IHSG Turun 0,90 Persen, 558 Saham Melemah dan Semua Sektor Masuk Zona Merah

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 18:07 WIB
Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia. IHSG ditutup turun 0,90 persen ke level 6.241,89 pada Jumat, 25 September 2026, dengan seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia. IHSG ditutup turun 0,90 persen ke level 6.241,89 pada Jumat, 25 September 2026, dengan seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. (ChatGPT)

IHSG gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan Jumat, 25 September 2026. Sebanyak 558 saham turun dan seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. Area 6.200 kini menjadi level penting menjelang perdagangan awal pekan.


RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan dengan tekanan. Jumat, 25 September 2026, indeks turun 56,71 poin atau 0,90 persen ke level 6.241,89.

Data perdagangan yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan pelemahan terjadi secara luas. Sebanyak 558 saham berakhir turun. Hanya 118 saham yang menguat. Sebanyak 117 saham lainnya tidak berubah.

Seluruh 11 indeks sektoral juga ditutup di zona merah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya mengenai beberapa saham berkapitalisasi besar. Sebagian besar saham di bursa ikut melemah.

Mengacu pada data perdagangan yang dilaporkan Bisnis, IHSG sebenarnya mengawali Jumat dengan optimistis. Pada pukul 09.01 WIB, indeks menguat 0,28 persen ke 6.316,22. Saat itu, sebanyak 220 saham naik dan 155 saham turun.

Indeks kemudian sempat mencapai 6.328,41. Namun, penguatan tidak bertahan lama. Pada akhir sesi pertama, IHSG sudah berbalik turun 0,55 persen ke 6.263,73.

Tekanan berlanjut hingga penutupan.

Sepanjang Jumat, volume perdagangan mencapai sekitar 33,3 miliar saham. Frekuensi transaksi sekitar 1,63 juta kali dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 triliun.

Area 6.200 Sudah Diingatkan

Tekanan terhadap IHSG sebenarnya sudah diperkirakan sejumlah analis sebelum pasar dibuka.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, sebagaimana dikutip ANTARA, memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji area psikologis 6.200.

“Diperkirakan IHSG kembali menguji level 6.186–6.200 pada perdagangan Jumat,” ujar Ratna.

Perkiraan itu hampir terwujud. IHSG memang belum menembus 6.200, tetapi sudah turun mendekati area tersebut.

Dalam riset hariannya, CGS International Sekuritas juga menempatkan area penopang IHSG di 6.181 dan 6.240. Adapun area hambatan berada di 6.360 dan 6.415.

CGS International menilai tekanan terhadap indeks datang dari beberapa faktor sekaligus.

Berlanjutnya aksi jual investor asing, melemahnya nilai tukar rupiah, dan koreksi mayoritas indeks di Wall Street diperkirakan menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Penutupan Jumat di 6.241,89 membuat posisi IHSG hanya sedikit di atas area penopang 6.240 yang diproyeksikan CGS International.

Semua Sektor Masuk Zona Merah

Data perdagangan menunjukkan sektor industri mencatat penurunan terdalam, yakni sekitar 2,52 persen. Infrastruktur turun 2,22 persen. Sektor transportasi melemah 1,84 persen.

Teknologi terkoreksi sekitar 1,73 persen. Barang konsumen primer turun 1,37 persen, properti 1,26 persen, energi 1,18 persen, barang konsumen siklikal 1,03 persen, dan bahan baku 0,97 persen.

Sektor kesehatan turun 0,77 persen. Keuangan menjadi sektor yang melemah paling tipis, sekitar 0,45 persen.

Tidak ada satu pun sektor yang mampu bertahan di zona hijau.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga tercatat menjadi salah satu saham pemberat indeks. Namun, gambaran yang lebih penting terlihat dari keseluruhan pasar.

Jumlah saham yang turun mencapai 558. Angka itu hampir lima kali lebih banyak dibandingkan 118 saham yang naik.

Tiga Tekanan Utama

Ada tiga data yang menjelaskan mengapa pelemahan Jumat patut dicermati.

Pertama, keluasan pasar sangat negatif. Tekanan terjadi di hampir seluruh sektor dan sebagian besar saham.

Kedua, IHSG gagal bertahan di atas 6.300.

Indeks sempat menyentuh 6.328 pada awal perdagangan. Namun, pembeli tidak mampu mempertahankan momentum. IHSG justru ditutup jauh lebih rendah di 6.241.

Ketiga, tekanan dari luar negeri belum mereda.

Data pasar yang dikutip Pasardana menunjukkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,198 persen sebelum bergerak di kisaran 5,1 persen. Level tersebut termasuk salah satu yang tertinggi sejak 2007. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun bahkan menembus 5,44 persen.

Pasardana juga mencatat harga minyak Brent masih berada di sekitar USD 107 per barel di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Kombinasi itu kurang menguntungkan bagi pasar negara berkembang.

Imbal hasil obligasi AS yang tinggi membuat aset berbasis dolar lebih menarik. Sementara itu, harga minyak yang mahal meningkatkan risiko inflasi dan beban impor energi.

The Fed Masih Waspadai Inflasi

Tekanan eksternal bertambah setelah Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Berdasarkan pernyataan resmi Federal Open Market Committee (FOMC), pada 16 September 2026 target federal funds rate dinaikkan 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat dengan suara 12-0.

The Fed menilai inflasi masih perlu mendapat perhatian.

“Inflasi masih berada pada level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen dengan lebih tepat waktu,” demikian pernyataan FOMC.

Federal Reserve juga menaikkan bunga atas saldo cadangan menjadi 3,90 persen dan primary credit rate menjadi 4 persen, efektif mulai 17 September 2026.

Bagi pasar negara berkembang, kebijakan tersebut memperketat persaingan mendapatkan modal global.

Investor internasional kini memiliki pilihan aset dolar dengan imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko relatif lebih rendah.

BI Tahan Suku Bunga

Di dalam negeri, Bank Indonesia mengambil langkah berbeda.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan di 6,50 persen.

Bank Indonesia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak terlepas dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” tulis BI dalam siaran pers hasil Rapat Dewan Gubernur.

BI juga menyatakan kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027 sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Penilaian BI mengenai tekanan eksternal itu sejalan dengan kondisi yang dihadapi pasar saham dalam beberapa hari terakhir.

IHSG harus menghadapi kenaikan bunga AS, imbal hasil Treasury di atas 5 persen, harga minyak tinggi, serta ketidakpastian geopolitik.

Rupiah Tetap Jadi Perhatian

Nilai tukar juga menjadi salah satu indikator yang terus dipantau investor.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan rupiah pada Kamis, 24 September 2026, berada di Rp17.898 per dolar AS.

Posisi rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat pasar semakin sensitif terhadap pergerakan modal asing.

Bagi investor global, keuntungan dari saham Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perubahan harga saham. Pergerakan kurs juga memengaruhi hasil investasi setelah dikonversi kembali ke dolar AS.

Karena itu, stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor penting untuk memperbaiki sentimen investor asing.

Asing Jual Rp1,49 Triliun

Tekanan arus modal sudah terlihat sehari sebelumnya.

Berdasarkan data transaksi yang dilaporkan Kontan, pada Kamis, 24 September, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler. Jika seluruh pasar dihitung, penjualan bersih mencapai sekitar Rp1,49 triliun.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran jual.

CGS International juga memasukkan kelanjutan aksi jual asing sebagai salah satu sentimen negatif bagi IHSG menjelang perdagangan Jumat.

Sampai akhir sesi pertama Jumat, data transaksi menunjukkan investor asing masih mencatatkan jual bersih sekitar Rp355,78 miliar.

Namun, angka tersebut baru menggambarkan transaksi hingga siang. Nilai itu bukan angka jual bersih final sepanjang perdagangan Jumat.

Likuiditas Domestik Masih Tumbuh

Di tengah tekanan pasar saham, data ekonomi domestik belum seluruhnya melemah.

Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.448,1 triliun pada Agustus 2026. Jumlah tersebut tumbuh 8,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Agustus 2026,” demikian keterangan Bank Indonesia.

BI juga mencatat penyaluran kredit tumbuh 13,3 persen secara tahunan pada Agustus. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 13,0 persen pada Juli.

Data tersebut tentu tidak otomatis membuat IHSG segera berbalik naik.

Namun, ada perbedaan antara tekanan di pasar keuangan dan kondisi likuiditas perekonomian.

Pasar saham sedang menghadapi penurunan selera risiko dan tekanan global. Di sisi lain, uang beredar dan penyaluran kredit dalam negeri masih tumbuh.

Kondisi itulah yang menjadi salah satu penyangga fundamental domestik.

Dalam Sepekan Susut 3,09 Persen

Koreksi Jumat membuat kinerja mingguan IHSG semakin dalam.

Berdasarkan data penutupan perdagangan, pada Jumat, 18 September 2026, IHSG masih berada di level 6.441,16. Sepekan kemudian, indeks berakhir di 6.241,89.

Artinya, IHSG kehilangan sekitar 199 poin atau 3,09 persen dalam sepekan.

Pergerakan selama sepekan juga menunjukkan volatilitas yang tinggi.

Pada Rabu, 23 September, IHSG sempat melonjak 1,56 persen ke 6.374,91. Data perdagangan saat itu menunjukkan seluruh 11 sektor ditutup menguat.

Situasi berubah sehari kemudian.

Pada Kamis, IHSG turun 1,20 persen ke 6.298,61. Sebanyak 462 saham melemah, 188 menguat, dan 144 tidak berubah. Semua sektor kembali masuk zona merah.

Koreksi berlanjut pada Jumat.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa rebound pada Rabu belum cukup untuk mengubah arah pasar dalam jangka sangat pendek.

Senin, Harga Saham Bisa Mulai Rp1

Perdagangan Senin, 28 September 2026, juga bakal diwarnai aturan baru Bursa Efek Indonesia.

BEI akan menerapkan perubahan harga minimum saham di pasar reguler dan pasar tunai. Batas yang sebelumnya Rp50 diturunkan menjadi Rp1 per saham.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa perubahan tersebut ditujukan untuk memperbaiki likuiditas dan proses pembentukan harga.

“Tidak ada lagi harga minimum Rp50. Tujuannya memberikan likuiditas dan pembentukan harga yang lebih baik,” kata Jeffrey sebagaimana dikutip dalam pemberitaan mengenai kebijakan baru BEI.

Menurut Jeffrey, saham yang selama ini tertahan di Rp50 nantinya dapat kembali bergerak mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran.

BEI juga menjelaskan bahwa perubahan harga minimum tersebut tidak berarti seluruh saham berharga rendah otomatis dapat ditransaksikan dengan mekanisme short selling.

Pada tahap awal, saham yang dapat ditransaksikan dengan mekanisme tersebut tetap dibatasi pada kelompok tertentu dalam indeks LQ45.

Perubahan harga minimum terutama akan berdampak pada saham yang sebelumnya tertahan di batas Rp50.

Karena aturan tersebut mulai berlaku Senin, aktivitas saham-saham berharga rendah berpotensi menyita perhatian pelaku pasar.

Level 6.200 Jadi Ujian

Secara teknikal, area sekitar 6.200 kini semakin penting.

Dalam riset menjelang perdagangan Jumat, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji rentang 6.208–6.258.

CGS International menempatkan area penopang di 6.181 dan 6.240. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks berpeluang menguji 6.186–6.200.

Dengan penutupan di 6.241,89, sejumlah level tersebut kini semakin dekat.

Namun, area penopang bukan jaminan bahwa indeks pasti berhenti turun.

Level teknikal hanya menjadi acuan untuk melihat apakah permintaan mulai cukup kuat menyerap tekanan jual.

Jika IHSG berbalik menguat, kawasan 6.300–6.330 menjadi hambatan terdekat. Jumat kemarin indeks sebenarnya sudah sempat masuk ke area tersebut, tetapi gagal bertahan.

Yang juga perlu diperhatikan adalah keluasan penguatan.

Kenaikan IHSG akan lebih meyakinkan jika jumlah saham yang naik ikut bertambah, tekanan sektoral mereda, rupiah lebih stabil, dan aksi jual asing mulai berkurang.

Kondisi itu belum terlihat pada perdagangan Jumat. Sebanyak 558 saham masih berakhir merah. Semua sektor juga melemah.

Karena itu, perhatian pasar pada Senin tidak hanya tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan area 6.200.

Investor juga akan mencermati rupiah, imbal hasil obligasi AS, harga minyak, arus dana asing, serta respons pasar terhadap penerapan harga minimum saham Rp1.

IHSG menutup pekan dalam tekanan. Namun, pertumbuhan kredit dan likuiditas domestik menunjukkan bahwa gejolak di pasar keuangan belum berarti seluruh fondasi ekonomi ikut melemah.

Perdagangan awal pekan akan menjadi ujian apakah area 6.200 mampu menahan tekanan atau justru kembali ditembus.


Catatan: Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar berdasarkan data yang tersedia hingga penutupan perdagangan Jumat, 25 September 2026. Artikel bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Saham Indonesia IHSG hari ini IHSG 25 September 2026 analisis IHSG ihsg turun