RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menghadapi ujian baru pada perdagangan Kamis (24/9). Sehari sebelumnya, indeks melonjak 97,87 poin atau 1,56 persen ke level 6.374,91.
Kenaikan itu membawa IHSG mendekati level tertinggi perdagangan Rabu di 6.380,17. Artinya, peluang melanjutkan rebound masih terbuka. Namun, sentimen global yang memburuk membuat aksi ambil untung tetap perlu diwaspadai.
Secara teknikal, area 6.380–6.400 menjadi zona tahanan terdekat. Sementara itu, level 6.300 menjadi penopang psikologis yang perlu dijaga.
Jika IHSG mampu menembus 6.400 dengan dukungan saham-saham berkapitalisasi besar, indeks berpeluang melanjutkan rebound menuju 6.450–6.465.
Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan IHSG turun di bawah 6.300, indeks berpotensi kembali menguji area 6.250–6.275.
Gambaran perdagangan Kamis dapat diringkas sebagai berikut:
- Penutupan IHSG: 6.374,91, naik 1,56 persen
- Area tahanan terdekat: 6.380–6.400
- Area tahanan berikutnya: 6.450–6.465
- Area penopang: 6.300
- Area penopang berikutnya: 6.250–6.275
- Skenario utama: konsolidasi dengan risiko koreksi terbatas
- Sentimen positif: BI-Rate tetap, rupiah menguat, dan fundamental domestik relatif terjaga
- Risiko utama: Wall Street turun, imbal hasil Treasury AS naik, harga minyak menguat, dan investor asing masih membukukan jual bersih
IHSG Naik 1,56 Persen, Rebound Masih Perlu Pembuktian
IHSG menutup perdagangan Rabu (23/9) di level 6.374,91. Indeks naik 97,87 poin atau 1,56 persen. Indeks LQ45 juga menguat 1,21 persen menjadi 633,18.
Berdasarkan data perdagangan yang diberitakan ANTARA, sebanyak 464 saham menguat, 200 saham melemah, dan 299 saham tidak bergerak. Penguatan terjadi cukup luas, termasuk pada saham-saham perbankan dan komoditas.
Sektor barang baku mencatat kenaikan 3,44 persen. Sektor energi menguat 2,63 persen. Sementara itu, sektor barang konsumen nonprimer naik 2,56 persen.
Pergerakan sepanjang hari juga menunjukkan tenaga beli yang cukup kuat. IHSG sempat turun ke level 6.253,74 sebelum berbalik naik hingga 6.380,17. Indeks kemudian ditutup tidak jauh dari level tertingginya.
Kondisi itu menunjukkan pembeli masih mendominasi menjelang penutupan. Namun, level 6.380 kini sekaligus menjadi batas yang perlu ditembus untuk memastikan rebound berlanjut.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga menjadi salah satu katalis utama penguatan IHSG.
“Penguatan signifikan IHSG pada sesi II terutama didorong oleh hasil RDG BI yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” kata Nafan, dikutip ANTARA.
Menurut dia, keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap arah kebijakan moneter domestik ketika rupiah, harga minyak, dan kenaikan imbal hasil obligasi global masih membayangi pasar.
Kini, persoalan utama bergeser. Pasar tidak lagi sekadar menunggu rebound, tetapi menguji apakah kenaikan Rabu mampu bertahan ketika sentimen eksternal kembali memburuk.
BI Tahan Suku Bunga di 5,75 Persen
Dari dalam negeri, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22–23 September 2026 masih menjadi penopang utama.
BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan di 6,50 persen.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan keputusan tersebut dalam konferensi pers hasil RDG.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22 hingga 23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen,” ujar Destry.
Keputusan mempertahankan suku bunga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan biaya dana dalam jangka pendek.
Bagi sektor perbankan, stabilitas suku bunga juga memberikan kepastian lebih baik terhadap biaya dana, penyaluran kredit, dan margin bunga bersih.
Meski begitu, BI belum mengendurkan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Bank sentral tetap mengandalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward di luar negeri serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward di dalam negeri.
BI juga terus memperkuat insentif untuk menarik arus investasi portofolio asing.
Dengan demikian, keputusan menahan BI-Rate tidak berarti kebijakan moneter menjadi longgar. Fokus stabilisasi rupiah tetap menjadi prioritas.
Rupiah Menguat, JISDOR di Rp17.803
Pergerakan rupiah memberi sinyal yang relatif positif menjelang perdagangan Kamis.
Data Bank Indonesia menunjukkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu berada di Rp17.803 per dolar AS. Posisi itu menguat dibandingkan Rp17.883 per dolar AS pada Selasa (22/9/2026).
Di pasar spot, rupiah juga ditutup menguat menjadi sekitar Rp17.818 per dolar AS setelah BI memutuskan mempertahankan suku bunga.
Penguatan rupiah penting bagi pasar saham. Nilai tukar menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan investor global ketika menilai risiko aset Indonesia.
BI memperkirakan rupiah dapat tetap stabil dengan dukungan kebijakan bank sentral, tingkat imbal hasil aset domestik, inflasi yang terkendali, dan prospek ekonomi Indonesia.
Namun, tantangannya belum hilang.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat tajam. Kondisi itu berpotensi memperkuat daya tarik aset dolar dan membatasi aliran modal ke negara berkembang.
Karena itu, arah rupiah pada Kamis akan menjadi salah satu indikator penting. Rupiah yang tetap stabil dapat membantu meredam tekanan eksternal terhadap IHSG.
IHSG Menguat, Asing Belum Berbalik Arah
Ada satu catatan penting di balik lonjakan IHSG pada Rabu. Aliran dana asing belum memberikan konfirmasi penuh.
Investor asing masih mencatat jual bersih di pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan indeks belum sepenuhnya ditopang kembalinya dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar.
Situasi ini penting untuk diperhatikan.
Rebound akan menjadi lebih kuat jika kenaikan harga saham diikuti berkurangnya tekanan jual asing, terutama pada saham perbankan yang memiliki bobot besar terhadap IHSG.
Secara lebih luas, data Bank Indonesia justru menunjukkan arus portofolio asing ke Indonesia masih positif. Hingga 21 September 2026, investasi portofolio asing pada kuartal III mencatat arus masuk bersih sekitar US$0,4 miliar.
Arus tersebut terutama berasal dari penerbitan obligasi global pemerintah dan investasi di Surat Berharga Negara.
Dengan kata lain, minat asing terhadap aset Indonesia secara umum masih ada. Namun, alirannya belum sepenuhnya masuk ke pasar saham.
Fundamental Domestik Masih Menjadi Bantalan
Kondisi ekonomi dalam negeri masih memberikan penyangga bagi pasar.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen.
Cadangan devisa pada akhir Agustus tercatat US$146,5 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor.
Dari sektor perbankan, kredit pada Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu sedikit lebih tinggi dibandingkan 13,58 persen pada Juli.
Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi. Kredit modal kerja dan konsumsi juga tetap tumbuh.
Sementara itu, inflasi Indeks Harga Konsumen pada Agustus berada di level 3,19 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5 plus minus 1 persen.
Kombinasi pertumbuhan kredit, inflasi yang masih terkendali, dan BI-Rate yang tidak berubah memberi bantalan bagi pasar saham.
Masalahnya, sentimen domestik yang relatif stabil kini harus menghadapi tekanan yang lebih besar dari luar negeri.
Wall Street Memerah, Yield AS Melonjak
Tekanan terbesar pada perdagangan Kamis berpotensi datang dari Amerika Serikat.
Wall Street ditutup melemah pada Rabu waktu setempat. S&P 500 turun 0,75 persen menjadi 7.706,05. Nasdaq Composite merosot 1,13 persen ke 26.936,04. Dow Jones Industrial Average turun 0,68 persen menjadi 51.511,59.
Tekanan tersebut muncul bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil Treasury tenor dua tahun menyentuh level tertinggi sejak 2024. Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun mencapai posisi tertinggi sejak 2007.
Salah satu pemicunya adalah data aktivitas bisnis AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
Flash US Composite PMI naik menjadi 58,4 pada September dari 56,0 pada Agustus. Angka itu menunjukkan aktivitas bisnis AS tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari lima tahun.
Data ekonomi yang terlalu kuat justru menjadi dilema bagi pasar.
Semakin kuat ekonomi AS, semakin besar kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Pasar bahkan kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Reuters melaporkan, berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan bunga pada pertemuan Federal Reserve berikutnya berada di sekitar 71 persen.
Chief Investment Officer Founders 100 ETF Lauren Cassidy mengatakan penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang sangat diperhatikan pasar saham AS.
“Pasar saham menginginkan adanya penyelesaian konflik di Timur Tengah,” kata Cassidy kepada Reuters.
Menurut Cassidy, jika konflik tidak segera mereda, suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama dan terus membebani pasar saham.
Bagi Indonesia, kenaikan imbal hasil Treasury menjadi risiko karena meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Akibatnya, investor global dapat menjadi lebih selektif menempatkan dana di pasar negara berkembang.
The Fed Sudah Naikkan Suku Bunga
Tekanan tersebut makin relevan karena Federal Reserve baru menaikkan suku bunga.
Pada 16 September 2026, Federal Open Market Committee menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.
Keputusan tersebut diambil secara bulat dengan perolehan suara 12-0.
Dalam pernyataan resminya, Federal Reserve menegaskan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
“Inflasi masih tinggi,” demikian pernyataan Federal Reserve.
Bank sentral AS menyatakan kenaikan suku bunga diperlukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju sasaran 2 persen.
Federal Reserve juga menilai aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid, sementara ketidakpastian global tetap tinggi akibat perkembangan geopolitik.
Bagi pasar Indonesia, persoalannya bukan hanya kenaikan suku bunga yang telah terjadi. Pasar juga harus memperhitungkan kemungkinan pengetatan lanjutan jika data ekonomi AS tetap kuat.
Jika ekspektasi kenaikan bunga meningkat, imbal hasil Treasury berpotensi bertahan tinggi. Kondisi itu dapat menekan rupiah sekaligus menghambat aliran modal asing ke pasar saham.
Minyak Brent Kembali Tembus US$100
Harga minyak menjadi faktor lain yang perlu dicermati.
Minyak Brent berjangka naik US$3,83 atau 3,86 persen menjadi US$103,08 per barel pada Rabu. West Texas Intermediate naik US$1,64 atau 1,81 persen menjadi US$92,16 per barel.
Kenaikan terjadi ketika pelaku pasar kembali menghitung risiko gangguan pasokan akibat perkembangan konflik Iran-AS.
Bagi IHSG, kenaikan harga minyak membawa dua dampak berbeda.
Di satu sisi, saham-saham energi dan komoditas berpeluang mendapatkan sentimen positif. Hal itu terlihat pada perdagangan Rabu ketika sektor energi menguat 2,63 persen dan sektor barang baku naik 3,44 persen.
Di sisi lain, harga minyak yang terlalu tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi global.
Jika inflasi kembali naik, bank-bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Karena itu, kenaikan minyak dapat menjadi katalis bagi saham energi, tetapi sekaligus menjadi risiko bagi pasar secara keseluruhan.
Prediksi IHSG Kamis, 24 September 2026
Dengan mempertimbangkan faktor domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dengan risiko koreksi terbatas pada perdagangan Kamis.
Ada empat alasan utama.
Pertama, IHSG baru saja naik 1,56 persen dalam satu sesi. Kenaikan sebesar itu secara alami membuka ruang aksi ambil untung.
Kedua, keputusan BI mempertahankan suku bunga dan penguatan rupiah masih menjadi bantalan. Karena itu, tekanan jual belum tentu berkembang menjadi koreksi tajam.
Ketiga, pelemahan Wall Street dan kenaikan tajam imbal hasil Treasury AS menjadi sentimen negatif yang harus diperhitungkan sejak pembukaan.
Keempat, harga minyak yang kembali berada di atas US$100 per barel menciptakan sentimen campuran. Kondisi itu positif bagi sebagian saham energi, tetapi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Karena itu, area 6.300–6.400 menjadi zona penting pada perdagangan Kamis.
IHSG pada Rabu mencapai level tertinggi 6.380,17. Jika indeks mampu menembus level tersebut dan bertahan di atas 6.400, peluang melanjutkan rebound menuju 6.450–6.465 semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila aksi ambil untung meningkat dan IHSG turun di bawah 6.300, indeks berpotensi menguji kembali area 6.250–6.275.
Zona tersebut berdekatan dengan titik terendah perdagangan Rabu di 6.253,74. Karena itu, area tersebut dapat menjadi penopang teknikal berikutnya.
Nafan sebelumnya menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan rebound teknikal. Namun, pergerakannya tetap berpotensi volatil karena pasar harus memperhitungkan arah rupiah, imbal hasil Treasury AS, harga minyak, kebijakan Federal Reserve, dan arus dana asing.
Empat Sinyal yang Perlu Dipantau
Arah IHSG pada Kamis tidak cukup dilihat hanya dari apakah indeks berada di zona hijau atau merah.
Yang lebih penting adalah kualitas pergerakannya.
Pertama, rupiah perlu mempertahankan stabilitas. Penguatan nilai tukar akan membantu meredam kekhawatiran investor terhadap tekanan eksternal.
Kedua, tekanan jual asing perlu berkurang. Jika investor asing mulai kembali mengakumulasi saham berkapitalisasi besar, rebound IHSG mendapat dukungan yang lebih kuat.
Ketiga, area 6.380–6.400 perlu ditembus. Zona tersebut menjadi ujian teknikal terdekat setelah IHSG ditutup hampir di level tertinggi perdagangan Rabu.
Keempat, imbal hasil Treasury AS dan harga minyak harus terus dipantau. Kenaikan berlanjut pada dua instrumen tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama.
Jika rupiah stabil, tekanan jual asing berkurang, serta saham perbankan dan komoditas mampu mempertahankan momentum, IHSG masih mempunyai peluang melanjutkan rebound.
Sebaliknya, jika imbal hasil AS terus naik, rupiah kembali melemah, dan investor asing memperbesar penjualan, lonjakan IHSG pada Rabu dapat menjadi momentum aksi ambil untung.
Jadi, cerita utama perdagangan Kamis bukan lagi sekadar IHSG baru melonjak 1,56 persen.
Pasar kini menunggu satu jawaban. Mampukah rebound itu bertahan saat Wall Street melemah, imbal hasil Treasury melonjak, dan harga minyak kembali menembus US$100 per barel?
Catatan metodologi: Analisis menggunakan data penutupan dan rentang perdagangan IHSG pada 23 September 2026, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, JISDOR, indikator makroekonomi BI, kebijakan terbaru Federal Reserve, pergerakan Wall Street, imbal hasil Treasury AS, serta harga minyak dunia. Area penopang dan tahanan merupakan interpretasi teknikal berdasarkan pergerakan harga terbaru, bukan kepastian arah pasar.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi perlu mempertimbangkan tujuan, kondisi keuangan, jangka waktu investasi, dan profil risiko masing-masing investor.
Editor : Lugas Rumpakaadi