Beton Dibuat di Banyuwangi, Uang Proyek Pun Diharap Tetap Berputar di Kota Gandrung

Syaifuddin Mahmud • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 23:03 WIB
KARYA PUTRA DAERAH: Dermaga apung produksi Rabanton di kawasan Pantai Marina Boom, Banyuwangi. (Rabanton for Radar Banyuwangi)
KARYA PUTRA DAERAH: Dermaga apung produksi Rabanton di kawasan Pantai Marina Boom, Banyuwangi. (Rabanton for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Pembangunan daerah ternyata tidak hanya soal seberapa panjang jalan dibangun atau berapa banyak saluran irigasi dibuat. Ada pertanyaan yang lebih dalam di balik setiap proyek: ke mana uang pembangunan itu mengalir? Rabanton mencoba menjawabnya dengan membangun industri beton precast di Banyuwangi, dengan gagasan agar kebutuhan infrastruktur sebisa mungkin diproduksi di daerah dan nilai ekonominya tetap berputar di daerah.

Gagasan tersebut oleh Rabanton disebut sebagai “kemandirian infrastruktur”.

Logikanya sederhana. Ketika kebutuhan beton untuk pembangunan Banyuwangi didatangkan dari luar daerah, sebagian nilai ekonomi proyek ikut mengalir keluar. Sebaliknya, jika material diproduksi di Banyuwangi, rantai ekonominya bisa melibatkan lebih banyak pelaku usaha lokal.

Mulai dari tenaga kerja, bahan baku, transportasi, hingga jasa pendukung produksi.

“Dana daerah berputar di daerah. Tidak dibelanjakan ke pusat,” kata owner Rabanton, Menlu.

Bagi Rabanton, industri precast bukan sekadar bisnis manufaktur. Keberadaannya diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pembangunan daerah.

Berawal dari Tekanan Bisnis Semen

Gagasan itu tidak lahir dari ruang rapat yang serba nyaman. Rabanton justru tumbuh ketika bisnis distribusi semen lokal yang dijalankan pendirinya menghadapi tekanan.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, pilihan untuk bertahan kemudian membawa Menlu bersama dua teman masa kecilnya membangun bisnis baru.

Mereka mendirikan industri beton precast dengan peralatan sederhana.

Produk pertama yang dikembangkan adalah U-Ditch, saluran beton yang banyak digunakan untuk kebutuhan drainase.

Respons pasar kemudian membuka jalan lebih panjang. Produksi Rabanton berkembang dan tidak lagi terbatas pada U-Ditch. Beragam produk precast untuk kebutuhan konstruksi dan infrastruktur mulai dikembangkan.

Dari sinilah muncul gagasan yang lebih besar: bagaimana industri lokal tidak sekadar menjadi pemasok material, tetapi ikut mengambil bagian dalam rantai ekonomi pembangunan.

Dari U-Ditch Merambah Saluran Irigasi

Salah satu produk yang kemudian dikembangkan Rabanton adalah L-Shape, produk beton untuk kebutuhan saluran persawahan dan irigasi.

Menurut Menlu, produk tersebut sebelumnya digunakan di Bali di bawah Balai Wilayah Sungai Bali-Penida.

Kini, produk serupa mulai digunakan di Banyuwangi melalui skema swakelola yang dikerjakan kelompok tani.

Perubahan itu menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur di daerah memiliki ruang yang cukup besar bagi industri lokal.

Namun, kedekatan lokasi saja tidak cukup.

Produk lokal harus mampu menjawab kebutuhan proyek dari sisi kualitas, harga, kapasitas produksi, dan ketepatan waktu. Tanpa empat hal tersebut, gagasan kemandirian infrastruktur akan sulit berkembang menjadi ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Menjaga Mutu, Mengejar Standar

Rabanton menyebut telah membangun sistem pengujian internal melalui laboratorium beton.

Pengujian dilakukan mulai dari bahan baku hingga produk jadi sebelum dipasarkan. Perusahaan juga menyebut produknya telah memenuhi uji SNI sejak 2021.

Standar tersebut menjadi penting karena industri precast berhadapan langsung dengan kebutuhan konstruksi dan infrastruktur yang menuntut konsistensi mutu.

Artinya, tantangan Rabanton tidak berhenti pada kemampuan memproduksi beton dalam jumlah besar. Industri lokal juga harus mampu memastikan setiap produk yang keluar dari pabrik memenuhi standar dan dapat dikirim sesuai kebutuhan proyek.

Di titik inilah persaingan industri precast menjadi lebih luas. Bukan hanya soal siapa yang bisa membuat beton, tetapi siapa yang mampu membangun sistem produksi yang efisien dan kompetitif.

Ketika Beton Menjadi Penggerak Ekonomi

Gagasan Rabanton pada akhirnya membawa pembicaraan pembangunan ke persoalan yang lebih besar: rantai pasok lokal.

Sebuah proyek infrastruktur memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar daripada material yang terlihat secara fisik. Di belakangnya terdapat tenaga kerja, distribusi, jasa angkutan, pemasok bahan baku, hingga aktivitas ekonomi lain yang ikut bergerak.

Jika sebagian kebutuhan material bisa dipenuhi industri lokal, maka peluang agar nilai ekonomi tersebut ikut tinggal di daerah menjadi lebih besar.

“Dengan adanya pabrikasi precast lokal, didorong kebijakan pemerintah untuk belanja kebutuhan di daerah masing-masing, maka akan tercipta siklus kemandirian infrastruktur,” ujar Menlu.

Bagi Banyuwangi, keberadaan industri seperti Rabanton sekaligus membuka pertanyaan yang lebih strategis: seberapa banyak kebutuhan pembangunan daerah yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri?

Sebab ketika beton dibuat di Banyuwangi untuk membangun Banyuwangi, yang bergerak bukan hanya material.

Ada tenaga kerja yang terserap. Ada kendaraan yang mengangkut. Ada bahan baku yang dibeli. Ada usaha pendukung yang ikut hidup.

Dan pada akhirnya, ada satu harapan yang ingin dibangun Rabanton: uang pembangunan tidak sekadar habis menjadi beton, tetapi ikut berputar menjadi aktivitas ekonomi di daerah. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
Industri Banyuwangi Rabanton Banyuwangi Beton precast Infrastruktur lokal U-Ditch Banyuwangi