RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki perdagangan Jumat (25/9), dengan tekanan yang masih cukup kuat.
Setelah sehari sebelumnya turun 1,20 persen ke level 6.298,61, IHSG berpotensi kembali menguji area 6.208–6.258. Peluang untuk berbalik menguat tetap terbuka, tetapi pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat.
Tekanan datang dari dalam dan luar negeri. Rupiah masih melemah, investor asing mencatat penjualan bersih dalam jumlah besar, harga minyak dunia naik, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tetap tinggi.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas melihat area 6.322–6.344 sebagai zona penguatan terdekat.
“Area penguatan terdekat IHSG berada di 6.322–6.344,” tulis MNC Sekuritas dalam MNCS Daily Scope Wave edisi 25 September 2026.
Karena itu, kemampuan IHSG kembali menembus zona tersebut akan menjadi salah satu penanda apakah tekanan jual mulai mereda.
Data Pasar Sebelum Perdagangan
Sejumlah indikator penting patut diperhatikan sebelum perdagangan Jumat dibuka.
- IHSG ditutup di level 6.298,61 atau turun 1,20 persen.
- JISDOR berada di Rp17.898 per dolar AS.
- Investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler.
- S&P 500 turun tipis 0,02 persen ke 7.704,13.
- Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen ke 51.349,98.
- Nasdaq Composite naik tipis 0,01 persen ke 26.939,37.
- Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,16 persen.
Pada perdagangan Kamis (24/9), IHSG kehilangan 76,31 poin atau 1,20 persen. Indeks ditutup di level 6.298,61 setelah sepanjang sesi bergerak di kisaran 6.287–6.368.
Tekanan terjadi cukup merata. Pelemahan tidak hanya berasal dari satu atau dua saham berkapitalisasi besar, tetapi juga tercermin pada buruknya breadth pasar.
Kondisi tersebut membuat peluang rebound pada Jumat akan lebih meyakinkan apabila disertai perbaikan pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, dan berkurangnya tekanan jual investor asing.
Asing Net Sell Rp1,42 Triliun
Arus dana asing menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian.
Investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler pada Kamis. Angka itu membesar dibandingkan sehari sebelumnya yang sekitar Rp468,26 miliar.
Nilai pembelian asing tercatat sekitar Rp2,48 triliun. Sementara itu, nilai penjualannya mencapai Rp3,90 triliun.
BMRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai net sell sekitar Rp531 miliar. Tekanan juga terlihat pada BBRI dan sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya.
Besarnya tekanan asing penting karena saham-saham tersebut memiliki bobot tinggi terhadap IHSG.
Jika penjualan asing mulai berkurang sejak sesi pertama, peluang IHSG bertahan di atas support akan membaik. Sebaliknya, net sell yang kembali membesar dapat memperpanjang fase koreksi.
Rupiah Mendekati Rp17.900 per Dolar AS
Tekanan lain datang dari pasar valuta asing.
Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR pada 24 September 2026 berada di level Rp17.898 per dolar AS. Sehari sebelumnya, JISDOR masih berada di Rp17.803 per dolar AS.
Pada 11 September 2026, JISDOR bahkan masih berada di kisaran Rp17.611 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah meningkat dalam waktu relatif singkat.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility 6,50 persen.
Bank Indonesia menegaskan stabilitas nilai tukar masih menjadi perhatian utama.
“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” demikian pernyataan Bank Indonesia.
Pernyataan tersebut penting bagi pasar saham karena pergerakan rupiah berkaitan erat dengan arus modal asing.
Rupiah yang stabil dapat mengurangi persepsi risiko terhadap aset domestik. Sebaliknya, pelemahan lebih lanjut di atas Rp17.900 per dolar AS berpotensi membuat investor mengambil posisi lebih defensif.
Bank Indonesia juga terus menggunakan instrumen pasar valuta asing, termasuk transaksi DNDF, untuk mendukung stabilisasi rupiah.
Wall Street Datar, Yield AS Masih Tinggi
Dari Amerika Serikat, Wall Street memberikan sinyal yang relatif netral.
S&P 500 ditutup turun tipis 0,02 persen ke level 7.704,13. Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen menjadi 51.349,98. Sementara itu, Nasdaq Composite naik tipis 0,01 persen menjadi 26.939,37.
Pergerakan yang cenderung datar menunjukkan tekanan di pasar saham AS mulai mereda.
Namun, persoalan utama justru datang dari pasar obligasi dan energi.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih berada di sekitar 5,16 persen. Yield tenor 30 tahun bahkan sempat berada di level tertinggi sejak 2004.
Senior Investment Director U.S. Bank Wealth Management Bill Northey menilai pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi harga minyak dan inflasi.
“Pada dasarnya, semuanya berkaitan dengan harga minyak, inflasi, dan dampaknya terhadap suku bunga,” kata Northey dalam komentar yang dikutip Reuters.
Hubungannya cukup jelas. Harga minyak yang tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi. Inflasi yang sulit turun akan memberi alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Kondisi tersebut dapat mendorong yield obligasi tetap tinggi dan menekan valuasi saham.
Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yield Treasury yang tinggi juga meningkatkan persaingan dalam menarik modal global.
Harga Minyak Menjadi Risiko Sekaligus Peluang
Harga minyak juga menjadi variabel penting.
Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga Brent kembali berada di atas US$100 per barel. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi salah satu pemicu utama.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki dua sisi.
Dari sisi sektoral, harga minyak tinggi dapat menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten energi dan bisnis berbasis komoditas.
Namun, dari sisi makroekonomi, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor, tekanan inflasi, kebutuhan devisa, dan tekanan terhadap rupiah.
Artinya, penguatan saham energi belum tentu cukup untuk mendorong IHSG apabila rupiah dan saham-saham perbankan masih berada di bawah tekanan.
The Fed Masih Ketat
Tekanan eksternal juga datang dari kebijakan Federal Reserve.
Federal Open Market Committee pada 16 September 2026 menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen.
Keputusan tersebut menunjukkan The Fed masih melihat inflasi sebagai persoalan utama.
“Inflasi masih berada pada level tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen dalam waktu yang lebih tepat,” demikian pernyataan resmi Federal Reserve.
Sikap tersebut memberi sinyal bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter AS masih terbatas.
Bagi IHSG, suku bunga dolar yang tinggi menjadi tantangan karena investor global memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil menarik dan risiko lebih rendah.
Kondisi itu dapat membuat pasar negara berkembang harus menawarkan premi risiko yang lebih tinggi untuk menarik modal.
Prediksi IHSG Jumat 25 September 2026
Secara teknikal, area 6.200-an menjadi zona penting pada perdagangan Jumat.
MNC Sekuritas menilai koreksi IHSG telah membawa indeks menembus moving average 60 hari atau MA60.
Dalam analisis teknikalnya, IHSG diperkirakan berpotensi menguji area 6.208–6.258 terlebih dahulu.
MNC Sekuritas menempatkan support di level 6.267 dan 6.108. Sementara itu, resistance berada di level 6.440 dan 6.535.
Area penguatan terdekat berada di kisaran 6.322–6.344.
Pandangan mengenai pentingnya zona 6.200-an juga sebelumnya disampaikan Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari.
“Jika level 6.370 ditembus ke bawah, IHSG berpotensi menguji area 6.200–6.279,” kata Brigita.
IHSG kini sudah berada di bawah 6.370. Karena itu, zona 6.200-an menjadi semakin relevan sebagai area pengujian jangka pendek.
Berdasarkan kondisi teknikal, arus asing, rupiah, serta sentimen global, terdapat tiga skenario yang patut dicermati.
Skenario Dasar: Uji 6.208–6.258
Skenario dasar adalah IHSG kembali menguji area 6.208–6.258.
Skenario ini cukup masuk akal setelah indeks ditutup di 6.298,61 dan tekanan jual masih terlihat.
Pergerakan menuju area tersebut belum otomatis menandakan koreksi yang lebih dalam. Respons pembeli di sekitar zona 6.200-an justru akan menentukan apakah support mampu bertahan.
Skenario Rebound: Tembus 6.322–6.344
Peluang technical rebound terbuka apabila tekanan jual mereda, rupiah lebih stabil, dan arus asing membaik.
Konfirmasi awal penguatan berada di area 6.322–6.344.
Apabila zona tersebut mampu ditembus dan dipertahankan, perhatian berikutnya beralih ke resistance 6.440.
Artinya, kenaikan tipis sejak pembukaan belum cukup untuk menyatakan fase koreksi berakhir. IHSG perlu bertahan di atas resistance terdekat untuk memperbaiki struktur teknikal jangka pendek.
Skenario Bearish: 6.208 Tembus
Risiko koreksi menjadi lebih besar apabila IHSG menembus 6.208 dan gagal kembali ke atas level tersebut.
Dalam kondisi itu, level psikologis 6.200 menjadi area pertahanan terdekat.
Jika tekanan masih berlanjut, perhatian berikutnya bergeser ke support di sekitar 6.108.
Skenario ini akan semakin kuat apabila penurunan IHSG berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah dan membesarnya kembali net sell asing.
Empat Indikator yang Perlu Dicermati
Ada empat indikator utama yang layak diperhatikan sejak sesi pertama.
Pertama, rupiah. Stabilitas USD/IDR dapat menjadi petunjuk penting terhadap persepsi risiko aset domestik.
Kedua, arus dana asing. Setelah net sell sekitar Rp1,42 triliun pada Kamis, perubahan foreign flow akan menjadi salah satu indikator awal arah pasar.
Ketiga, saham perbankan besar. Pergerakan BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI berpengaruh besar terhadap IHSG karena bobot kapitalisasinya.
Keempat, harga minyak dan saham energi. Harga minyak di atas US$100 per barel dapat membantu saham sektor energi, tetapi tetap membawa risiko terhadap inflasi dan rupiah.
IHSG Masih Rawan Volatil
IHSG pada Jumat, 25 September 2026, diperkirakan masih bergerak volatil. Tekanan koreksi belum sepenuhnya berakhir.
Indeks terakhir berada di level 6.298,61 setelah turun 1,20 persen.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari penjualan bersih asing sekitar Rp1,42 triliun dan JISDOR yang melemah ke Rp17.898 per dolar AS.
Dari luar negeri, pelaku pasar masih menghadapi harga minyak tinggi, yield Treasury AS sekitar 5,16 persen, dan kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap ketat.
Secara teknikal, area 6.208–6.258 menjadi zona pengujian penting.
Selama area 6.200-an mampu menahan tekanan jual, peluang technical rebound masih terbuka. Konfirmasi awal penguatan berada di sekitar 6.322–6.344. Resistance berikutnya berada di 6.440.
Sebaliknya, penembusan di bawah 6.208 akan meningkatkan risiko pengujian level 6.200. Jika tekanan terus berlanjut, support berikutnya berada di sekitar 6.108.
Arah perdagangan Jumat karena itu tidak cukup dilihat hanya dari posisi pembukaan.
Stabilitas rupiah, perubahan arus dana asing, pergerakan saham perbankan besar, harga minyak, dan yield Treasury AS akan menentukan apakah tekanan berlanjut atau pembeli mulai mengambil kendali.
Catatan: Artikel ini merupakan analisis informasi pasar berdasarkan data yang tersedia sebelum pembukaan perdagangan Jumat, 25 September 2026. Tulisan ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan, horizon investasi, dan profil risiko masing-masing investor.
Editor : Lugas Rumpakaadi