sepanjang masa kerja sama mencapai 84.200 gerbong datar.
Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik Aniek Dwi Deviyanti menyebut layanan tersebut sebagai lini baru bagi perusahaan.
“Bagi KAI Logistik layanan ini merupakan layanan baru dan menjadi yang pertama,” ujarnya dalam siaran pers perusahaan.
Perkembangan serupa diberitakan Media Indonesia pada 18 September dan Metro TV News pada 20 September.
Kedua pemberitaan tersebut merujuk pada target implementasi pada November 2026 setelah penandatanganan kerja sama KAI Logistik dan Bogantara.
Karena itu, November menjadi acuan publik terbaru yang tersedia.
Namun, belum ada penjelasan resmi yang ditemukan mengenai apakah perbedaan dengan target akhir September menunjukkan perubahan jadwal operasi, perbedaan antara tahap uji coba dan periode kontrak komersial, atau bentuk penyesuaian lainnya.
Satu Rangkaian Setara Sekitar 11-12 Truk
Kapasitas menjadi salah satu keunggulan kereta yang paling mudah dihitung.
Dalam rencana awal yang diumumkan KAI Logistik, satu gerbong diperkirakan dapat membawa 14-18 sapi.
Sementara itu, Kementerian Pertanian juga menyebut kapasitas awal sekitar 280 sapi untuk satu rangkaian pada rute Banyuwangi–Jakarta.
Lantas, bagaimana dengan truk?
Gambaran mengenai angkutan yang telah berjalan dapat dilihat dari laporan Ngopibareng.id pada 21 April 2026.
Media tersebut mewawancarai pedagang sapi Banyuwangi, Agus Supriyadi, yang mengatakan pengiriman menuju Jakarta menggunakan truk dengan muatan sekitar 24-26 sapi per kendaraan, bergantung pada bobot masing-masing ternak.
Dengan menggunakan angka tersebut sebagai pembanding, pengangkutan 280 sapi membutuhkan sekitar 11–12 truk.
Secara teoritis, keunggulan skala kereta cukup besar.
Dalam satu perjalanan, kereta dapat mengonsolidasikan muatan ternak yang jika dikirim melalui jalan raya memerlukan belasan kendaraan.
Namun, kapasitas 280 ekor tidak serta-merta menjadi jumlah muatan pada setiap perjalanan.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut sekitar 20 gerbong yang direncanakan berangkat juga akan membawa hasil pertanian.
Karena itu, jumlah sapi aktual dalam setiap rangkaian kemungkinan bergantung pada komposisi muatan.
Kapasitas besar juga bukan berarti seluruh ruang dapat diisi tanpa batas.
Kepadatan muatan tetap harus mempertimbangkan ukuran, kondisi, dan kebutuhan ternak serta ketentuan mengenai kesejahteraan hewan.
Ongkos Truk Sekitar Rp2.400-Rp3.000 per Kilogram
Persoalan biaya justru menyisakan pertanyaan paling besar.
Dalam keterangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Broer Rizal mengatakan biaya layanan kereta akan sangat kompetitif.
Namun, hingga kini belum ditemukan publikasi tarif komersial KAI Logistik untuk pengangkutan sapi Banyuwangi–Jakarta, baik dalam hitungan per ekor maupun per kilogram.
Tanpa angka tersebut, klaim bahwa kereta lebih murah daripada truk belum dapat diuji secara langsung.
Untuk truk, setidaknya tersedia angka pembanding dari pelaku pasar.
Dalam wawancara yang dimuat Ngopibareng.id pada April 2026, Agus Supriyadi mengatakan sapi yang biasa dipesan pelanggannya berada pada kisaran Rp18 juta sampai Rp21 juta per ekor.
Laporan yang sama mencatat harga sapi hidup sekitar Rp65.000 per kilogram.
Ongkos pengiriman satu truk ke Jakarta disebut meningkat dari Rp15 juta menjadi Rp20 juta, dengan muatan sekitar 24-26 sapi.
Data tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan biaya angkut per kilogram.
Dengan harga sapi hidup Rp65.000 per kilogram, sapi seharga Rp18 juta-Rp21 juta memiliki bobot tersirat sekitar 277-323 kilogram per ekor.
Jika satu truk membawa 24-26 sapi, total bobot hidup muatannya diperkirakan sekitar 6,65–8,4 ton.
Apabila ongkos Rp20 juta dibagi dengan rentang bobot tersebut, biaya angkut tersirat berada pada kisaran Rp2.380–Rp3.010 per kilogram.
Jika dibulatkan, angka pembanding untuk truk berada di sekitar Rp2.400-Rp3.000 per kilogram bobot hidup.
Dalam skenario tengah, yakni 25 sapi dengan bobot rata-rata 300 kilogram, total muatan mencapai 7,5 ton.
Dengan ongkos Rp20 juta, biaya pengiriman menjadi sekitar Rp2.670 per kilogram.
Angka tersebut bukan tarif resmi industri.
Perhitungannya berasal dari data satu pedagang Banyuwangi pada April 2026, ketika biaya transportasi disebut baru mengalami kenaikan.
Karena itu, angka tersebut lebih tepat digunakan sebagai pembanding lapangan daripada dianggap sebagai harga baku seluruh pengiriman sapi Banyuwangi–Jakarta.
Justru angka inilah yang nantinya dapat digunakan untuk menguji tawaran kereta.
Jika keseluruhan biaya pengangkutan melalui kereta dapat berada di bawah Rp2.400–Rp3.000 per kilogram dengan tingkat layanan yang setara, keunggulan ekonominya mulai terlihat.
Namun, tarif perjalanan kereta saja belum cukup untuk menentukan hal tersebut.
Kereta Tetap Membutuhkan Truk
Sapi tidak berpindah langsung dari kandang ke gerbong, kemudian dari gerbong menuju rumah potong hewan atau lokasi penerima.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian Boethdy D. Lengkong menjelaskan bahwa sistem pengangkutan dengan kereta tetap membutuhkan kendaraan jalan raya di awal dan akhir perjalanan.
“Karena itu skemanya komplementer. Tetap butuh integrasi truk untuk first-mile dari kandang ke stasiun dan last-mile dari stasiun ke RPH,” kata Boethdy dalam keterangan Kementerian Pertanian.
Dengan kata lain, truk tetap dibutuhkan untuk membawa ternak dari kandang menuju stasiun keberangkatan dan dari stasiun tujuan menuju rumah potong hewan atau pembeli.
Fakta tersebut memengaruhi cara biaya kedua moda seharusnya dibandingkan.
Yang perlu dibandingkan bukan semata-mata ongkos kereta dari Stasiun Argopuro atau Kalisetail menuju Jakarta Gudang dengan ongkos satu truk dari Banyuwangi ke Jakarta.
Perbandingan yang lebih adil adalah total biaya sejak sapi meninggalkan kandang hingga tiba di tempat tujuan.
Dalam sistem kereta, komponen biaya dapat mencakup penjemputan sapi menggunakan truk, penanganan di titik pemuatan, proses memasukkan ternak ke gerbong, perjalanan kereta, pembongkaran di Jakarta, hingga perjalanan terakhir menggunakan truk menuju rumah potong hewan atau pembeli.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut Bogantara akan menangani pengumpulan dan penjemputan komoditas, pengemasan, pemuatan ke gerbong, hingga pengantaran kepada konsumen.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa layanan sejak awal dirancang sebagai sistem angkutan multimoda.
Penggabungan ratusan sapi dalam satu rangkaian berpotensi memberikan keuntungan dari sisi skala.
Sebaliknya, perpindahan antarmoda juga dapat menambah biaya penanganan dan waktu di terminal.
Karena itu, total biaya dari kandang hingga tujuan akan jauh lebih menentukan bagi pedagang dan peternak daripada tarif perjalanan kereta semata.
Angka 26 Jam Belum Berarti Waktu dari Kandang ke Tujuan
Waktu perjalanan juga perlu dibandingkan secara hati-hati.
Kementerian Pertanian menyebut perkiraan awal perjalanan sekitar 26 jam dari stasiun ke stasiun.
Kereta berpotensi menawarkan perjalanan yang lebih terukur karena tidak berhadapan langsung dengan kemacetan jalan raya pada lintasan utamanya.
Namun, 26 jam bukan keseluruhan waktu perjalanan ternak.
Sebelum masuk ke gerbong, sapi harus dikumpulkan dan dibawa menuju stasiun.
Setelah tiba di Jakarta, ternak kembali harus diturunkan dan diangkut melalui jalan raya menuju lokasi penerima.
Truk memiliki karakter berbeda.
Kendaraan dapat mengambil ternak lebih dekat dari titik asal dan mengantarkannya langsung ke tujuan tanpa harus memindahkan sapi ke moda angkutan lain.
Sejauh data publik yang tersedia, belum ditemukan angka waktu tempuh truk sapi Banyuwangi-Jakarta yang cukup konsisten dan menggunakan kondisi pengukuran yang sama.
Karena itu, belum ada dasar yang kuat untuk menyatakan kereta pasti lebih cepat.
Setelah layanan berjalan, ukuran yang lebih relevan adalah total waktu sejak sapi meninggalkan kandang hingga tiba di lokasi penerima.
Mortalitas: Belum Bisa Menyebut Kereta Lebih Aman
Kesejahteraan hewan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan layanan ini.
Kementerian Pertanian menyatakan kontainer untuk pengangkutan sapi akan dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan ternak hidup, termasuk dilengkapi ventilasi dan tempat minum.
Pemerintah juga menyatakan rancangan pengangkutan mengacu pada standar kesejahteraan hewan.
Landasan pengaturannya antara lain Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan, yang berlaku sejak 4 Desember 2025.
Namun, rancangan gerbong yang lebih khusus belum otomatis membuktikan bahwa tingkat kematian ternak akan lebih rendah.
Belum tersedia data perjalanan komersial Banyuwangi-Jakarta menggunakan kereta yang memungkinkan penghitungan jumlah sapi yang mati, cedera, tidak mampu berdiri, atau mengalami penyusutan bobot.
Data tingkat kematian sapi pada truk khusus untuk rute yang sama juga belum tersedia secara terbuka dalam sumber yang ditemukan.
Kajian European Food Safety Authority atau EFSA pada 2022 bahkan mencatat keterbatasan bukti ilmiah mengenai pengangkutan sapi menggunakan kereta api.
EFSA menyoroti bahwa kesejahteraan ternak selama perjalanan tidak hanya dipengaruhi moda transportasi, tetapi juga kepadatan muatan, waktu tunggu, ketersediaan air dan pakan, suhu, serta proses bongkar-muat.
Gambaran dari angkutan jalan raya pun menunjukkan hasil yang berbeda-beda.
Sebuah penelitian terhadap 290.866 sapi dalam 6.152 perjalanan jarak jauh di Amerika Utara mencatat sekitar 0,011 persen sapi mati di kendaraan, 0,022 persen tidak mampu berjalan, dan 0,012 persen mengalami kepincangan.
Penelitian tersebut juga menemukan risiko memburuk seiring bertambahnya waktu ternak berada di dalam kendaraan.
Sementara itu, penelitian yang diterbitkan pada 2026 mengenai perjalanan sapi jarak jauh di Chile mencatat tingkat kematian sekitar 0,270 persen pada kelompok angkutan darat yang diteliti.
Angka dari Amerika Utara maupun Chile tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan kondisi pengiriman dari Banyuwangi.
Jenis sapi, cuaca, tingkat kepadatan, kondisi kendaraan, jarak tempuh, proses bongkar-muat, serta pengelolaan perjalanan dapat berbeda.
Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kereta pasti lebih aman bagi ternak.
Selain menghitung jumlah kematian, evaluasi perjalanan perdana semestinya juga mencatat sapi yang cedera atau tidak mampu berdiri, penyusutan bobot, lama waktu tanpa akses terhadap air atau pakan, suhu di dalam kontainer, waktu tunggu, serta total durasi perjalanan sejak dari kandang hingga tujuan.
Jadi, Bisakah Kereta Mengalahkan Truk?
Dari data yang tersedia saat ini, jawabannya berbeda untuk setiap ukuran.
Dalam hal kapasitas, potensi keunggulan kereta paling mudah terlihat.
Rencana pengangkutan sekitar 280 sapi dalam satu rangkaian setara dengan muatan sekitar 11-12 truk berdasarkan contoh pengiriman yang telah berlangsung di Banyuwangi.
Dalam hal biaya, belum ada kesimpulan.
Data satu pedagang memberikan angka pembanding untuk truk sekitar Rp2.400-Rp3.000 per kilogram bobot hidup.
Sementara itu, tarif komersial kereta yang memungkinkan perbandingan biaya dari kandang hingga tujuan belum dipublikasikan.
Dalam hal waktu, estimasi 26 jam terlihat menjanjikan, tetapi angka tersebut berlaku untuk perjalanan dari stasiun ke stasiun.
Efisiensinya baru dapat dinilai setelah waktu penjemputan dari kandang, proses di terminal, dan pengantaran dari stasiun tujuan ikut diperhitungkan.
Adapun dalam hal tingkat kematian dan kesejahteraan ternak, data lokal belum tersedia.
Kereta dan truk pada akhirnya juga tidak sepenuhnya saling menggantikan.
Sistem yang dikembangkan KAI Logistik tetap membutuhkan truk sebagai angkutan pengumpan di kedua ujung perjalanan, sedangkan kereta berpotensi mengambil peran utama untuk perjalanan jarak jauh dengan volume besar.
Karena itu, ujian sesungguhnya bagi kereta sapi Banyuwangi bukan hanya saat gerbong pertama mulai bergerak.
Penilaiannya justru akan ditentukan oleh data setelah layanan berjalan.
Berapa biaya total per kilogram, berapa lama keseluruhan perjalanan, berapa ekor yang benar-benar dapat diangkut dalam satu rangkaian, serta bagaimana kondisi ternak ketika tiba di tujuan.
Untuk sementara, perkembangan paling mutakhir terletak pada jadwal yang tercantum dalam informasi resmi.
Pada 12 September 2026, Direktur Operasi KAI Logistik Broer Rizal masih menyebut akhir September sebagai target awal.
Enam hari kemudian, siaran pers KAI Logistik mencantumkan periode kerja sama pengiriman mulai November 2026.
Ketika layanan tersebut benar-benar beroperasi, angka-angka itulah yang akan menunjukkan apakah rel dapat menjadi pilihan yang lebih efisien untuk perjalanan jarak jauh dibandingkan truk, atau justru berfungsi sebagai pelengkap dalam rantai distribusi ternak dari Banyuwangi menuju Jakarta.
Editor : Lugas Rumpakaadi