IHSG kembali melemah pada Kamis (24/9). Rebound sehari sebelumnya belum mampu bertahan karena tekanan jual investor asing, pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta mahalnya harga minyak.
RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali kehilangan tenaga pada perdagangan Kamis (24/9). Setelah sehari sebelumnya melonjak 1,56 persen ke level 6.374,91, indeks berbalik turun sekitar 1,2 persen dan ditutup di kisaran 6.300.
IHSG bahkan sempat menyentuh level 6.287,46. Artinya, hampir seluruh penguatan pada perdagangan Rabu kembali terpangkas hanya dalam satu hari.
Namun, persoalan utama pasar bukan sekadar penurunan indeks.
Rebound pada Rabu ternyata belum mendapat dukungan dari arus dana investor asing. Ketika IHSG melonjak 1,56 persen, investor asing justru masih membukukan jual bersih Rp468,26 miliar di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp461,35 miliar.
BBRI menjadi salah satu saham yang banyak dilepas dengan nilai jual bersih sekitar Rp187,64 miliar. Tekanan serupa berlanjut pada Kamis.
Hingga penutupan sesi pertama, investor asing telah mencatatkan jual bersih sekitar Rp987 miliar. BMRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas dengan nilai sekitar Rp237,12 miliar. Setelah itu menyusul BBRI sekitar Rp90,69 miliar dan TLKM Rp76,70 miliar.
Data tersebut memang baru mencerminkan perdagangan hingga sesi pertama. Namun, arahnya memberi sinyal yang jelas: rebound IHSG belum diikuti kembalinya dana asing.
Rebound belum mendapat konfirmasi
Kenaikan indeks tanpa dukungan arus dana asing bukan berarti reli pasti berakhir. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar belum cukup kuat untuk mengubah arah pasar.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai arus dana asing tetap menjadi faktor penting.
“Keberlanjutan rebound IHSG akan sangat bergantung pada stabilisasi rupiah dan, yang terpenting, kembalinya permintaan investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid,” ujar Rully.
Pernyataan itu sejalan dengan kondisi perdagangan dalam dua hari terakhir.
Saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan TLKM memiliki bobot besar terhadap IHSG. Saham tersebut juga menjadi instrumen utama investor institusi asing untuk memperoleh eksposur terhadap pasar Indonesia.
Ketika investor asing mengurangi kepemilikan pada saham-saham tersebut, kenaikan IHSG menjadi lebih sulit bertahan.
Karena itu, kualitas rebound berikutnya tidak cukup dinilai hanya dari warna hijau pada indeks. Pasar juga perlu melihat apakah tekanan jual asing mulai mereda.
Jika indeks naik tetapi investor asing tetap agresif menjual saham-saham utama, reli masih rentan berumur pendek.
Rupiah kembali mendekati Rp18.000
Tekanan terhadap pasar saham terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah.
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.864 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.818 per dolar AS. Menjelang akhir perdagangan, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Posisi tersebut kembali membawa rupiah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Bagi investor asing, nilai tukar menjadi bagian penting dalam menghitung hasil investasi. Keuntungan dari kenaikan harga saham dalam rupiah bisa berkurang apabila pada saat yang sama nilai rupiah melemah terhadap dolar AS.
Karena itu, pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan jual bersih asing menambah tekanan terhadap pasar saham.
Faktor lain datang dari kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent kembali berada di atas USD 100 per barel. Kontrak Brent untuk pengiriman November sebelumnya ditutup naik 3,86 persen menjadi USD 103,08 per barel.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai kenaikan tersebut dipengaruhi perkembangan geopolitik.
“Harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian,” kata Lukman.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki dampak yang lebih luas. Kebutuhan impor energi dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, harga minyak yang tinggi berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi dan fiskal.
Kombinasi harga minyak yang tinggi, dolar AS yang kuat, dan keluarnya modal asing menjadi lingkungan yang kurang bersahabat bagi rupiah maupun IHSG.
BI tahan bunga, fokus tetap pada rupiah
Sehari sebelum IHSG kembali terkoreksi, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen.
Rapat Dewan Gubernur BI pada 22–23 September 2026 juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Keputusan tersebut memberikan kepastian kepada pasar. Namun, penjelasan BI menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar masih menjadi perhatian utama.
Bank Indonesia menyebut kondisi global masih menghadapi “tekanan eksternal yang masih kuat”.
BI juga menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan inflasi berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Selain melalui suku bunga, BI memperkuat kebijakan stabilisasi di pasar valuta asing.
Pada 24 September, BI juga membuka transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai investasi portofolio dalam pasangan USD/IDR untuk tenor enam bulan dan 12 bulan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa mempertahankan suku bunga tidak berarti tekanan terhadap rupiah telah selesai.
Sebaliknya, stabilitas nilai tukar masih menjadi salah satu pusat kebijakan moneter.
The Fed menambah tekanan
Tantangan dari luar negeri juga meningkat setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga.
Pada 16 September 2026, Federal Open Market Committee menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.
Keputusan tersebut disetujui dengan suara 12-0.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menegaskan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
“Inflasi masih tinggi,” tulis Federal Reserve dalam pernyataannya.
Kenaikan suku bunga itu kemudian diikuti peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Data Departemen Keuangan Amerika Serikat menunjukkan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik dari 4,96 persen pada 22 September menjadi 5,11 persen pada 23 September.
Kenaikan 15 basis poin dalam satu hari tergolong besar untuk obligasi pemerintah AS.
Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, pergerakan tersebut penting.
Ketika obligasi pemerintah AS memberikan imbal hasil lebih tinggi, investor global memperoleh alternatif investasi dalam dolar AS dengan risiko relatif lebih rendah. Aset negara berkembang pun harus menawarkan imbal hasil dan premi risiko yang lebih menarik agar modal tetap bertahan.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan rupiah, obligasi domestik, dan saham.
Wall Street juga ikut terkoreksi. S&P 500 turun sekitar 0,75 persen, Nasdaq Composite melemah 1,13 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi sekitar 0,68 persen.
Dengan latar belakang tersebut, IHSG memasuki perdagangan Kamis dalam kondisi global yang memang tidak kondusif.
Tekanan menyebar ke banyak sektor
Koreksi IHSG juga tidak hanya disebabkan satu atau dua saham berkapitalisasi besar.
Sejak sesi pertama, seluruh indeks sektoral berada di zona merah. Sektor barang baku turun sekitar 1,68 persen, industri 1,62 persen, properti 1,30 persen, teknologi 1,17 persen, energi 1,15 persen, dan keuangan 0,75 persen.
Jumlah saham yang melemah juga jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat.
Pada sesi pagi saja, 453 saham berada di zona merah. Hanya 171 saham yang menguat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual menyebar cukup luas.
Hal itu berbeda dengan penurunan indeks yang hanya dipicu satu saham dengan bobot besar. Ketika hampir seluruh sektor bergerak turun secara bersamaan, sentimen menghindari risiko atau risk-off berarti telah menjalar ke banyak kelompok saham.
Sektor keuangan tetap perlu diperhatikan secara khusus. Selain memiliki bobot besar terhadap IHSG, saham perbankan juga banyak dimiliki investor asing.
Area 6.290 jadi penentu
Dari sisi teknikal, koreksi Kamis sebenarnya sudah masuk dalam skenario yang diperkirakan sejumlah analis sebelum perdagangan dimulai.
Riset Kiwoom Sekuritas mencatat IHSG masih berada di bawah EMA 10, EMA 20, dan EMA 50 meskipun pada Rabu sempat naik 1,56 persen. Indikator RSI 14 hari juga masih berada di bawah level 50.
Kondisi tersebut menunjukkan momentum kenaikan belum terbentuk kuat.
“Apabila level penopang 6.347 kembali ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju area 6.290–6.180," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Skenario itu mulai terlihat pada perdagangan Kamis. IHSG turun menembus 6.347 dan sempat menyentuh sekitar 6.287.
Karena itu, area 6.290–6.300 kini menjadi zona penting.
Jika IHSG mampu bertahan di kawasan tersebut dan kembali membentuk permintaan, peluang rebound masih terbuka.
Sebaliknya, jika level 6.290 ditembus secara meyakinkan, pasar berpotensi menguji area penopang yang lebih rendah.
Di sisi atas, IHSG perlu kembali merebut area 6.422–6.451 sebelum momentum jangka pendek dapat dinilai lebih konstruktif.
Level teknikal itu sebaiknya dipahami sebagai zona, bukan angka mutlak. Pergerakan indeks tetap sangat dipengaruhi rupiah, arus dana asing, dan kondisi pasar global.
Mengapa rebound hanya bertahan sehari?
Jika seluruh faktor dirangkai, penyebab kegagalan rebound IHSG terlihat cukup jelas.
Indeks memang naik 1,56 persen pada Rabu setelah keputusan BI. Namun, pada hari yang sama investor asing masih membukukan jual bersih Rp468,26 miliar di pasar reguler.
Sehari kemudian, tekanan jual asing berlanjut. Rupiah juga kembali melemah mendekati Rp17.900 per dolar AS.
Dari luar negeri, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik hingga 5,11 persen setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga. Pada saat yang sama, harga minyak Brent kembali bertahan di atas USD 100 per barel.
Pasar domestik akhirnya menerima tekanan dari beberapa arah sekaligus.
Itulah sebabnya rebound sehari sebelumnya belum cukup kuat untuk disebut sebagai awal pembalikan tren.
Tiga hal yang perlu dicermati
Arah IHSG setelah perdagangan Kamis akan sangat dipengaruhi tiga faktor.
Pertama, arus dana asing. Pemulihan indeks akan memiliki fondasi lebih kuat apabila nilai jual bersih asing mulai mengecil atau berubah menjadi beli bersih, terutama pada saham-saham bank dan emiten berkapitalisasi besar.
Kedua, rupiah. Kemampuan mata uang domestik bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah tekanan eksternal mulai terkendali.
Ketiga, imbal hasil Treasury AS dan arah kebijakan Federal Reserve. Selama imbal hasil obligasi AS bertahan tinggi, persaingan untuk menarik modal global akan tetap berat bagi negara berkembang.
Karena itu, pasar tidak cukup hanya melihat apakah IHSG kembali hijau.
Kenaikan indeks akan lebih meyakinkan apabila berlangsung bersamaan dengan stabilisasi rupiah dan kembalinya permintaan investor asing.
Di situlah perbedaan antara pantulan teknikal dan pemulihan yang memiliki fondasi lebih kuat.
Untuk sementara, perdagangan Kamis menunjukkan bahwa konfirmasi tersebut belum muncul.
Area 6.290–6.300 menjadi pertahanan terdekat. Namun, perubahan tren yang lebih meyakinkan membutuhkan lebih dari sekadar pantulan indeks. Pasar masih menunggu rupiah yang lebih stabil, tekanan jual asing yang mereda, dan pulihnya permintaan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer Bank Indonesia, Federal Reserve, dan U.S. Department of the Treasury, serta data dan pernyataan yang diberitakan Bloomberg Technoz, Katadata, Pasardana, dan ANTARA pada 24 September 2026. Tulisan ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek.
Editor : Lugas Rumpakaadi